Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Petani Midai-Natuna Menjerit, Harga Cengkeh Anjlok, Pohon Juga Mati Terkena Virus

Buah Cengkeh hasil panen Warga Midai di Natuna.

PRESMEDIA.ID,Natuna- Sejumlah Petani Cengkeh di kecamatan Midai dan Serasan kabupaten Natuna menjerit, akibat serangan virus Cengkeh yang mengakibatkan pohon dan daun Cengkeh Petani mengering dan mati.

Selain serangan virus dan hama, jeritan petani Cengkeh semakin menjadi akibat harga Cengkeh kering saat ini ikut anjlok dan sangat murah.

Kepala Desa Sebelat Kecamatan Midai Dedi Yulian mengatakan, kalau masalah harga buah cengkeh kering yang anjlok sudah sejak 2 tahun dirasakan Petani Cengkeh di Midai.

Pada tahun 2018 katanya, harga Cengkeh kering awalnya masih bertengger di angka Rp 85 ribu per kilo garm. Namun pada tahun 2019 hingga 2020 harga Cengkeh anjlok hanya Rp.45 ribu per kilo.

“Keluhan petani soal harga sudah sejak 2 tahun lalu. Sampai sekarang semakin murah. Ditingkat tengkulak, saat ini harga buah kering Cengkeh hanya Rp 45 ribu per kilo gram,”ujar Dedi.

Masalah terbaru yang dialami petani Pokok (Petani pemilik Pohon Cengkeh- red), adalah serangan virus dan hama yang mengakibatkan banyak pohon Cengkeh Petani mati.

Bahkan saat lanjut Dedi, Sat ini hampir 75 persen pohon Cengkeh Petani di Midai daunnya mengering dan mati, akibat virus dan hama benalu dan cacar daun yang menyerang pohon Cengkeh.

“Anehnya lanjut saat ini, hama ini semakin menjadi, selain merusak pokok yang sudah tua dan berbuah, juga menyerang benih baru yang ditanam petani, hingga mengakibatkan benih juga mati,”jelasnya.

Permasalahan ini, lanjut Dedi, juga sudah disampaikan kepada pemerintah untuk dicarikan solusi, Namun sampai saat ini belum ditemukan cara dan obat untuk mengatasi.

Kepala Desa Sebelat Kecamatan Midai ini juga mengatakan, dari total jumlah masyarakat Midai, 90 persenya adalah Petani Cengkeh, sisanya, 10 persen merupakan Nelayan.

“Masalahnya untuk menyambung hidup sekarang masyarakat susah. Harapan panen di tahun 2021 juga pupus, akibat harga yang anjlok dan pohon yang banyak mati. Ditambah lagi selama pandemi, kondisi ekonomi masyarakat semakin miris,”ujarnya.

Dia melanjutkan, saat ini banyam petani Cengkeh di Midai yang beralih profesi menjadi tukang dan pemanen buah kelapa. Dan akibat kondisi ini banyak anak-anak petani cengkeh yang putus sekolah.

“Saat ini banyak anak putus sekolah dan ada juga kuliahnya yang putus di tengah jalan, karena kalau hanya mengandalkan buah kelapa, orang tua tidak sanggup untuk menyekolahkan anak mereka, khusunya anak yang sekolah di luar,”ujarnya.

Selain di Kecamatan Midai, jeritan Petani Cengkeh juga dialami masyarakat di Serasan, Kecamatan lain di Kabupaten Natuna.

Muhammaf Alzoni warga Serasan memgayakan, serangan virus yang mengakibatkan dan pokok Cengkeh mengering juga dialami masyarakat petani Cengkeh di Serasan.

“Virus tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga merusak tanaman petani. Jika virus Corona mematikan bagi manusia. Virus tanaman petani juga merusak cengkeh. Sehingga sama-sama berdampak lebih parah,”sebut Alzoni.

Penulis:Harmoko/Redaksi

Comments
Loading...