Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

PPKM Darurat Covid-19 Tanjungpinang, Kapolres Sebut Banyak Warga Tak Mau Isolasi Terpadu

*Warga Membantah Disebut Tidak Mau Isloasi Terpadu *Pemko Tanjungpinang Mengaku Kewalahan

Kapolres Tanjungpinang AKBP.Fernando saat memberi ketrangan atas evaluasi 6 hari pelaksanaan PPKM Darurat Covid-19 di Kota Tanjungpinang.(Foto:Roland/presmedia.id)  

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Tanjungpinang AKBP Fernando mengatakan, evaluasi selama 6 hari pelaksanaan PPKM Darurat Covid-19 di Tanjungpinang, banyak warga yang terpapar positif Covid-19 tidak mau di isolasi terpadu.

Dan hingga saat ini, terdapat seribu lebih warga Tanjungpinang yang terpapar positif Covid-19, termasuk 9 orang yang meninggal dalam satu hari, merupakan pasien positif Covid-19 yang melaksanakan Isolasi Mandiri (Isoman).

“Hingga saat ini, masih ada warga yang tidak mau di isolasi secara terpadu hingga mengakibatkan timbulnya klaster-klaster perumahan,” ujar AKBP Fernando pada wartawan di Tanjungpinang, Sabtu (17/7/2021).

Fernando juga mengatakan dalam pelaksanaan PPKM Darurat kota Tanjungpinang, Empat Polsek sebagai Pos PPKM Darurat di Tanjungpinang, setiap hari diberikan target, agar mencari dan membawa pasien Positif Covid yang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) di rumah ke tempat isolasi terpadu.

“Tujuannya, agar pasien positif yang isoman dibawa ke isolasi terpadu agar semua terkontrol dan tidak terjadi penyebaran. Karena kita juga mengkhawatirkan adanya sampah medis yang dihasilkan warga yang Isoman akan menjadi wadah menjangkiti warga lainya,” kata Fernando.

Selain itu, Fernando juga mengeluhkan masalah logistik dan pendanaan dari pemerintah, atas kondisi APBD kota Tanjungpinang yang saat ini mengalami penurunan. Hingga Pemerintah yang diharapkan turun ke Lapangan membantu Pasien Isoman juga mengalami kendala.

Dengan anggaran yang saat ini terbatas lanjutnya, Pemerintah kota Tanjungpinang tidak lagi mengurus pasin isoman, karena isolasi terpadu sudah disiapkan semua dan terkontrol.

Sedangkan mengenai Penertiban sejumlah tempat dan pelarangan kerumunan, pada saat PPKM Darurat, Fernando mengatakan hingga saat ini berjalan dengan baik.

“Saya melihat khususnya tempat makan dan kawasan Esensial dan Praktikal lainya, sudah menerapkan protokol kesehatan dan larangan makan ditempat pada rumah makan juga sudah dilaksanakan dengan sistem “Beli dan bawa pulang (take away),” ujarnya.

Tim Satgas PPKM Darurat lanjutnya, juga terus melakukan Patroli keliling, atas kerjasama dan pemahaman Masyarakat itu, Kapolres mengucapkan terimakasih.

Warga Bantah Disebut Tidak Mau Isolasi Terpadu

Pernyataan Kapolres atas evaluasi PPKM darurat di kota Tanjungpinang ini bertolak belakang dengan pendapat masyarakat. Sejumlah warga mengaku bukan tidak mau diisolasi terpadu, Tetapi, justru Pemerintah kota Tanjungpinang yang tidak mampu menyiapkan tempat Isolasi terpadu bagi warganya. Sementara tempat Isolasi Terpadu Hotel Loas di Bintan, saat ini dikatakan juga telah penuh.

Ad salah seorang warga jalan Hang Lekir mengakui, pada 11 Juli 2021 lalu istrinya dinyatakan positif Covid-19, justeru disarankan petugas puskesmas menjalani soman di rumah dengan alasan hanya menderita gejala demam saja dan tempat karantina mandiri di Hotel Lohas sedang penuh.

“Tapi, saya menolak. Karena, kami tinggal di perumahan  dan Rumah kami juga tidak mumpuni untuk isoman pasien Covid,” ujar Ad.

Oleh karena itu, ia pun mendesak agar sang istri mendapat tempat Karantina terpadu, hingga akhirnya dibaca juga ke Loas.

Tragisnya, hingga saat ini, tidak satupun petugas Satgas yang mendatangi rumahnya untuk melakukan edukasi atau menyemprotkan disinfektan. Padahal sudah hampir sepekan istrinya terkonfirmasi positif.

Pemko Tanjungpinang Mengaku Kewalahan

Sebelumnya, Koordinator Satgas Covid Bidang Vaksinasi dan Penurunan angka Positif Covid, Riono mengakui banyaknya keluhan masyarakat itu. Hal itu kata Riono, disebabkan semakin banyak dan bertambahnya pasien positif Covid-19 yang terpapar di Tanjungpinang sementar tenaga medis dan kesehatan minim.

“Memang Kami akui banyak keluhan warga terkait pelayanan  kesehatan pada pasien positif covid-19 yang melakukan Ishoma ini. Dan saat ini memang tenaga medis kita kewalahan akibat banyaknya warga yang terpapar dan terbatasnya tenaga Medis, tenaga mereka (Medis-red) juga terus diforsir,” kata Riono, Rabu (12/7/2021) kemarin.

Harusnya lanjut Riono, Tanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan, terhadap warga terpapar Covid yang Isoman dilakukan oleh dinas kesehatan dan Puskesmas di wilayah warga yang terpapar Covid-19 tersebut tinggal.

Namun dengan banyaknya pasien yang terpapar Covid-19 yang saat ini membuat tenaga kesehatan dalam penanganan mengalami kewalahan.

Terkait dengan pelaksanaan pengawasan terhadap 1.197 warga yang positif Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri, Riono juga mengakui banyak yang terabaikan. Dan pemantauan yang dilakukan Nakes dan dokter di Tanjungpinang dilakukan hanya melalui Telepon.

Akibatnya, upaya treatment, Tracking serta pemberian asupan obat bagi warga yang terpapar dan melakukan isolasi Mandiri di rumah banyak yang tidak tertangani.

“Isolasi mandiri ini memang memiliki kelemahan dari pengawasan, hingga dalam pelaksanaanya, Pemerintah meminta Keluarga dan Tim Covid di Tingkat RT dan RW melakukan pemantauan,” sebutnya.

Riono juga mengakui, masalah terbesar Pemerintah kota Tanjungpinang dalam penanganan Covid-19 saat ini adalah, di penanganan pasien isolasi Mandiri. Dan diakuinya tempat Isolasi terpadu di Loas hotel, saat ini kapasitasnya juga sudah penuh dan Pemerintah, juga belum memiliki dana untuk mengadakan lokasi tempat Isolasi Terpadu di Tanjungpinang.

“Kalau menurut saya, semua yang terpapar Covid-19 di kota Tanjungpinang saat ini harus diisolasi terpadu, Karena pengawasan, Pemantauan dan Perawatanya akan lebih baik,” jelasnya.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi

Comments
Loading...