Ultimate magazine theme for WordPress.

Belum Dapat Perhatian Bupati, Warga Miskin di Kampung Halaman Plt.Gubernur Kepri Dikunjungi Kapolres

Kapolres Karimun AKBP.Muhammad Adenan saat mengunjungi keluarga Syahrudin di Kelurahan Tanjung Berlian kecamatan Kundur Karimun.

PRESMEDIA.ID,Karimun- Kapolres Karimun AKBP Muhammad Adenan mendatangi keluarga Syahrudin masyarakat miskin yang tinggal di gubuk bersama isteri dan anaknya di RT 01/RW 06 Kelurahan Tanjung Berlian kecamatan Kundur Karimun kampung halaman Plt.Gubernur Kepri.

Saat ditemui, keluarga miskin yang sebelumnya minta perhatian Bupati Karimun Aunur Rafiq ini, juga diberi sejumlah bantuan sembako. Kepada wartawan, AKBP Muhammad Adenan mengaku mendapat kabar dan cerita kelurga Syahrudin dari Media, hingga dia berusaha mencari kebenaran dan alamat keluarga tersebut.

“Kita merasa iba mendengar kisah hidupnya, tapi perjuangannya untuk keluarga meski ditengah kekurangan sangat kuat dan kita apresisasi,”ujar Adenan Selasa (30/6/2020).

Selain menyaksikan sendiri kondisi rumah dan keluarga Syahrudin, Kapolres bersama jajaranya,  juga memberi bantuan sembako untuk meringankan beban keluarga Syahrudin.

“Tadi kita juga memberi bantuan untuk meringankan beban beliau. Dengan sedikit bantuan ini kita harapakan semoga bermanfaat untuk beliau dan keluarga,”kata Adenan.

Adenan juga berjanji, akan mencoba berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun untuk mencari solusi agar Syahrudin mendapatkan rumah yang layak huni dengan keluarganya itu.

Sebagaimana diberitakaan PRESMEDIA.ID sebelumnya, Syahrudin merupakan warga miskin yang tinggal di RT 01/RW 06 Kelurahan Tanjung Berlian kecamatan Kundur Karimun yang luput dari perhatian Bupati Karimun Anur Rafiq, bersama sejumlah masyarakat pulau terluar di Karimun yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Warga Tanjung Berlian Kundur ini mengatakan, Keseharianya hanyalah buruh penoreh getah milik orang dan kerja serabutan. Dengan kondisi cuaca yang sering hujan saat ini membuat Syahrudin tidak bisa menoreh getah.

Pantuan Media di lokasi, keluarga miskin Syahrudin hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tinggal disebuah rumah gubuk tanpa kamar dengan dapur tanah disampingnya, sangat jauh dari tempat tinggal yang layak. Gubuk reot itu juga dibangun diatas tanah milik orang lain untuk ditempati dan keluarganya.

Dengan bahan seadanya, dinding rumah berukuran 3×3 meter itu hanya terbuat dari papan dan kayu bekas, sementara atap rumah, dibuat dari pelepah daun nipah yang dianyamnya sendiri.

“Saya disini sudah 2 tahun tinggal. Sebelumnya nyewa dekat sekolah anak saya, supaya anak saya lebih mudah bersekolah karena saya tidak punya kendaraan,”ungkapnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui.

Syahrudin menjelaskan bahwa ia memiliki 2 orang anak yang saat ini sedang mencari pekerjaan, Kedua anaknya itu, putus sekolah karena tidak memiliki biaya.

Selain menoreh getah miliki orang lain, Syahruddin juga bekerja sebagai pencari kayu arang, dan terkadang ikut membantu nelayan lain mencari ikan. Pekerjaan itu ia lakukan untuk menghidupi keluarganya yang menjadi tanggungjawab dirinya sebagai kepala rumah tangga.

Tinggal dipinggiran laut berpayu, dikatakan keluarga ini sering merasa ketakutan atas pasang air laut hingga ke gubuknya. Belum lagi saat angin kuat di malam hari, membuat keluarga tersebut kedinginan. Namun keluarga Syahrudin beserta istri dan anak serta ibu mertuanya rela menjalani hidup ditenhah kondisi serba kekurangan tersebut.

Meskipun dengan kondisi seperti itu, Syahrudin mengaku akan tetap semangat bekerja untuk menghidupi keluarganya itu.

“Kalau untuk bantuan dari Pemda belum ada, tapi kalau dari Provinsi kemaren dapat sembako. Tapi bagaimanapun saya tetap bersyukur,”ungkapnya.

Penulis:Tri/Redaksi 

Comments
Loading...