Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Dorong Kemandirian Desa, Badan Litbang Kemendagri Kaji Model Inovasi BUMDes

*Kabupaten Anambas dijadikan salah satu model inovasi BUMDes.

Suasana Rapat Perumusan Model Inovasi Daerah, berlangsung di Aula Badan Litbang Kemendagri, baru-baru ini. (Foto: Istimewa/Puspen Kemendagri).

PRESMEDIA.ID, Jakarta – Badan Litbang Kemendagri terus mendorong daerah berinovasi, melalui Pusat Litbang Inovasi Daerah. Hal itu salah satunya dengan menggelar Rapat Perumusan Model Inovasi Daerah, berlangsung di Aula Badan Litbang Kemendagri, baru-baru ini.

Kepala Pusat Litbang Inovasi Daerah, Badan Litbang Kemendagri Matheos Tan menyebutkan, kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari pelbagai inovasi dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah diterapkan di daerah. .

”Harapannya Badan Litbang Kemendagri dapat mengembangkan model inovasi yang telah dipelajari untuk selanjutnya diuji cobakan di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal atau 3T,” kata Matheos Tan.

Selain itu, lanjut Matheos, kegiatan ini, juga merupakan upaya untuk mendukung iklim inovasi di daerah 3T.

“Tahun ini, kita terapkan model itu di Kabupaten Anambas, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Kabupaten Kapuas Hulu,” ungkap Matheos Tan.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, menjadi tonggak sejarah baru pelaksanaan pemerintahan desa.

”Desa kini didorong untuk menjadi sumber-sumber penggerak ekonomi warga untuk mampu hidup produktif,” tanggap Matheos Tan.

Di sisi lain, desa juga memiliki kearifan dan kekhasan lokal yang harus dimaksimalkan. Potensi ini perlu ditunjang dengan ketersediaan pasar untuk menjual barang-barang hasil desa dengan harga yang memuaskan.

“Di situlah keberadaan BUMDes dibutuhkan untuk mengatur itu semua. Untuk itu BUMDes harus terus berinovasi agar masyarakat desa dapat mandiri dan sejahtera.” ujar Matheos Tan.

Sementara itu, Pegiat IT Laksono Hadisiswanto yang hadir saat itu mengamini pendapat Matheos Tan. Ia menilai potensi ekonomi di desa sangat kuat. Untuk itu, kondisi ini jangan sampai tidak dimanfaatkan dengan baik.

Namun memang saat ini pengelolaan BUMDes masih mengalami kendala seperti minimnya pemanfaatan teknologi informasi untuk menjual dan memasarkan produk secara online.

“Dibutuhkan inovasi dalam pengelolaannya, misalnya membuat e-commerce, khusus menjual produk-produk hasil desa. Sekarang jaman sudah mudah, tinggal kita mau atau tidak,” kata Laksono.

Pada akhir acara, Matheos Tan berharap setelah acara ini, Badan Litbang Kemendagri dapat mengembangkan model inovasi BUMDes yang lebih sempurna dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Penulis: Redaksi/Puspen Kemendagri
Editor: Ogawa

Comments
Loading...