Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Tipu Polisi, Mantan Pengurus Melayu Raya Dituntut 3 Tahun Penjara

Jaksa Penuntut Umum saat membacakan tuntutan Kasus Penipuan, terdakwa mantan Pengurus Melaytu raya Terdakwa Hendri Yanto di PN Tanjungpinang dilakukan secara Virtual, Selasa (8/6/2021)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Terdakwa Hendri Yanto, mantan Pengurus organisasi Himpunan Melayu Raya (Himalaya) Tanjungpinang, dituntut 3 tahun penjara atas penipuan anggota Polisi yang dilakukan.

Tuntutan dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengganti, Sari Lubis di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (8/6/2021).

Dalam tuntutannya, Jaksa menyatakan terdakwa terbukti dengan sengaja dan melawan hukum melakukan penipuan secara berlanjut sebagaimana dakwaan pertama melanggar pasal 378 jo Pasal 64 ayat 1  KUHP.

“Meminta pada Majelis hakim agar menghukum terdakwa dengan hukuman 3 tahun penjara,” kata JPU dalam persidangan secara virtual.

Mendengar tuntutan itu terdakwa Hendri Yanto menyatakan keberatan dan langsung mengajukan pembelaan secara lisan. Kepada Majelis hakim, Terdakwa meminta keringanan hukuman dengan berjanji akan mengembalikan uang korban dengan cara mencicilnya.

Atas pembelaan terdakwa, Hakim PN Tanjungpinang Eduard MP Sihaloho, didampingi hakim anggota Novarina Manurung dan Justiar Ronald, menunda persidangan selama satu pekan untuk melakukan musyawarah putusan terdakwa.

Sebelumnya terdakwa Hendri Yanto didakwa pasal berlapis oleh Jaksa Penuntut Umum, atas penipuan yang dilakukan terhadap anggota Polisi.

Penipuan yang dilakukan Terdakwa, berawal dari perkenalan terdakwa yang mengatasnamakan Organisasi Melayu Raya dengan Pembina Mantan Wakapolda Kepri.

Kemudian, terdakwa meminta bantuan modal kepada korban yang tidak lain adalah mantan Wakapolres Tanjungpinang, dengan alasan untuk memodali proyek kegiatan pengadaan, perawatan racun api (APAR) di Biro Umum Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Terdakwa saat itu berjanji akan memberikan fee dari keuntungan proyek pengadaan barang di Provinsi yang dikalinya diperoleh dan dikerjakan tersebut.

Atas permintaan itu, selanjutnya korban percaya dan memberikan uang senilai Rp30 juta dengan cara di transfer ke rekening milik terdakwa. Sekitar bulan Agustus 2019, terdakwa kembali mengikuti kegiatan proyek cetak baliho di Provinsi Kepulauan Riau dan meminjam uang senilai Rp 10 juta kepada korban. Uang tersebut selanjutnya juga ditransfer korban.

Lagi-lagi pada bulan yang sama terdakwa meminta tambahan modal kegiatan cetak senilai Rp 34.800.000. Namun dalam kenyataannya kegiatan pemeliharan APAR dan kegiatan cetak baliho di provinsi Kepri itu, bukan terdakwa yang mengerjakan, tetapi dikerjakan oleh CV.Namula Bintan Adarma. Sedangkan yang mengerjakan cetak baliho adalah saksi Sukaesih.

Akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami kerugian kerugian Rp74.800.000, dan melaporkan penipuan yang dilakukan terdakwa ke Polisi.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi

Comments
Loading...