Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran
Bhayangkara 74

Disidang di PN, Begini Kronologi Ibu Pembiar Bayinya Meninggal di Kamar Kos

Terdakwa Lilik Sulistyowati alias Lilik ibu pembiaran bayinya sendiri hingga meninggal di lemari kos, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang.

PRESMEDIA.ID,Tanjungpinang- Terdakwa Lilik Sulistyowati alias Lilik ibu pembiaran bayi meninggal di lemari kosnya, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Rabu (23/9/2020).

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zaldi Akri SH, terdakwa Lilik Sulistyowati alias Lilik didakwa dengan pasal tunggal melanggar pasal 341 KUHPidana tentang pembunuhan.

Perbuatan pembiaran bayi meninggal dunia dilakukan terdakwa dengan cara, ketika terdakwa melahirkan bayinya didalam kosnya, jalan D.I.Panjaitan Gang Delima III Kelurahan Melayu Kota Piring, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang sekitar pukul 04.45 WIB, Senen(6/7/2,20) lalu.

Saat itu, terdakwa merasakan kepala bayinya sudah berada dikemaluanya. Kemudian Terdakwa langsung berbaring diatas tempat tidur dan berusaha menahan bibir untuk tidak mengeluarkan suara sambil mengejan, mendorong perutnya hingga bayibkeluar.

Baca Juga

“Setelah anak bayi keluar dalam keadaan hidup, terdakwa merasakan perutnya masih memulas, karenakan ari-ari anak bayinya seluruhnya belum keluar,”kata Zaldi.

Selanjutnya, sambung Zaldi terdakwa duduk untuk membaringkan anak bayi di atas kasur, kemudian menyelimuti dengan kain sprei dengan motif batik warna coklat. Saat itu, Terdakwa sempat berbaring disebelah anaknya sambil mengurut perut dengan kedua tangannya agar ari-ari anaknya tersebut keluar.

“Setelah keluar, Terdakwa menggendong bayinya, supaya tertidur, setelah tidur Terdakwa melepaskan sprei karena banyak darah untuk di cuci,”jelasnya

Kemudian sekitar pukul 09.00 WIB, terdakwa sempat meminta air minum kepada tetangga kosnya karena haus usai melahirkan.

Setelah itu, Terdakwa kembali ke kontrakan nya dan memegang dada bayinya dan meletakan tangganya ke hidung yang terlihat seperti tidak bernafas lagi. Untuk memastikan, terdakwa juga sempat mengecek mata bayinya yang sudah tertutup dan korneanya sudah tidak bergerak.

Setelah memastikan, Bayinya sudah tidak bernyawa lagi, selanjutnya Terdakwa langsung melipatkan kedua tangan bayinya itu keatas perutnya.

“Bayinya langsung di gendong dan terdakwa mencium mukanya setelah puas kemudian terdiam tidur berbaring di sebelah bayinya,”ujar Zaldi.

Tidak beberapa lama kemudian temannya menelepon, dan mengatakan, anaknya temannya kangen dan mau datang ke rumah terdakwa, Saat itu terdakwa mempersilakan.

Namun ketika temanya datang, terdakwa meminta agar teman dan anaknya mengobrol diluar rumah saja.

Begitu temennya pulang, terdakwa masuk ke kamar dan menggendong bayinya kembali, saat itu terdakwa merasa bayinya dingin. kemudian Terdakwa memotong tali pusarnya dan menyelimuti bayinya dengan sprei warna cream.

“Karena merasa menggigil dan sakit, selanjutnya terdakwa menghubungi temannya kembali, dan meminta agar membelikan obat,”jelasnya.

Setelah itu terdakwa kembali berpikir, kalau nanti temanya datang akan malu mengetahui ada bayi yang dilahirkan, hingga kemudian, terdakwa mengambil bayinya dan menyimpannya di dalam bagian bawa lemari bajunya.

Kemudian terdakwa berbaring di atas tempat tidur dengan bertelungkup memakai selimut, karena pada saat itu terdakwa sudah menggigil kedinginan.

Saat remannya datang, terdakwa meminta untuk dikompres dan tidak berapa lama kemudian terdakwa tidak sadarkan diri.

Saat itu teman terdakwa sempat memanggil temanya yang lain, setibanya disana, kemudian terdakwa sadar dan temannya mengajaknya untuk berobat ke rumah sakit, tetapi terdakwa menolak hingga akhirnya Terdakwa tidak sadar dan kedua temannya membawanya ke rumah sakit.

“Namun ketika temannya mencari KTP dan kartu BPJS didalam Lemari, secara tidak sengaja menemukan mayat bayi perempuan yang disembunyokan terdakwa didalam lemari pakaiannya dan melaporkan temuan tersebut ke Polisi,”pungkas Zaldi.

Mendengar hal itu, Ketua Majelis Hakim, Eduard P Sihaloho didamping hakim anggota Awani Setiyo Wati dan Guntur Kurniawan menunda persidangan selama satu peka dengan memerintahkan JPU untuk hadirkan saksi.

Penulis:Roland

Comments
Loading...