Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Super Tanker Terbaru Milik PT Pertamina Dilincurkan, Siap Kawal Ketahanan Energi

Kapal Super Tanker Pertamina Pride milik PT Pertamina saat berlayar. (Foto: Indonesia.go.id/Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Jakarta – Kabar baik datang dari negeri Sakura. Pada awal tahun ini, PT Pertamina menerima dua kapal tanker pengangkut bahan bakar minyak (BBM) jenis very large crude carrier (VLCC) berkapasitas dua juta barel.

Kapal pertama bernama “Pertamina Pride” telah diluncurkan pada 9 Februari 2021 lalu. Sedangkan kembarannya “Pertamina Prime” akan diserahterimakan pada 30 Maret 2021 mendatang.

Kapal tanker raksasa “Pertamina Prime” yang dibangun pada 2018 itu diluncurkan dengan pengapungan kapal untuk pertama kali ke air laut, pada Selasa (19/1/2021), di Kumamoto, Jepang.

”Dua kapal VLCC ini menambah jajaran armada kapal pengangkutan migas Pertamina. Selama ini, BUMN migas nasional tersebut membutuhkan sebanyak 270 kapal angkutan BBM dan gas untuk pengadaan energi di dalam negeri maupun ekspor,” kata Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury sebagaimana dilansir laman indonesia.go.id , Rabu (24/2/2021).

Pahala menambahkan, sedikitnya 70 armada dimiliki perseroan tersebut. Pertamina merencanakan akan menambah 48 kapal lagi sampai tahun 2025. Sebanyak 15 unit kapal bakal dibangun di galangan dalam negeri.

Pahala berharap, Pertamina mampu mengoptimalkan utilisasi dua kapal VLCC ini sehingga memberikan nilai tambah bagi negara. “Karena ketahanan energi wajib kita jaga untuk kedaulatan NKRI,” ujarnya.

Pahala menambahkan, dengan adanya VLCC ini, maka kemampuan untuk mengamankan rantai pasok energi yang lebih efisien menjadi salah satu kunci kompetitif Pertamina agar menjadi salah satu world class energy company.

Adapun, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati menegaskan, kehadiran VLCC ini semakin meningkatnya keandalan suplai dan kelancaran distribusi energi nasional dengan mengamankan pasokan kebutuhan minyak mentah ke Kilang Refinery Unit IV Cilacap.

Kedua tanker jumbo ini dibuat di Galangan Japan Marine United (JMU) untuk seterusnya dikelola oleh anak perusahaan Pertamuna, PT Pertamina International Shipping sebagai pendukung rantai pasok distribusi untuk pengangkutan kargo impor BBM Pertamina dengan skema free on board (FoB).

“Pertamina Prime” merupakan kapal tipe VLCC yang disiapkan untuk mendukung pengamanan pasokan kebutuhan feedstock kilang yang dijalankan oleh Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina.

Kedua kapal VLCC tersebut masing-masing memiliki kapasitas angkutan kargo sebesar 324,995 m3 (kondisi 95% capacity) atau sekitar 2 juta barrel yang merupakan single screw driven single deck type crude oil tanker dengan panjang keseluruhan (LOA) 330 meter dan draft 29,35 meter.

Kapal tanker raksasa tersebut memiliki beberapa keunggulan, antara lain, performa kapal memiliki kecepatan sebesar 16,9 knot yang diperoleh dari keunggulan desain kapal yang menggunakan teknologi Super Stream Duct.

Satu hal, kapal VLCC ini ramah lingkungan. Sebab, lebih efisien dalam penggunaan bahan bahan bakar dan menerapkan konsep Eco-Green Vessel. Dengan demikian, kapal ini memiliki fuel oil consumption (FOC) sebesar 68,2 metric tonne/day atau lebih irit sebesar 25% dibandingkan dengan kapal sejenis.

Sedangkan, VLCC “Pertamina Pride” telah memenuhi regulasi International Maritime Organization (IMO) untuk performance standard for protective coatings telah diterapkan pada cargo oil tanks (COT) dan water ballast tank (WBT), yang penting untuk kemudahan perawatan dan menjaga kapal selalu dalam kondisi baik.

VLCC “Pertamina Pride” merupakan kapal dengan single screw driven, single deck type crude oil tanker, dengan panjang keseluruhan 329,904 meter, bobot mati sebesar 301,781 ton, gross tonnage sebesar 157,116 ton, dan mampu mengangkut kargo BBM hingga 2 juta barrel.

Mengoperasikan tanker ukuran jumbo bukan hal baru bagi Pertamina. Pada 2004, Pertamina sempat memesan dua kapal VLCC berbobot 260 ribu ton pada Hyundai Heavy Industries Ltd, Korea Selatan. Namun, tak lama kapal tanker tersebut dijual lagi.

Sepuluh tahun kemudian, untuk memperlancar pasokan elpiji domestik, Pertamina juga memiliki dua armada very large gas carrier (VLGC) berkapasitas masing-masing 50 ribu ton muatan gas elpiji. VLGC ini juga dibangun di Korea Selatan.

Bagi Pertamina, mengoperasikan kapal tanker dinilai lebih efisien dibandingkan menyewa ke pihak ketiga (pelayaran dalam negeri maupun internasional). Terutama di masa pandemi Covid-19, tarif sewa tanker BBM maupun gas melonjak tinggi sekali.

Lazimnya harga sewa tanker berkisar USD30 ribu per hari. Namun dalam beberapa bulan terakhir bisa mencapai USD150 ribu. Pasalnya, selama pandemi yang berdampak ekonomi dunia melesu yang berimbas permintaan pasar migas dunia menurun drastis, sehingga banyak kapal tanker dijadikan floating storage atau depo migas terapung.

Keberadaan tanker tersebut sebagai antisipasi atas pulihnya perekonomian dunia yang diprediksi semester II 2021 atau awal 2022. Impor minyak mentah pada tahun ini diproyeksikan meningkat cukup signifikan dibanding 2020.

Pertamina memproyeksikan pada 2021 impor minyak mentah ditargetkan mencapai 118,4 juta barel atau naik sekitar 50,4% dibanding realisasi impor minyak mentah tahun lalu yang hanya 78,7 juta barel.

Selain impor minyak mentah, perseroan juga impor produk minyak berupa BBM. Total BBM yang diimpor mencapai 113 juta barel dengan rincian untuk impor BBM Premium sebanyak 53,7 juta barel dan dan BBM Pertamax 53,3 juta barel. Untuk impor Pertamax tahun ini naik dibandingkan tahun lalu karena akan dicampur untuk bahan baku Pertalite.

Penulis: Redaksi
Editor: Ogawa

Comments
Loading...