Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Kasus Pembunuhan di Malang Rapat Bintan, Lima Luka Bacok Sebabkan Arni Sanam Meninggal Dunia

Sidang kasus pembunuhan sadis korban Arni Sanam di Malang Rapat Bintan. Tiga warga diperiksa sebagai saksi atas terdakwa Bernad Nabu (foto:Roalnd/ presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Sidang kasus pembunuhan Arni Sanam dengan terdakwa Bernard Nabu di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan digelar di PN Tanjungpinang.

Jaksa penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Bintan, menghadirkan 3 saksi fakta masing-masing Zaleha sebagai pemilik kos, Moses sebagai saksi yang melapor ke Polisi serta Amirudin warga yang melihat terjadinya pembunuhan itu ke Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (1/11/2021).

Dalam kesaksianya, saksi Zaleha sebagai pemilik kos tempat korban tinggal mengatakan, terdakwa dan korban yang tinggal di Kos-nya mengaku sebagai suami istri itu. Dan tinggal bersama di kos miliknya sejak 7 Februari 2021.

“Kepada saya terdakwa mengaku Arni Sanam itu adalah istrinya. Dan saya memang tidak minta bukti surat nikah atau Kartu Keluarga (KK),” ujar Zuleha.

Mengenai kejadiaan pembunuhan saksi mengaku, mengetahui setelah warga sekitar memberi tahukan, bahwa korban dibunuh di halaman rumahnya kampung Pemukiman RT3/RW01 Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan.

Mengenai penyebab dibunuh korban, saksi Zaleha mengaku tidak mengetahui.

“Tapi kata Polisi korban dibacok terdakwa karena cemburu,” ujarnya.

Sementara saksi Moses, mengaku sebelumnya telah mengenal terdakwa Bernard Nabu yang bekerja sebagai buruh di Perusahaan Kelapa Sawit PT.Tirta Madu. Terdakwa lanjutnya, bekerja baru sekitar satu tahun lebih.

Mengenai pembunuhan yang dilakukan terdakwa, Moses mengaku mengetahui kejadian itu dari warga. Selanjutnya, Dia-pun melaporkan hal tersebut ke Polisi.

“Saat itu saya langsung telepon Polisi, tidak ada yang berani pegang karena darah banyak sekali, saya kesitu masih bernafas,” ujar Moses.

Setelah itu lanjut Moses, Polisi dan Petugas Kesehatan datang dengan ambulan dan mengevakuasi jasad korban.

Dalam sidang ini, Jaksa Penuntut Umum juga membacakan hasil Visum Dokter terhadap jasad korban.

Berdasarkan hasil visum petugas Kesehatan, korban dinyatakan meninggal ditempat kejadian setelah mengalami pendarahan akibat 5 luka bacok yang dilakukan terdakwa.

Sejumlah luka bacok yang dialami korban, berada di bagian pipi sampai ke leher, bagian belakang kepala, lengan sebelah kanan, leher dan punggung belakang korban.

Sementara itu, Saksi Amirudin mengatakan, bahwa yang pertama kali menemukan korban setelah dibacok terdakwa adalah Tantri seorang warga sekitar.

“Saat itu saya lihat kak Tantri menangis dan memberi tahu kejadian yang dialami korban. Kemudian saya teriak ada pembunuhan,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan di Desa Malang Rapat kabupaten Bintan ini terjadi sekitar pukul 21.30 WIB, Rabu (4/8/2021) lalu.

Korban Arni Sanam yang merupakan pacar pelaku, dibacok secara sadis dan membabi-buta oleh terdakwa Bernard Nabu, karena cemburu saat ditelepon tidak diangkat.

Atas perbuatannya terdakwa didakwa Bernard Nabu didakwa Jaksa dengan dakwaan berlapis, melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang, serta pasal 351 ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan kematian.

Majelis Hakim PN Tanjungpinang Eduard MP Sihaloho didampingi Hakim anggota Risbarita Manurung dan Justiar Ronal, kembali menunda persidangan dan akan melanjutkan kembali minggu depan dengan agenda mendengar keterangan saksi lainya.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi

Comments
Loading...