Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Korupsi Wesel Pos, Hendrik Mengaku Gunakan Main Judi Online

Sidang Online dengan Agenda Pemeriksaan Hendrik Kurniawan sebagai Terdakwa dalam Korupsi Wesel Pos di PN Tanjungpinang.(Foto: Roland/Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Terdakwa Hendrik Kurniawan mengaku, dana Wesel Pos Rp.687 juta yang dikorupsi sejak 2019-2020, habis digunakan untuk bermain judi online.

Hal itu diakui Hendrik pada Majelis Hakim, saat diperiksa sebagai terdakwa dalam dugaan korupsi wesel pos fiktif itu di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (8/3/2021).

Dalam persidangan secara virtual, Hendrik mengatakan uang yang dikorupsi dari dana PT. Pos Cabang Midai itu, dihabiskan untuk bermain judi online Poker dan Togel.

Caranya, dengan mengirimkan dana Wesel Pos yang dikorupsi dengan modus fiktif, ke rekening honorer-nya. Kemudian dana tersebut kembali dikirimkan ke rekening miliknya.

Selanjutnya, dari rekeningnya, baru didepositkan ke akun online Poker-nya mulai dari Rp 25 juta, Rp 10 juta, Rp 5 juta dan Rp 2 juta.

“Saya mulai mengenal permainan judi online sekitar tahun 2015,” kata Hendrik.

Ia juga mengaku, permainan judi Poker dan Togel Hongkong online itu, dimainkannya hampir setiap hari. Sedangkan untuk judi Togel Singapura dua kali dalam satu minggu.

“Untuk judi togel deposit sekali main Rp 10 juta, Pernah juga menang Rp 15 juta,” paparnya.

Selain main judi, sebagian uang yang dikorupsi, juga digunakan terdakwa untuk membayar hutang dan menembus BPKB atas utangnya kepada ustad Deden.

Utang itu, dikatakan terdakwa dipinjamnya, sebagai modal usaha Laundry istrinya.

“Saya gadai Rp 70 juta kemarin, untuk usaha Laundry di Km 8, Tapi saat ini usahanya sudah tutup,” jelasnya.

Selain membayar hutang ke Ustad Deden, Hendrik juga mengaku memiliki hutang ke Rentenir yang dipinjamnya 2015 lalu sebesar Rp100 juta.

Ketika ditanya majelis hakim mengenai pengembalian dana yang di Korupsi, Hendrik mengatakan, telah mencicil sebesar Rp 20 juta.

Pengembalian Rp.20 juta itu, katanya, Rp 10 juta bersumber dari uang Jaminan Hari Tua (JHT)-nya, potongan gaji Rp 2,2 juta perbulan serta dana THR tahun 2020 Rp 4,3 juta dan lainnya.

“Tetapi sekitar Rp 10 juta masih berada di kantor PT.Pos Tanjungpinang dan Rp 10 juta di setorkan ke jaksa,” kata Jaksa ke Penuntut Umum (JPU).

Mendengar hal itu, Majelis Hakim, Eduard P Sihaloho, didampingi Hakim Anggota kembali menunda persidangan selama dua pekan dengan agenda mendengarkan tuntutan.

Sekedar mengingatkan, mantan Kepala Cabang Kantor POS Midai Hendrik Kurniawan sebelumnya didakwa Jaksa Penuntut Umum Joko SH dengan dakwaan Primer dan Subsider, atas dugaan korupsi Rp687 juta dana accoun kantor Pos Wesel Pos fiktif.

Dalam dakwaan Primer, terdakwa dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam dakwaan Subsider Terdakwa juga dijerat dengan Pasal pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penulis : Roland
Editor. : Redaksi

Comments
Loading...