Kejari Bintan Restorative Justice Kasus Pencurian Nopriani

Nopriani, tersangka kasus pencurian di Bintan yang mendapat Restorative Justice. (Foto : Hasura/presmedia.id)
Nopriani, tersangka kasus pencurian di Bintan yang mendapat Restorative Justice. (Foto : Hasura/presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Bintan – Tangis bahagia Nopriani tumpah seketika saat mengetahui Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintan menghentikan kasus pencurian yang menjeratnya.

Ia pun spontan memeluk suaminya Alamsyah (44) yang masih menjalani proses hukum di Halaman Kantor Kejari Bintan, Km 16, Toapaya, Selasa (5/4/2022) sore.

Pasangan suami istri ini menjadi tersangka kasus pencurian yang diproses pihak Kepolisian Bintan. Namun, sang istri, Nopriani, dapat bebas menghirup udara segar karena mendapatkan restorative justice (RJ) di Pihak Kejaksaan.

Surat penghentian penuntutan kasus tersebut diserahkan langsung Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Kepri, Yudi Indra Gunawan kepada ibu tiga anak itu.

Dalam kesempatan itu, Nopriani, menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada para korban dan berterima kasih kepada jaksa yang sudah membantu dirinya untuk bisa kembali bertemu dan merawat anak-anaknya yang masih kecil.

“Saya bahagia sekali. Karena sudah bisa bertemu dan berkumpul kembali sama anak-anak saya,” ujar wanita berjilbab hitam itu.

Sementara sang suami, Alamsyah harus menjalani proses peradilan atas kasus yang menjeratnya. Sang istri, secara terpaksa harus meninggalkan suami sirihnya itu dan akan membuka lembaran baru bersama anak-anaknya.

Setelah bebas, Nopriani mengaku, akan kembali ke kampung halaman di Palembang Sumatera Selatan. Disana dia akan bekerja dan membesarkan ketiga anaknya.

“Saya janji tidak akan melakukan perbuatan (Mencuri) lagi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Bintan, I Wayan Riana, menerangkan pihaknya melakukan ekspose dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPidum) Kejagung RI dengan memaparkan kronologi kejadian, pasal yang disangkakan, kerugian, perdamaian serta kondisi tersangka.

“Alhamdulillah setelah ekspos, Restorative Justice kasus Nopriani ini disetujui JAMPidum. Penyerahan surat ketetapan penghentian penuntutan itu juga dilakukan oleh Kejati Kepri,” sebutnya.

Wakil Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Kepri, Yudi Indra Gunawan, mengatakan, penyelesaian perkara dengan sistem restorative justice (RJ) di Kepri sudah 14 kali dilakukan.

Dari jumlah kasus itu, 7 diantaranya di Kota Batam, 3 kasus di Karimun, 2 kasus di Tanjungpinang dan 2 kasus Bintan.

“Kasus Nopriani ini, merupakan RJ yang kedua kali diajukan Kejari Bintan dan disetujui oleh Kejagung RI.” ucapnya.

Yudi berharap ini menjadi pembelajaran buat yang bersangkutan untuk memperbaiki diri dan hidupnya. Kejaksaan akan mengedepankan penyelesaian persoalan sosial masyarakat dengan mengedepankan pola RJ. Sehingga, tidak semua persoalan Yuridis/hukum diselesaikan hingga ke meja hijau.

“Untuk persoalan-persoalan yang ringan yang bisa diselesaikan dengan cara bermusyawarah, kita dorong untuk diselesaikan tanpa melalui proses hukum,” tutupnya.

Penulis : Hasura
Editor : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.