Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Bacakan Pledoi Sambil Menangis, Rini Mengaku Menyesal dan Titel Palsunya Dipolitisir

Terdakwa Rini Pratiwi usai menjalani Sidang dengan agenda pembacaan Pembelaan Pledoi di PN Tanjungpinang (Foto:Roland/Presmedia.id) 

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Terdakwa Rini Pratiwi dalam kasus gelar atau titel palsu, menangis terisak saat membacakan pledoi pembelaannya atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (21/7/2021).

Terdakwa yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Tanjungpinang ini, mengatakan ada sejumlah hal yang tidak masuk akal, selama jalannya persidangan kasusnya.

Bahkan, Dia menuding ada unsur politis yang kuat dari fungsionaris Partainya di PKB, yang menjadikan perkara pemalsuan gelar yang diduga dilakukanya itu saat mendaftar sebagai anggota DPRD kota Tanjungpinang.

“Sepanjangang perjalanan sidang, ada beberapa hal yang membuat kasus saya ini aneh (Pelik) atas adanya unsur politis yang kuat dalam kasus pemalsuan titel ini,” ujarnya.

Hal itu lanjut Rini, diketahui melalui salah seorang saksi, yang menyebutkan salah seorang mantan Pengurus Partai PKB bernama Ikhsan yang sebelumnya Sekretaris DPC PKB Tanjungpinang, tidak terima atas jabatanya yang saat ini dijabat oleh Terdakwa.

Selain itu, Rini juga menduga, saat pendaftaran diri sebagai Caleg ke KPU, KPU Tanjungpinang juga tidak ada memberi masukan atas informasi  kesalahan titel yang tidak sesuai dari Caleg yang terdaftar.

Rini bercerita, setelah tiga hari proses berlangsung, tidak ada satupun atau pihak manapun termasuk Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kepri yang mempersoalkan data pribadinya.

“Tetapi setelah saya menjadi DPRD terpilih, isu ini kembali mencuat,” ucapnya.

Dan setelah beberapa bulan dilantik sebagai anggota DPRD kota Tanjungpinang lanjutnya, Dia kemudian juga dilaporkan PMII kepada Polisi, yang mana tidak pernah mengenal Pelapor.

Rini juga mengaku, kendati mendaftar dengan menggunakan Titel Palsu sebagai anggota DPRD, tetapi setelah menjadi dewan dia telah melakukan banyak hal untuk masyarakat.

Namun akibat kasus dugaan titel palsu-nya itu, saat ini kinerjanya sebagai anggota DPRD tidak efektif, sebab harus membagi diri kepada masyarakat menghadapi perkara serta keluarga.

“Jujur yang mulia, sulit bagi saya untuk menjalani proses hukum ini. Selain memastikan diri saya baik-baik saja, orang sekitar saya juga harus aman,” paparnya.

Dampak lainya, juga terhadap keluarga dan anak-nya yang mengakibatkan bapaknya terkena serangan jantung pada September 2020 atas penetapannya sebagai tersangka oleh Polres Tanjungpinang.

“Saya seorang ibu tunggal anak saya 5 tahun dalam perkembangan dapat mengerti pemberitaan tentang saya. Saya khawatir berdampak kepada perkembangan mental dan psikis anak saya,” kata Rini sambil menangis terisak-isak.

Rini mengaku menyesal dengan kekeliruan dalam membuat gelar dari yang semestinya digunakan. Dan atas hal itu Politisi PKB ini, berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

“Itu terjadi atas ketidaktahuan saya. Karena memang pada ijazah saya tidak diberikan contoh,” pungkasnya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andriansyah dari Kejaksaan Negeri Tanjungpinang menuntut terdakwa Rini Pratiwi, 1 tahun penjara denda Rp100 juta subsider 6 bulan penjara.

Dalam tuntutannya, Jaksa menyatakan terdakwa terbukti bersalah telah melakukan pemalsuan gelar akademik, sebagaimana dalam dakwaan tunggal melanggar Pasal 68 Ayat 3 Jo Pasal 21 Ayat 4 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Mendengar pembelaan terdakwa Majelis Hakim yang diketuai Boy Syailendra didampingi Hakim Anggota, Novarina Manurung dan Sacral Ritonga menunda persidangan selama satu pekan dengan agenda tanggapan JPU terhadap pledoi terdakwa.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi 

Comments
Loading...