Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran
Kab Lingga
DPRD Lingga

Empat Orang dalam Satu Keluarga di Lingga Alami Depresi, Pemerintah Disebut Belum Ada Kepedulian

Dirumah ini 4 orang anggota keluarga Widi mengalami penyakit depresi Berat yang membutuhkan uluran tangan dari Pemerintah. (foto;Aulia/presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Lingga – Empat orang dalam satu keluarga di Kampung Nerakak Kabupaten Lingga, mengalami depresi berat. Mereka adalah ayah, ibu serta dua anaknya Pr (43), En (42).

Gejala yang diderita, selain sering berdiam diri dan murung, sebagian anggota keluarga ini juga terlihat “marah-marah” dan bahkan mengerjakan hal-hal lain diluar dari kesadarannya.

Ke empat orang dalam satu keluarga itu merupakan ayah, ibu dan kakak dari Widi (26) yang tinggal satu rumah di Jalan Air Bedegam Kampung Nerakak RT 03/RW 04, Desa Sedamai Kecamatan Singkep Pesisir, Lingga.

Saat awak media ini menyambangi rumah satu keluarga itu Rabu (7/4/2021), tampak tidak terdapat hal aneh atau mencurigakan. Namun menurut keterangan warga sekitar, dari keempat anggota keluarga di rumah itu, Hanya Widi yang kondisinya membaik, setelah para rekan dan tetangganya terus memberikan semangat.

Kepada media ini, Widi bercerita, kronologis yang membuat keluarganya mengalami depresi itu, disebabkan sejumlah persoalan pribadi dan rumah tangga. Bahkan dirinya sendiri, juga sempat mengalami depresi sekitar bulan Januari 2021 lalu, ketika pulang dari Batam akibat mendapat kabar ibunya mengalami sakit keras.

“Saat itu saya di Batam mendengar kabar ibu sakit, saya memutuskan pulang kampung dan merawat ibu saya,” ujarnya bercerita.

Widi mengisahkan, bahwa dahulu dia pernah menjabat sebagai kepala dusun (kadus) sebelum memutuskan untuk hijrah ke Batam menjadi petugas satpam (Security) di salah satu perusahaan Pertamina dan bank swasta.

“Semua sudah saya lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sampai hari ini saya merupakan tulang punggung. Ditambah lagi beban sang kakak yang mengalami depresi juga,” lirih-nya.

Pr yang merupakan kakak perempuannya, saat ini juga masih mengalami depresi. Ia mengidap penyakit itu akibat sering mengalami kekerasan fisik dari sang suami.

Pr adalah kakak tertuanya, sebelumnya menikah dengan pria tetangga yang tidak jauh dari rumahnya. Dari perkawinan itu, Pr dikaruniai tiga orang anak. Namun karena banyak persoalan rumah tangga yang dialami, hingga Pr digugat cerai suaminya yang merupakan abang ipar Widi. Semua anak-anak kakaknya itu, saat ini diasuh oleh mantan suaminya.

“Saat ini mereka sudah bercerai. Padahal mereka sudah dikaruniai tiga orang anak. Semua anak-anaknya diasuh mantan suaminya,” kata Widi.

Pemerintah Disebut Belum Ada Kepedulian

Lebih jauh Widi mengungkapkan, selain kecewa dengan kondisi keluarganya, kekecewaan juga disampaikan kepada aparatur Pemerintah kabupaten Lingga, yang menurutnya hingga saat ini tidak ambil peduli atas nasib tragis yang menimpa keluarganya.

“Sampai hari ini aparatur desa disini tidak ada perhatian. Jangankan membantu, menjenguk keluarga kami pun tidak ada. Kami sekeluarga dianggap mereka seperti orang gila,” ungkap Widi dengan nada kesal.

Namun begitu, Widi mengaku sangat berterimakasih kepada kalangan pemuda yang ada di kampungnya, yang memberi support dan dukungan. Bahkan, disaat pandemi Covid saat ini, sejumlah pemuda di kampungnya itu, berinisiatif mengumpulkan sumbangan uang untuk membantu keluarga Widi.

“Kami ada diberi bantuan uang bantuan untuk pengobatan ibu saya,” terangnya.

Kendati masih bingung bagaimana caranya, Widi berharap, Ibu dan ayah serta kakaknya, dapat segera sembuh dari depresi yang dialami, melalui bantuan pendanaan pengobatan dari pemerintah yang memiliki kepedulian.

“Saya sendiri juga bingung, dengan cara apa bisa pulih kembali. Kalau untuk berobat degan cara terapi atau ke psikolog terus terang saya tidak mampu karena membutuhkan biaya,” ujar Widi.

Bahkan semenjak ia merawat ibunya di Kampung, banyak hal aneh yang dilakukan ibunya, mulai dari marah-marah, menemani bapak dan anaknya mandi bahkan mengamuk secara tidak sadar.

“Karena itu, sekarang saya harus menyembunyikan benda-benda tajam di rumah karena khawatir terjadi sesuatu,” ujarnya.

Sementara satu anggota keluarga lainya yaitu kakak kandung di atasnya langsung, juga mengalami hal yang sama. Namun ia bersyukur karena abang iparnya atau suami kakaknya itu sampai saat ini masih setia merawat istrinya.

“Saya juga bersyukur suaminya masih mau merawatnya. Bahkan suaminya rela tidak melakukan aktivitas apapun demi kesembuhan istrinya,” tutupnya.

Penulis:Aulia
Editor :Ogawa

Comments
Loading...