Bank Indonesia Soroti Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2025 yang Belum Merata

BI gelar Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Hotel Grand Mercure, Batam Center, Selasa (4/11/2025). (Foto-Diskominfo Kepri)
BI gelar Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Hotel Grand Mercure, Batam Center, Selasa (4/11/2025). (Foto-Diskominfo Kepri)

PRESMEDIA.ID– Bank Indonesia (BI) menilai, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sepanjang tahun 2025 menunjukkan fondasi makroekonomi yang kuat.

Hingga triwulan IV tahun ini, pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat mencapai 7,12 persen, sementara tingkat inflasi masih terkendali di bawah 3 persen.

Namun, di balik capaian tersebut, BI menyoroti pentingnya pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Kepri.

Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan BI Kepri, Ronny Widijarto, dalam acara Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Hotel Grand Mercure, Batam Center, Selasa (4/11/2025).

Forum ini menjadi ajang diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Kepri 2025, dengan tema “Unlocking Kepri’s Inclusive Growth Potential Through the Blue Economy”.

Tema ini menegaskan arah pembangunan Kepri yang berfokus pada ekonomi biru, dengan penguatan potensi maritim, perikanan, pariwisata bahari, serta keberlanjutan lingkungan sebagai pilar pertumbuhan jangka panjang.

“Pertumbuhan yang tinggi tentu membanggakan, tapi tanpa pemerataan, manfaatnya tidak akan dirasakan semua lapisan masyarakat,” ujar Ronny dalam forum tersebut.

Kredit Perbankan Kepri Naik Dua Kali Lipat

BI juga mencatat, terjadinya lonjakan signifikan kredit Kepri pada sektor perbankan. Pertumbuhan kredit di Kepri mencapai 20,6 persen, dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 10 persen.

Kenaikan ini terutama didorong oleh kredit korporasi yang naik hingga 26,3 persen, yang menandakan mulai pulihnya aktivitas industri dan investasi di daerah.

Meski demikian, Ronny menegaskan bahwa pertumbuhan tinggi saja tidak cukup. Ia menekankan perlunya memastikan agar pertumbuhan tersebut inklusif, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh UMKM, rumah tangga, dan masyarakat pesisir.

“Yang penting bukan hanya angka pertumbuhan, tapi sejauh mana pertumbuhan itu menyentuh kehidupan masyarakat kecil,” katanya.

Kepri Didorong Jadi Model Ekonomi Biru Nasional

Ia juiga mengatakana, secara struktur, industri pengolahan, perdagangan, dan ekspor masih menjadi penopang utama ekonomi Kepri.

Namun, BI juga mendorong peningkatan kontribusi dari konsumsi rumah tangga dan investasi domestik agar pertumbuhan lebih stabil dan berkelanjutan.

Dalam konteks blue economy, Ronny menyebut, Kepri memiliki posisi strategis sebagai model pengembangan ekonomi maritim berkelanjutan di Indonesia.

“Dengan potensi laut yang besar, Kepri bisa menjadi pionir ekonomi biru — menumbuhkan ekonomi, menjaga lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” jelasnya.

Forum ini turut dihadiri oleh Plh Sekda Provinsi Kepri, Adi Prihantara, yang hadir mewakili Gubernur Kepri Ansar Ahmad.

Adi mengapresiasi langkah BI dalam menggelar forum ekonomi tersebut dan berharap hasil diskusi dapat menjadi bahan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah.

“Masih banyak PR yang harus diselesaikan. Kami harap forum ini melahirkan rekomendasi yang inovatif untuk memperkuat kebijakan ekonomi daerah,” ujar Adi.

Adi juga menegaskan komitmen Pemprov Kepri untuk mewujudkan visi Gubernur Ansar Ahmad menjadikan Kepri sebagai “permata biru di gerbang nusantara.”

Visi ini, lanjut Adi, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mencapai pertumbuhan yang merata dan berkelanjutan.

Forum ekonomi ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari perwakilan pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga lembaga keuangan. Diskusi berfokus pada strategi memperkuat daya saing daerah melalui investasi berkelanjutan, diversifikasi ekspor, dan inovasi sektor keuangan.

Sejumlah narasumber hadir, di antaranya Guru Besar FEB Universitas Padjadjaran Prof. Arief Anshory Yusuf, Plt Dirjen PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan Machmud, Asisten Perekonomian Setda Kepri, serta Chief Economist Bank Permata Josua Pardede.

Penulis:Presmedia
Editor :Redaksi