Enam Terdakwa Perekrut dan Pengirim 60 PMI Tenggelam di Malaysia Didakwa Pasal Memperdagangkan Orang

*Begini Proses Rekrutmen dan Pengiriman PMI Oleh 6 Terdakwa *Diberkas Terpisah Susanto Alias Acing Juga Didakwa UU Pelayaran

Sidang Online 6 Terdadakwa Perekrut dan Pengiriam 60 PMI Tenggelam Di Malaysia dilakukan secara bergantian di PN Tanjungpinang Rabu (20-4-2022)
Sidang Online 6 Terdadakwa Perekrut dan Pengiriam 60 PMI Tenggelam Di Malaysia dilakukan secara bergantian di PN Tanjungpinang Rabu (20-4-2022) (Foto:Roland/Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Enam terdakwa kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal yang tenggelam di Malaysia, Didakwa Pasal berlapis memperdagangkan orang dan tidak melindungi Pekerja Migran.

Dakwaan dibacakan Jaksa Penuntut Umum Yustus SH pada sidang online secara terpisah, di PN Tanjungpinang, Rabu (20/4/2022).

Ke enam terdakwa itu adalah Susanto alias Acing, Muliadi alias Ong (Bos perekrut PMI), Juna Iskandar Alias Juna, Agus Salim alias Agus Botak, dan Erna Susanti alias Erna

Dalam dakwaan, Jaksa mengatakan, bahwa terdakwa Acing bersama-sama dengan lima terdakwa lainnya, membawa WNI dengan maksud untuk dieksploitasi ke luar wilayah Indonesia. Perbuatan tersebut, dilakukan secara kelompok dan terorganisasi hingga mengakibatkan korban meninggal.

Jaksa menyatakan, perbuatan ke 6 terdakwa dilakukan dengan peran masing-masing, yang diawali dari rekrutmen oleh terdakwa Muliadi alias Ong (Bos perekrut PMI) kemudian terdakwa Juna Iskandar Alias Juna, Agus Salim alias Agus Botak, dan Erna Susanti alias Erna di wilayah Jawa dan NTB.

Setelah merekrut dan menemukan orang yang mau bekerja di Luar Negeri itu, Kemudian terdakwa Mulyadi alias Ong bekerja sama dengan 4 terdakwa lainya mengumpulkan sejumlah WNI yang menjadi PMI itu di Batam.

Selanjutnya, terdakwa Mulyadi alias Ong menghubungi terdakwa Susanto alias Acing, pengusaha pemilik 6 kapal speedboat yang dipergunakan untuk membuat dan mengirimkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ilegal itu, dari pelabuhan illegal Gentong Tanjung Uban-Bintan ke Johor Bahru Malaysia melalui jalur laut.

“Terdakwa Acing bekerjasama dengan terdakwa Muliadi untuk memberangkatan 60 PMI ilegal kurang lebih sebanyak 6 sampai 8 kali dengan memungut bayaran Rp5-6 juta per orang,” ujar Jaksa.

Pemberangkatan para PMI, dilakukan terdakwa Acing setelah sebelumnya terdakwa Muliadi menghubungi istri terdakwa Acing untuk memberitahu bahwa ada 60 PMI yang siap diberangkatkan ke Malaysia dan saat itu berada di 3 rumah penampungan milik terdakwa Acing di Tanjung Uban-Bintan.

Dari 60 PMI itu, Mulyadi alias Ong dan 4 terdakwa lainya selanjutnya menyetorkan Rp1,2 juta per orang kepada terdakwa Susanto alias Acing, sebagai dana pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ilegal itu dari pelabuhan illgeal Gentong Tanjung Uban Bintan ke Johor Bahru Malaysia. Dari dana tersebut terdakwa Acing menerima Rp72 juta biaya pengiriman PMI itu dari Mulyadi.

“Uang tersebut ditransfer terdakwa Muliadi ke rekening istri terdakwa Acing, Agustina, kakak ipar atas nama Marjasiah,” ujar Jaksa.

Selanjutnya, Busra (DPO), mengatur pemberangkatan ke 60 orang calon PMI itu dari penampungan milik Acing di Tanjung Uban-Bintan pada 15 Desember 2021 sekitar dini hari. Kapal sendiri, dinahkodai oleh Yani dengan dua ABK Yunus dan Sofian dari pelabuhan Gentong menuju Johor Bahru Malaysia.

Namun Naas, ketika di tengah laut kawasan Johor Bahru-Malaysia, kapal pengangkut PMI gel yang diberangkatkan terdakwa ini, terbalik dan tenggelam hingga mengakibatkan 19 orang PMI meninggal dunia. Sementara 32 orang hilang dan belum diketahui keadaanya, dan 13 orang PMI lainya selamat.

Atas perbuatannya keenam terdakwa didakwa dengan dakwaan pertama melanggar pasal 7 ayat 2 jo pasal 4 jo pasal 16 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Kemudian dalam dakwaan kedua melanggar pasal  81 Jo Pasal 69 UU Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor  11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana.

Dalam dakwaan ketiga melanggar pasal 83 Jo. Pasal 68 Undang– Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor  11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat (1) ke – 1 KUHPidana.

Diberkas Terpisah Susanto Alias Acing Juga Didakwa UU Pelayaran

Selain didakwa Pasal berlapis memperdagangkan orang dan tidak melindungi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dalam berkas terpisah, terdakwa Susanto alias Acing juga didakwa Pasal UU Pelayaran, karena mengoperasikan dan mengangkut orang dengan menggunakan Kapal tanpa Surat Izin Berlayar.

Pada kasus pelayaran dengan ancaman hukuman dibawah 4 tahun ini, terdakwa Susanto alias Acing di dakwaan melanggar pasal 287 Jo Pasal 27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran sebagaimana telah diubah oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana

Dalam dakwaan kedua, terdakwa juga disebut melanggar Pasal 297 Ayat (2) Jo Pasal 339 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Mendengar dakwaan itu, Pengacara terdakwa Acing, Zudy Fardy SH menyatakan keberatan dengan dakwaan JPU, dan akan mengajukan Eksepsi.

Sementara Kuasa Hukum 5 terdakwa lainnya An Nur Syarifudin SH, menyatakan tidak keberatan dengan dakwaan JPU, dan tidak mengajukan eksepsi.

Atas dakwaan itu, Majelis hakim yang dipimpin Boy Syailendra didampingi Hakim anggota Guntur dan Anggalanton Boangmanalu menunda persidangan dengan agenda mendengar eksepsi terdakwa Acing pada Senin (25/4/2022) mendatang.

Penulis:Roland
Editor :Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.