Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Pengucapan Putusan Dengan Petikan Berbeda, PH Terdakwa Korupsi IUP-OP Tambang Komplain ke PN Tanjungpinang

*Eduart Arfa: Nama Baik Hakim Tercoreng

Kuasa hukum Terdakwa Azman Taufiq, Eduard Arfa SH, dan Gindo SH saat mendatangi PN Tanjungpinang.

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Kuasa Hukum terdakwa korupsi IUP-OP tambang Bauksit, Eduard Arfa SH menemui Ketua PN Tanjungpinang atas perbedaan putusan klienya terdakwa Azman Taufiq, yang dibacakan Majelis Ketua (MK) hakim di sidang terbuka dengan amar petikan putusan.

Edward mengatakan, kedatangannya ke PN Tanjungpinang untuk konsultasi dan mempertanyakan perbedaan putusan klienya saat pembacaan amar putusan yang kurang jelas hingga penafsiran putusan vonisnya di amara petikan putusan berbeda.

“Pasal 195 KUHAP berbunyi, semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan di sidang terbuka untuk umum,” ujarnya pada wartawan.

Tetapi sekarang lanjutnya, Ketua Majelis Hakim dalam sidang mengucapkan 6 tahun penjara untuk terdakwa Azaman Taufiq, tetapi setelah diluar, petikan amar putusanya jadi 9 tahun.

Atas dasar itu Eduard menegaskan, yang sah seharusnya adalah putusan di sidang. Kalau hakim membuat putusan 9 tahun dan tidak sesuai dengan yang ducapakan didalam sidang, jelas melanggar hukum dan bisa dikatakan pemalsukan dokumen putusan.

“Kita akan berupaya kemana saja, saya menerima putusan yang diucapkan disidang 6 tahun, bukan yang dibeberkan 9 tahun yang diucapkan diluar sidang,” jelasnya.

Edward yang mengaku sebagai mantan Hakim yang pernah menjabat sebagai ketua PN Tanjungpinang ini, juga mengaku sangat kecewa, nama baik sebagai hakim tercoreng. Dimana lain diucapkan lain yang dimuntahkan.

“Saya akan lapor kemana pun, kalau buat putusan 9 tahun, jika surat vonis keluar 9 tahun. Maka saya laporkan pemalsuan dokument autentik, yang bertentangan dengan pasal 195 KUHP itu,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Ketua PN Tanjungpinang Admiral juga mengatakan, dasar hukum putusan adalah atas apa yang didengar dan apa yang diputuskan. Pengadilan akan mengayomin semua, baik penasehat hukum maupun majelis hakim dan terdakwa.

“Kita akan melakukan klarifikasi kepada majelis hakim yang menyidangkan. Karena secara teknis, kondisinya seperti apa, saya juga gak tau, kita harus mendengar kedua belah pihak. Akan kita kumpulkan hakim, apakah hakim masih disini kita bisa klarifikasi,” pungkasnya.

Sebelumnya, mantan pejabat pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan klien Eduard Arfa, terdakwa Azman Taufiq divonis 9 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang.

Dalam putusan yang dibacakan Majelis Hakim Guntur Kurniawan, menyebut 6 tahun, namun dalam amar petikan putusanya Pengadilan menyatakan 9 tahun penjara.

Terdakwa Azman Taufiq, sebelumnya dinyatakan terbukti bersalah menyalahgunakan jabatannya, untuk memperkaya orang lain dalam pengelaran IUP-OP tambang bauksit kepada sejumlah perusahaan yang tidak bergerak di Bidang tambang di Bintan, hingga mengakibatkan kerugian negara Rp32.4 milliar.

Terdakwa Azaman Taufiq dan terdakwa Amjon dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 2 Juncto Pasal 18 nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto pasal 55 KHUP. Atas perbuatannya, terdakwa Azman Taufiq dihukum dengan hukuman 9 Tahun, denda Rp 400 juta subsider 4 bulan kurungan.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi

Comments
Loading...