Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Dua Terdakwa Korupsi DIJP-BUMD Bintan ”Sulap” Laporan Rugi Jadi Untung

Sidang lanjutan dugaan korupsi DIJP PT BIS-BUMD Bintan menghadirkan saksi Budi Gunawan dari Kantor Akuntan Publik dan Nurfian dari BPKAD Bintan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (14/6/2021). (Foto: Roland/Presmedia.id).

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Dua terdakwa korupsi Dana Investasi Jangka Pendek (DIJP) di PT.Bintan Inti Sukses (BIS) BUMD Bintan, Risalasih dan Teddy Ridwan ternyata ”menyulap” laporan kerugian menjadi keuntungan dalam Laporan tahunan  keuangan perusahan yang dipimpinanya.

Padahal secara riil, program DIJP BUMD Bintan itu merugi besar. Hal itu terungkap dari keterangan Budi Gunawan, saksi Auditor dari Kantor Akuntan Publik dan Nurfian Kabid Kebendaharaan Akuntansi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bintan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (14/6/2021).

Dalam keterangan, saksi Budi Gunawan selaku Angkutan Publik mengatakan, proses audit yang dilakukan terhadap PT.BIS dilakukan dari proposal program investasi Direksi dan setelah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) setiap tahun diperbaharui.

“Audit ini dilakukan setiap awal tahun. Proses audit dilakukan pada laporan pertanggungjawaban 2015 sampai 2018. Untuk tahun tahun 2015 PT BIS mengalami laba (keuntungan) bersih Rp79 Juta setelah dipotong pajak,” sebutnya.

Selanjutnya, pada 2016 laba bersih T.BIS Rp1 miliar, tahun 2017 sebesar Rp 271 dan tahun 2018 mengalami kerugian Rp 47 juta. Sedangkan di tahun 2019 PT.BIS juga dinyatakan memiliki laba bersih sebesar Rp 289 juta.

Sejumlah keuntungan dan Laba berdasarkan Laporan lanjutnya, dibuat Direksi berasal dari sektor bidang usaha kios, ruko, lego jangkar. Sayangnya, sejumlah jenis usaha kegiatan Perseroan Daerah Bintan itu, tidak disebutkan di dalam akta pendirian Perusahaannya sebagai jenis usaha kegiatan yang dilaksanakan.

“Sedangkan dasar kami melakukan audit adalah laporan keuangan, kontrak kerja, legalitas dan perpajakan,” ucapnya.

Mengenai Dana Investasi Jangka Menengah (DIJP) lanjut Budi Gunawan, juga tertera didalam laporan Keuangan PT.BIS, yang diberikan kepada sejumlah perusahaan, diantaranya tahun 2015 CV Multi Coco Organik sebesar Rp1,5 miliar yang baru disetor ke PT BIS Rp 750 juta, di tahun 2016 untuk pendapatannya Rp 400 juta.

Selanjutnya masih di tahun 2016, CV Safina Aircond Service (SAS) diberi dana senilai Rp700 juta, lebih tersendat lagi tetapi keuntungan dimasukan terus dan dilaporkan.

”Modalnya habis dan jatuh tempo kontrak di tahun 2017. Namun modal  belum dikembalikan saat itu. Artinya rugi secara ekonomis dan dikembalikan sebesar Rp 446 juta pada tahun 2020,” bebernya.

Kemudian, tercatat pula pemasaran ikan yang dilakukan Saipul sebesar Rp128 juta, M Andi sebesar Rp 21 juta. PT Chantika sebesar Rp 210 juta, dalam laporan dibuat keuntungan tetapi uangnya tidak dimasukan ke kas perusahaan.

”Tak saja itu, ada juga usaha Barbershop (franchise) dengan STARSBOX sebesar Rp 436 juta, ini investasi yang sebenarnya. Jadi cuman dicatat sebagai piutang investasi dengan pendpatan Rp 26 juta,” beber Budi.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Risalasih dan Terdakwa Teddy Ridwan melakukan tindak pidana Korupsi dalam pengelola penyertaan modal Pemerintah Daerah Bintan di BUMD PT BIS pada tahun 2015 sebesar Rp3.66 miliar.

Kerugian itu bersumber dari Piutang BUMD PT BIS tahun buku 2016 dan 2017 yang belum disetorkan ke Kas Perusahan berdasarkan audit laporan keuangan.

Selain itu, juga ditemukan piutang laba dari pendapatan investasi jangka pendek yang belum dibayarkan CV SAS sebesar Rp 252 juta yang dikelola Syaiful.

Kemudian dana pinjaman kepada pengusaha warga Negara Singapura bernama M Andi Bin Kamis senilai Rp 21,15 juta melalui PT Chantika untuk operasional usaha penjualan air bersih. PT BIS juga mengeluarkan dana sebesar Rp 210 juta ke CV SAS dan Barbershop (Franchise) STARSBOX sebesar Rp 436,5 juta.

Penulis:Roland
Editor   :Ogawa

Comments
Loading...