Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Sebanyak 14 Fasilitas Pendidikan Rusak Akibat Bencana Alam di Bintan

Bupati Bintan Apri Sujadi saat mengeglar rapat Penanganan Bencana dan perbaikan fasilitas umum akibat Banjir, Longsor dan angin Puting Beliung yang melanda kabupaten Bintan. (Foto:Hasura/Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Bintan – Sebanyak 14 sarana fasilitas pendidikan di Bintan rusak akibat bencana banjir, tanah longsor dan angin puting beliung gelombang pertama (2-3/1/2021) dan gelombang kedua (9-10/1/2021) lalu.

Hal itu terungkap saat Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Pascabencana di Kantor Bupati Bintan, Bandar Seri Bentan, Desa Bintan Buyu, Selasa (12/1/2021).

Ke 14 sekolah itu adalah bangunan dan fasilitas umum pelayanan pendidikan berupa bangunan dan lingkungan sekolah dasar (SD) di sejumlah kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Bintan.

Rakor yang dipimpin langsung Bupati Bintan Apri Sujadi itu, selain membahas tentang kerusakan fasilitas pendidikan, juga menyinggung tentang kerusakan infrastruktur lainnya akibat bencana.

“Ada 14 SD yang terdampak akibat bencana banjir, tanah longsor dan angin kencang beberapa waktu yang lalu. Baik bencana pertama dan kedua. Sekolah-sekolah yang berdampak bencana itu akan segera kita ditangani,” ujar Apri.

Banjir yang terjadi 2-3 Januari dan 9-10 Januari telah menggenangi ruangan kelas. Begitu juga tanah longsor merusak sebagian sekolahan termasuk merobohkan pagar. Kemudian ada juga plafon bocor lalu roboh dan plafon roboh akibat dihantam angin kencang.

Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan terkait sekolah-sekolah yang berdampak bencana antara lain SDN 010 Bintan Timur air masuk ruang kelas, SDN 003 Toapaya air masuk ruang kelas.

Selanjutnya, SDN 005 Binut air masuk ruang kelas, SD Kristen CALISA air masuk ruang kelas, SDN 002 Teluk Sebong air masuk ruang kelas, dan SDN 009 Bintan Utara air masuk ruang kelas.

Berikutnya, SDN 014 Teluk Bintan air masuk ruang kelas, SDN 007 Seri Kuala Lobam plapon bocor, SDN 009 Gunung Kijang longsor dan air masuk ruang kelas, SDN 003 Bintan Pesisir plapon ruang kelas roboh, SDN 006 Bintan Utara atap bocor, dan plapon lepas.

Sedangkan, SDN 001 Toapaya pagar roboh 15 meter dan plapon roboh satu ruang kelas, SDN 004 Kec Teluk Sebong tanah longsor dan air masuk ruang kelas serta SDN 004 Mantang plapon roboh akibat angin kencang.

“Jadi 14 SD itu ada yang masuk air sehingga seluruh barang seperti meja, buku dan lainnya rusak. Kemudian ada yang pagarnya roboh dan plapon ruang kelasnya roboh,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bintan, Tamsir menuturkan bahwa tidak ada kerusakan bangunan yang sangat parah akibat bencana tersebut. Hanya sarana dan prasarananya saja yang rusak.

“Seperti SDN 004 Mantang, plaponnya roboh akibat diterpa angin kencang yang masuk melalui celah lobang angin,” katanya.

Namun dari 14 SD yang terdampak bencana ada 4 sekolahan yang rusaknya lebih parah dibandingkan lainnya. Diantaranya SDN 010 Bintan Timur, SDN 003 Toapaya, SDN 005 Bintan Utara dan SD Calista.

Akibat banjir yang masuk ke sekolah tersebut meja, buku dan lainnya rusak. Bencana itu hanya menerpa jenjang SD untuk SMP tidak ada yang terkena banjir maupun tanah longsor.

“Banjir setinggi hampir 1,2 meter itu membuat seluruh buku, meja dan alat belajar lainnya rusak total. Sehingga barang-barang tersebut tak dapat dipergunakan lagi,” sebutnya.

Terpisah Kepsek SDN 004 Mantang, La Judin mengaku ada plapon di salah satu lokal yang roboh akibat derupan angin kencang. Namun tidak ada korban dalam musibah tersebut.

“Kami tahu dari penjaga sekolah bahwa plapon satu kelas roboh akibat angin kencang,” ucapnya.

Dalam dua pekan ini Kecamatan Mantang juga diterpa cuaca ekstrim. Yaitu pada 2-3 Januari hujan lebat diserta angin kencang melanda. Ketika itu air hujan disertai angin kencang masuk plapon mengakibatkan 2 plapon rusak dan 1 plapon terbuka.

Kemudian pada 9-10 Januari cuaca ekstrim itu kembali tiba. Lalu penjaga sekolah melaporkan bahwa akibat hujan lebat dan angin kencang itu plapon satu ruangan roboh.

“Plapon kelas itu dibangun pada 3 tahun yang lalu. Namun kini sudah roboh akibat hujan dan angin kencang,” katanya.

Penulis : Hasura
Editor   : Ogawa

Comments
Loading...