Terbukti Jadi Mafia Tanah, Lurah dan Notaris di Bintan Dituntut 2 tahun dan 6 Penjara

Terbukti Jadi Mafia Tanah, Jaksa menuntut Lurah dan Notaris di Bintan 2 tahun dan 6 Penjara di PN Tanjungpinang
Terbukti Jadi Mafia Tanah, Jaksa menuntut Lurah dan Notaris di Bintan 2 tahun dan 6 Penjara di PN Tanjungpinang

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintan menuntut dua terdakwa mafia tanah, Lurah Tanjung Permai terdakwa Syamsudin dan Notaris di Tanjung Uban terdakwa Ratu Aminah Gunawan dengan hukuman 2 tahun dan 6 bulan Penjara.

Kedua terdakwa, aparatur Lurah dan Notaris sebagai perwakilan negara ini, dinyatakan terbukti memalsukan surat dan menggelapkan lahan milik orang lain, dalam kasus sindikat mafia Tanah di Bintan.

Jaksa Penuntut Umum Gustian Juanda Putra mengatakan, tuntutan dua terdakwa pemalsuan surat dan penggelapan tanah dalam sindikat mafia tanah di Bintan itu telah dibacakan pada Jumat (8/4/2022)lalu di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang.

Kedua terdakwa lanjut Gustian, terbukti bersalah melakukan, menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan, membuat akta otentik atau memalsukan akta otentik, dengan maksud untuk menggunakan, menyuruh orang lain menggunakan akta itu seolah-olah asli dan tidak dipalsukan, jika pemakaian tersebut dapat mendatangkan suatu kerugian.

Hal ini sebagaimana dalam dakwaan alternatif kedua melanggar pasal 264 Ayat 1 KUHP Jo Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP.

“Kedua terdakwa Lurah Tanjung Permai Syamsudin dan Notaris di Tanjung Uban terdakwa Ratu Aminah Gunawan kami tuntut masing-masing pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan,” jelasnya Kamis(14/4/2022).

Ia menyampaikan atas tuntutan itu kedua terdakwa yang didampingi masing-masing kuasa Hukumnya mengajukan pembelaan secara tertulis.

Sebelumnya, Penyidik Polisi menetapkan 5 tersangka selanjutnya di PN disebut Terdakwa dalam kasus mafia tanah dengan modus pemalsuan dan penggelapan lahan milik warga di Tanjung Uban ini.

Ke lima komplotan sindikat mafia tanah Bintan itu adalah Syamsudin selaku Lurah Tanjung Permai bersama staf kelurahan terdakwa Riki Putra dan Candra gunawan. Kemudian Notaris Tanjung Uban terdakwa Ratu Aminah, bersama satu warga sipil terdakwa Hariadi alias Sung Chuang.

Perbuatan penipuan dan pemalsuan surat itu berawal dari penjualan lahan milik Supriati dengan hak kepemilikan surat tebas nomor: 0008/TU/1961 atas nama Haji Husin Jalan Indun suri (Depan dealer Yamaha) Kelurahan Tanjung Permai Seri Kuala Lobam Kabupaten Bintan.

Atas penjualan lahan itu, terdakwa Hariadi alias Sung Chuang (Makelar-red) menawarkan tanah tersebut kepada korban Cheng Liang warga Batam.

Namun dalam perjalanan, selain memanipulasi harga lahan untuk menipu korban Cheng Liang, Terdakwa Hariadi alias Sung Chuang bersama komplotan mafianya, juga mengurangi ukuran jumlah lahan milik Supriati dari 4 hektar menjadi 92,5 hektar.

Selanjutnya, sisa lahan milik korban itu kembali diuruskan suratnya dengan data palsu bersama Notaris Tanjung Uban terdakwa Ratu Aminah Gunawan. Pengurangan ukuran lahan dan pengurusan surat ini, juga melibatkan Lurah dan pegawai di Kelurahan Tanjung Permai Bintan.

Penulis : Roland
Editor : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.