Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Mendagri Desak Kepala Daerah Pecat ASN Terpidana Korupsi

Plt.Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik (Ist)

PRESMEDIA.ID,Jakarta- Kementerian Dalam Negeri terus mendorong dan mendesak Penegakan Hukum bagi Kepala Daerah dan ASN yang melakukan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Pelaksana Tugas (Plt.) Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik mengatakan, penegakkan hukum dilakukan sebagai upaya melaksanakan Peraturan Presiden tentang Reformasi Birokrasi yang membutuhkan koordinasi dan komunikasi dengan sejumlah pihak.

“Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, kami sudah melakukan koordinasi yang intensif bersama teman-teman MenPAN-RB, KPK, BKN dan sebagainya untuk mencoba mendorong agar upaya kita untuk penegakkan hukum bagi ASN ini bisa dilaksanakan. Progres penegakan hukum secara paralel akan tetap didorong,”kata Akmal dalam Pertemuan Penyelesaian Sengketa Hukum Bidang Otonomi Daerah Dalam Rangka Penegakan Hukuman Bagi Kepala Daerah dan ASN yang Melakukan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Grand Mercure Harmoni,Jakarta,Kamis (15/08/2019).

Hingga saat ini, diakui Akmal, fakta real yang ditemukan, ada perbedaan data antara Kemendagri dengan BKN. Dan hal itu akan terus di komunikasikan. Saat ini sebut Akmal, dari total sebanyak 2.357 ASN yang harus dilakukan Pemberhentian dengan tidak hormat (PTDH) sebanyak 2.259 ASN berada di lingkup Pemerintah Daerah dan 98 orang berada di Instansi Pusat.

Tercatat hingga 5 Agustus 2019, berdasarkan data penyesuaian, masih ada 168 ASN di tingkat Instansi di Daerah yang belum diproses oleh kepela daerah sebagai Pejabat pembina kepegawaian (PPK).

“Memang ada banyak faktor yang menyebabkan kurang lebih 168 orang kalau saya tidak salah angkanya, Masih belum dilakukan pemberhentian tidak hormat Pejabat Pembina Kepegawai (PPK) daerah,”ujarnya.

Rinciannya kata Akmal, ada 10 PNS di lingkup provinsi, PNS pemerintah kabupaten/kota 139 orang PNS di kota 19 orang, total semua kurang lebih 168 orang. Angka itu menurut Akmal sudah mencapai progres yang cukup bagus, dari jumlah 2.345 ASN yang melakukan tindak pidana korupsi. Akmal mengungkap ada beberapa kesulitan dalam memberhentikan ASN yang korupsi.

“Angka ini sudah progres yang cukup bagus pertama angka kota jumlah pegawai kurang lebih 2.345 dan memang kami memahami tidak mudah melakukan ini karena kejadiannya sudah cukup lama, ada beberapa diantarnya kepala daerahnya sudah tidak ada lagi, ada beberapa ASN yang sudah meninggal dunia, ada yang sudah pensiun, mutasi, dan sebagainya,”jelasnya.

Ia juga menegasjan, penegakan hukum terhadap ASN yang melakukan pelanggaran, seharusnya dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) di tingkat masing-masing. Sehingga kewenangannya berada pada PPK. Namun, persoalan yang dihadapi, tak mudahnya untuk mendorong PPK melakukan kewenangannya.

“Kita mengetahui bersama UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN itu mengatakan yang diberi otoritas memberikan sanksi kepada ASN yang telah terbukti melanggar adalah PPK. Untuk di tingkat Nasional, PPK nya ada Menteri masing-masing atau Kepala Badan, Untuk Provinsi yang menjadi PPK nya Gubernur atau Bupati di Kota/Kabupaten,”jelasnya.

Kewenangan itu ada di PPK, Permasalahannya yang mendorong PPK ini tidak mudah dan kemeenteriaan dalam Negeri akan terus mendirorng Kepala Daerah. Sebelumnya Mahkamah Konstitusi (MK) telah membuat Putusan yang memperkuat Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk percepatan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sudah Inkrach kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Sebagaimana putusan MK Nomor 87/PUU-XVI/2018 tersebut pemberhentian PNS tidak dengan hormat, adalah bagi mereka berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (Inkracht) karena melakukan perbuatan yang ada kaitannya dengan jabatan seperti korupsi, suap, dan lain-lain.(Presmedia)

Comments
Loading...