Presmedia.id
Pengabdi Kebenaran

Pengguna Narkoba di Tanjungpinang Mengaku Diperas Oknum Polisi dan Yayasan Karsa

*Kasat Narkoba Polres Tanjungpinang dan Yayasan Karsa Membantah  

Penguna Narkoba mengaku jadi korban pemerasan Oknum Polisi dan pengurus Yayasan Karsa Tanjungpinang (Foto:Roland/
presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Seorang pengguna Narkoba di Tanjungpinang mengaku menjadi korban pemerasan oknum Polisi dan pengurus Yayasan Karsa.

Pemerasan itu berkaitan dengan hasil tes urin-nya yang dikatakan Polisi positif mengandung narkoba, sesaat setelah digerebek dan diamankan Polisi di rumahnya.

Atas penggunaan Narkoba itu, Pengguna yang namanya enggan dipublikasikan ini mengaku, diminta dana Rp.120 juta sebagai “uang tebus” dan biaya rehabilitasi oleh oknum anggota Polisi dan pemilik Yayasan Karsa.

Kepada Media, korban pengguna Narkoba ini bercerita, dugaan pemerasan itu berawal dari penggerebekan yang dilakukan sejumlah Polisi dari Satnarkoba polres Tanjungpinang di rumahnya beberapa Minggu lalu.

Pada saat itu kata korban, anggota Satres Narkoba membawa surat penangkapan dan langsung masuk ke rumah melakukan penggerebekan.  Saat ditangkap, Polisi juga melakukan penggeledahan. Namun tidak menemukan barang bukti narkoba maupun alat isap narkoba di rumahnya.

“Yang menggeledah rumah saya saat itu ada beberapa anggota Polisi bersama seorang pegawai yayan Karsa. Pak RT atau RW serta warga lain tak ada,” ujarnya bercerita.

Setelah penggeledahan, selanjutnya anggota Polisi melakukan tes urin dengan menggunakan  tes urin cepat (Narkotest). Hasilnya, dinyatakan positif menggunakan narkoba.  Kepada Polisi Ia juga mengakui pernah menggunakan Narkoba.

Selanjutnya, pengguna ini dibawa menggunakan Mobil dan diintrogasi, mengenai barang yang disimpan, kapan menggunakan dan dari siapa narkoba tersebut diperoleh.

Setelah dibawa menggunakan Mobil berputar-putar, Pengguna ini mengaku, Polisi tidak membawanya ke kantor Polres Tanjungpinang. Namun malah dibawa ke salah satu Hotel di Tanjungpinang.

“Alasan Polisi saat itu Sel Tahanan di Polres penuh, hingga saya diinapkan di Hotel,” ujarnya.

Kemudian keesokan harinya, Pengguna ini akhirnya dijemput dan dibawa ke Polres Tanjungpinang. Disana, Dia ditahan di sel tahanan Sat Resnarkoba Polres Tanjungpinang selama 6 hari.

“Saya ditahan bukan di sel gabung dengan tahanan lain. Tapi di sel Satnarkoba,” ujarnya lagi.

Di dalam tahanan Satres Narkoba itu,  salah seroang oknum anggota Polisi dari Satnarkoba Polres Tanjungpinang dikatakan melobi-nya. Oknum Polisi itu, memintanya agar menyediakan dana Rp40 juta agar dibebaskan dan keluar dari tahanan.

Selanjutnya pada hari keempat, Pengguna narkoba ini kembali dilakukan tes urine di RSUD  Tanjungpinang. Mengenai hasilnya Dia juga tidak diberi tahu Polisi.

Atas penangkapannya itu, akhirnya keluarganya juga diberitahu Polisi. Dan oknum Polisi yang menemui keluarganya juga meminta sejumlah dana agar dirinya bisa dibebaskan.

Selanjutnya, Keluarga Pengguna ini mengaku menyetorkan dana Rp50 juta ke Polisi melalui Yayasan Karsa.

“Hal itu saya tahu setelah keluarga bercerita, agar saya dibebaskan,” ujarnya.

Dana uang itu, dikatakan keluarga Pengguna adalah uang muka untuk rehabilitasi di Yayasan Karsa.

Pembicaraan dan  penyetoran uang rahabilitasi itu  Rp50 juta itu, juga diketahui dan disaksikan salah satu pegawai yayasan Karsa dan anggota Satres Narkoba Polres Tanjungpinang.

Setelah dana tersebut disetorkan, Pengguna ini pun dibawa ke Yayasan Karsa untuk direhabilitaso, Tiga hari di lokasi Yayasan itu, Pengguna ini mengaku tidak diberi fasilitas dan assasment rehabilitasi. Hingga akhirnya Diapun dikeluarkan.

“Di tempat Yayasan itu kami ada 8 orang, katanya semua pengguna narkoba,” jelasnya.

Setelah pulang kerumah dan bertemu dengan keluarganya, Pengguna ini juga diceritakan keluarga, Jika sebelumnya  Yayasan Karsa juga meminta dana sebesar Rp120 juta untuk biaya rehabilitasnya di Lido Bogor.

“Alasan Yayasan Karsa, Korban tidak direhab di BNN,” ujarnya.

Kasat Narkoba Polres Tanjungpinang Membantah

Kasat Narkoba Polres Tanjungpinang AKP Ronny Burungudju yang dikonfrimasi dengan penangkapan dan permintaan dana ini, membantah adanya pemerasan dalam penangkapan tersangka Narkoba itu. Demikian juga dengan penahanan terduga pelaku pengguna itu di salah satu hotel.

“Tidak benar Informasi itu,” ujar Ronny pada wartawan saat konfirmasi, Selasa, (2/11/2021).

Kepada wartawan, Ronny juga membantah adanya pemerasan dan permintaan uang yang dilakukan anggotanya. Demikian juga permintan puluhan bahkan ratusan juta uang dengan dalih sebagai biaya untuk rehabilitas.

Namun demikian, Ronny membenarkan adanya penangkapan dan penitipan pengguna Narkoba yang dilakukan ke Yayasan Karsa.

Yayasan Karsa katanya, merupakan tempat rehabilitasi yang memiliki izin resmi dari Pemerintah RI sesuai SK Menteri Sosial RI Nomor: 43/HUK/2020 Tentang Lembaga Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Dan sebagai Institusi penerima, wajib lapor bagi korban Penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif tahun 2020.

Di wilayah provinsi Kepulauan Riau kata Ronny, hanya ada 3 IPWL yang menampung korban pecandu Narkoba dan salah satunya adalah IPWL Yayasan Karsa di Tanjungpinang.

“Yang saya tahu 2 lainnya di Batam dan Karimun,” paparnya.

Mengenai proses rehabilitasi, Kasat Narkoba Polres Tanjungpinang ini juga mengatakan, setelah melakukan penangkapan terduga pelaku Narkoba. Juga menjadi kewenangannya membawa sebagai Polisi membawa penyalahgunaan Narkoba tersebut ke tempat rehabilitas di BNN atau IPWL yang memiliki izin resmi dan Kementrian Sosial RI.

“Saya cek data dulu yang pasti sudah ratusan orang penyalahguna dan korban penyalahguna narkoba yang kami selamatkan dengan membawa kerjabilitas itu,” sebutkan.

Pengurus Yayasan Karsa  Juga Membantah

Sementara itu, Ketua Yayasan Karsa Fernando Wilman juga membantah pihaknya di yayasan Karsa meminta Rp50 juta kepada korban pengguna narkoba yang direhabilitasi.

“Kalau diminta segitu saya sudah bisa bangun Gedung,” kata Fernando saat ditemui di Yayasan Karsa Tanjungpinang, Senin (1/11/2021).

Namun saat ditanya berapa biaya rehabilitas di yayasan itu, Fernando tidak dapat menyebutkan dengan alasan setiap klien berbeda perawatannya.

Fernando mencontohkan jika biayanya ditetapkan keluarga kliennya tidak sanggup sekian harus sesuai keluarga sanggupnya berapa.

“Biayanya berbeda pasti karena beda perawatan, Karena kita sawasta. Kita tidak mengambil keuntungan dan hanya biaya operasionalnya saja,”jelasnya tanpa menyebut angka.

Alasan Biaya Untuk Perawatan Klien

Fernando juga mengakui, jika selama ini Satnarkoba Polres Tanjungpinang telah melimpahkan sejumlah pengguna Narkoba ke yayasan rehabilitasinya.

Sejumlah orang yang diamankan dan ditangkap Polisi itu, dikatakan memang benar-benar pengguna dan tidak memiliki barang bukti.

Mengenai proses rehabilitasi yang dilakukan, ditentukan dari screening, dan kalau memang hasil screening rendah akan dilakukan dengan rawat jalan.

“Sedangkan jika hasil scrionningnya tinggi, dilakukan rawat inap. Tapi sebagian dari pengguna banyak juga yang tidak mau dirawat inap tetapi rawat jalan karena terbentur pekerjaan,” ujarnya.

Mengenai waktu dan lama proses rehabilitasi, Fernando mengatakan, untuk pengguna narkoba sedang direhabilitasi 3 sampai 4 bulan. Sedangkan untuk yang tinggi direhabilitasi 6 bulan. Dan yang rawat jalan hanya selama 3 bulan 10 kali pertemuan.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi 

Comments
Loading...