Diperiksa Jaksa Acing “Berbelit” Mengenai Keuntungan Yang Diperoleh Dari Pengiriman PMI Illegal ke Malaysia

Jaksa Penuntut dari Kejaksaan Negeri Bintan saat memeriksa berkas dan Terdakwa Susanto alias Acing pada Tahap II Terdakwa dan Barang Bukti Kasus TPPO dan TPPU dari penyidik Polda Kepri
Jaksa Penuntut dari Kejaksaan Negeri Bintan saat memeriksa berkas dan Terdakwa Susanto alias Acing pada Tahap II Terdakwa dan Barang Bukti Kasus TPPO dan TPPU dari penyidik Polda Kepri (Foto:Hasura/presmedia.id) 

PRESMEDIA.ID, Bintan – Diperiksa Jaksa saat Tahap II (Penyerahan Tersangkaa dan Barang-Bukti), tersangka Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Susanto alias Acing “berbelit” dan keterangannya berubah-ubah.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Bintan, Gustian Juanda Putra, mengatakan berdasarkan pengakuan tersangka Acing, setiap PMI yang dibawa dan dikirim ke Malaysia diminta Rp 1,2 juta per orang.

Selain itu tersangka juga mengaku, memberangkatkan PMI illegal itu 4 kali dalam satu bulan dari pelabuhaan Gentong Tanjung Uban ke Pasir Gudang Malaysia.

Namun ketika ditanyakan sejak kapan tersangka melakukan bisnis memberangkatkan PMI oleh Jaksa, tersangka Acing memberikan jawaban berbelit-belit dan berubah-ubah.

“Acing awalnya menjawab sejak 2018. Terus berubah lagi 2015 pak eh, 2016 pak gitu. Dia seperti ingin menyelamatkan aset-nya,” kata Gustian.

Selain itu, Acing juga mengaku tidak memiliki ATM tetapi hanya memiliki uang Rp 200-400 juta-an.

Jaksa Surati Penyidik Hadirkan Tekong Kapal dan PMI di Malaysia Sebagai Saksi

Atas keterangan tersangka Susanto alias Acing yang berbelit-belit itu, Jaksa Penuntut Kejaksaan Negeri Bintan, mengaku, telah menghubungi penyidik agar dapat menyurati atase di Malaysia untuk menghadrikaan sejumlah saksi yang saat ini menjalani pidana di Malaysia itu di persidangaan secara.

Sebab para saksi-saksi yang berada di negeri Jiran tersebut seperti tekong kapal dan ABK kapal untuk dapat menghadiri sidang secara on-line.

“Kita minta saksi yang ada di Malaysia bisa dibantu untuk hadir dalam sidang secara online nantinya,” kata Gustian laagi.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 6 tersangka dalam kasus  dalam kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) atas tenggelamnya kapal pengangkut Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Johor Bahru Malaysia akhir 2021 lalu ini telah diserahkan Penyidik Polda Ke Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bintan.

Ke 6 tersangka yang diserahkan pada Tahap II itu adalah, Tersangka Susanto alias Acing, kemudian tersangka Mulyadi alias Ong yang dijerat dengan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Sedangkan 4 tersangka lainya, Agus Salim alias Botak, Nasrudin alias Ogam Juna Iskandar dan Erna Susanti dijerat dengan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Atas perbutanya, Acing dan sejumlah tersangkaa laainyaa dijerat Pasal 4 Jo Pasal 16 Undang-Undang (UU) RI Nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kemudian Pasal 83 Jo Pasal 68 UU RI Nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja Migran.

Penulis:Hasura
Editor :Redaksi  

Leave A Reply

Your email address will not be published.