Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Korupsi DJIP BUMD Bintan, Terdakwa Teddy dan Risalasih Buka Usaha Waralaba Barbershop

*Owner STARBOX Enggan Kembalikan Dana DJIP BUMD Bintan

*Owner STARBOX Enggan Kembalikan Dana DJIP BUMD Bintan (Foto:Roalnd.Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Dua terdakwa Dana Investasi Jangka Pendek (DJIP) BUMD Bintan di PT.Bintan Inti Sukses (BIS) Risalasih dan Terdakwa Teddy Ridwan, ternyata menggunakan dana DJIP-BUMD Bintan untuk bisnis Waralaba pangkas rambut Barbershop.

Hal ini terungkap dari keterangan Edi Mulyanto, mantan Sekretaris Dewan Komisaris PT.BIS, Selamet mantan anggota Komisaris dan Owner Barbershop STARBOX, Riski Kurniadi di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (7/6/2021).

Saksi Riski Kurniadi selaku owner bisnis waralaba (Franchise) Barbershop STARBOX mengatakan, kerja sama bisnis waralaba barbershop miliknya dengan Terdakwa Risalasih dan Teddy dimulai sejak awal Agustus 2017 lalu.

Hal itu kata Risky, berawal ketika Risalasih dan Tedy menjadi pelanggan pangkas rambut Barbershop STARBOX di Batu 9 Tanjungpinang, yang dikelola mitranya Nasrul. Kemudian, kedua terdakwa menanyakan kepadanya melalui telepon bagaimana cara kerjasama usaha pangkas rambut itu. Setelah melalui telepon itu, selanjutnya kedua terdakwa datang ke Nagoya Hill Batam, untuk bertemu dengan Risky menanyakan tata cara kerjasama usaha waralaba Barbershop STARBOX itu.

“Kedua terdakwa menyatakan mau buka usaha waralaba atau (franchise),” kata Risky di PN Tanjung.

Selanjutnya, kepada keduanya, Riski menjelaskan, Paket bisnis Waralaba (Franchise) STARBOX milliknya ada 3 paket, diantaranya, Paket Pertama kerja sama Waralaba dengan nilai modal Rp 100 juta. Dengan modal itu, STARBOX akan memberi pendampingan manajemen, memberi perlengkapan seperti peralatan, pakaian dan peralatan lain.

“Seluruh manajemen yang urus, sistem usahanya mitra Waralaba yang menjalankan. Kemudian Paket Modal Rp 250 juta dengan fasilitas, mendapat 4 set kursi, peralatan barbershop dan paket Modal Rp 500 juta dengan dukungan dapat renovasi tempat usaha,” ujarnya.

Ketiga paket ini lanjut Risky, sama-sama membayar royalti 8 persen per bulan. Tidak ada batas waktu bayarnya franchise untuk selama lamanya untuk mitra usaha.

Selanjutnya, beberapa minggu kemudian terdakwa Teddy menghubunginya dan menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan nilai paket Mitra usaha Rp.100 juta. Dari Kerja sama itu, Teddy juga meminta komitmen fee-nya Rp 15 juta, yang ditransfer Risky ke rekening Teddy sekitar September 2017 lalu.

Dengan nilai paket mitra usaha Rp 100 juta itu, ditambah uang pembinaan karyawan selama satu tahun Rp 24 juta, untuk 3 sampai 4 orang karyawan yang disediakan dan digaji dari bagi hasil usaha maka BUMD Bintan PT.Bintan Insti Sukses melalui Teddy menyetorkan dana Rp.436.596.200.

“Selanjutnya, kami lakukan survey dulu dan sudah ditentukan lokasinya, bangunnya ruko satu pintu 3 lantai, lantai 1 untuk usaha Barbershop, lantai 2 mes karyawan,” ucapnya.

Selanjutnya, Terdakwa Teddy mengirimkan uang kepadanya, pertama Rp 15 juta, selanjutnya Rp50 juta, sisanya satu bulan kemudian hingga totalnya sebanyak Rp.124 juta.

Dengan kerja sama itu, akhirnya Barbershop itu dibuka mulai bulan Desember 2017 sampai Oktober 2019 dengan aset milik PT.BIS. Dari sektor Usaha pangkas itu, Risky menyebut total nilai keuntungan kotor yang diterima PT.BIS Rp10 juta sampai 15 juta pertahun.

“Ini tidak ada yang lain sebatas yang dijanjikan saja,” ujarnya.

Owner STARBOX Tidak Mau Kembalikan Dana DJIP BUMD Bintan

Atas dasar itu, saksi Risky mengatakan, tidak ada niat mau mengembalikan dana yang diperolehnya pada Bisnis Waralaba Pangkas rambut dengan kedua Terdakwa dari dana DJIP BUMD Bintan itu. Karena menurutnya, perjanjian kerja samanya dengan terdakwa adalah Mitra Bisnis waralaba (Franchise).

“Saya tidak ada niat mengembalikan kerugian negara itu, Karena infonya usaha Pangkas Rambut itu saat ini tetap jalan dan hanya tutup sementara mau RUPS,” jelasnya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Risalasih dan Terdakwa Teddy Ridwan melakukan tindak pidana Korupsi dalam pengelola penyertaan modal Pemerintah Daerah Bintan di BUMD PT.BIS pada tahun 2015 sebesar Rp.3.663.862.642,-.

Kerugian itu bersumber dari Piutang BUMD PT.BIS tahun buku 2016 dan 2017 yang belum disetorkan ke Kas Perusahan berdasarkan audit laporan keuangan. Selain itu, juga ditemukan piutang laba dari pendapatan investasi jangka pendek yang belum dibayarkan CV.Safina Aircond Services sebesar Rp.252 juta yang dikelola Syaiful.

Kemudian dana pinjaman kepada pengusaha warga Negara Singapura bernama M.Andi Bin Kamis senilai Rp.21.150.000 melalui PT.Chantika untuk operasional usaha penjualan air bersih. PT.BIS juga mengeluarkan dana sebesar Rp.210 juta ke CV.Safina Aircond Services dan Barbershop (Franchise) STARSBOX sebesar Rp.436.596.200,-.

Penulis:Roland
Editor :Redaksi 

Comments
Loading...