Jadi Saksi Terdakwa Acing di Kasus TPPO, Ini Cerita Sejumlah PMI Selamat Yang Tenggelam di Malaysia

Sidang Lanjutan kaasus TPPO pengiriman PMI secara illgeaal ke Malaysia oleh Terdakwa Susanto alias Acing di PN Tanjungpinang 10 PMI semat dihadirkan secara online
Sidang Lanjutan kaasus TPPO pengiriman PMI secara illgeaal ke Malaysia oleh Terdakwa Susanto alias Acing di PN Tanjungpinang 10 PMI semat dihadirkan secara online

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Sebanyak 10 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) korban kapal tenggelam di Malaysia, dihadirkan Jaksa sebagai saksi dalam sidang lanjutan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan terdakwa Susanto alias Acing di PN Tanjungpinang, Kamis (12/5/2022).

Ke 10 orang PMI korban TPPO itu adalah saksi Fahroji, Alwi, Hendrik, Lalu, Yoan, Irsan, Unaidi, Riki, Usnur dan Meidita Ruparti. Sejumlah saksi diperiksa secara online di Malaysia.

Salah seorang PMI Fahroji, mengatakan dirinya nekat masuk secara ilegal ke Malaysia karena dibawa oleh terdakwa Juna Iskandar bersama sejumlah PMI lainya.  Untuk menjadi PMI yang diberangkatkan secara illegal, Fahroji dan sejumlah rekannya mengaku membayar Rp 5-6 juta per orang kepada Juna.

Dengan dana yang disetor itu, selanjutnya korban dan rekanya berangkat dari kampung halamny ke Batam dan sebelum diberangkatkan, mereka juga sempat ditempatkan disebut penampungan di Batam sebelum akhirnya diberangkatkan Bintan.

“Saat itu Kami dijemput dan dibawa ke Tanjung Uban,” ujarnya secara online.

Sebelum diberangkatkan lanjut Fahroji, Dia ersama sejumlah PMI lainya juga dikumpulkan di penampungan milik Acing. Hingga akhirnya sekitar pukul 23.30 WIB Rabu (15/5/2022) saat itu, diarahkan masuk kapal Speedboat di Pelabuhan Gentong Tanjung Uban-Bintan untuk berangkat.

“Kami berangkat saat itu sekitar pukul 23.30 Wib dan di dalam Speedboat ada 62 orang PMI dan 2 ABK dan Tekong. Seluruh PMI yang diberangkatkan ke Malaysia dengan speedboat itu membayar Rp5 sampai 6 juta per orang,” jelasnya.

Setelah berangkat dari pelabuhan Gentong lanjutnya, Speedboat yang ditumpangi sempat tiga kali berhenti di tengah laut. Alasan tekong saat itu mau menepi tetapi tidak kunjung ketemu lokasi. Sampai akhirnya pada saat itu, gelombang laut yang tinggi menghantam speedboat dan seluruh PMI tenggelam ke laut.

“Seluruh penumpang tenggelam ke laut dan tidak nampak apa-apa dan berusaha menyelamatkan diri,” kenangnya.

Selain Fahroji, saksi PMI lainya, Alwi, Hendrik, Lalu Yoan, Irsan, Unaidi, Riki, dan Usnur juga mengatakan hal yang sama.  Sejumlh PMI ini, juga mengaku nekat berangkat dan menjadi PMI ilegal ke Malaysia karena faktor ekonomi.

“Dari 64 orang yang ada dikepal, 13 orang yang selamat saya juga tidak tahu, ABK dan tekangnya yang selamat atau tidak,” ujar PMI Alwi.

Sementara saksi PMI Maidita Ruparti, mengaku saat diberangkatkan tidak memiliki dokumen lengkap dan yang memberangkatkan dirinya adalah terdakwa Agus Salim

“Kami direkrut dan dikirim lewat agen dan tidak bayar tetapi nanti setelh kerja baru dipotong gaji,” jelasnya.

Dan sebelum diberangkatkan, Maidita mengaku, juga sempat ditampung. Namun dirinya mengaku tidak mengetahui persis lokasi daerah penampungan dan Pelabuhanya.

“Lokasi persis saya tidak tahu, Tapi rumah tempat penampungan itu ditepi jalan ada warung, Sedangkan Pelabuhan saat kami mau diberangkatkan banyak gudang,” jelasnya.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bintan mendakwa, Enam terdakwa kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal yang tenggelam di Malaysia ini dengan didakwa berlapis dengan UU TPPO serta Perlindungan Pekerja Migran.

Ke enam terdakwa itu adalah Susanto alias Acing, Muliadi alias Ong (Bos perekrut PMI), Juna Iskandar Alias Juna, Agus Salim alias Agus Botak, dan Erna Susanti alias Erna

Dalam dakwaan, Jaksa mengatakan, bahwa terdakwa Acing bersama-sama dengan lima terdakwa lainnya, membawa WNI dengan maksud untuk dieksploitasi ke luar wilayah Indonesia. Perbuatan tersebut, dilakukan secara kelompok dan terorganisasi hingga mengakibatkan korban meninggal.

Jaksa menyatakan, perbuatan ke 6 terdakwa dilakukan dengan peran masing-masing, yang diawali dari rekrutmen oleh terdakwa Muliadi alias Ong (Bos perekrut PMI) kemudian terdakwa Juna Iskandar Alias Juna, Agus Salim alias Agus Botak, dan Erna Susanti alias Erna di wilayah Jawa dan NTB.

Ke enam terdakwa didakwa dengan dakwaan pertama melanggar pasal 7 ayat 2 jo pasal 4 jo pasal 16 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Dalam dakwaan kedua, terdakwa juga didakwa melanggar pasal 81 Jo Pasal 69 UU Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor  11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana.

Dan Dakwaan ketiga melanggar pasal 83 Jo. Pasal 68 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor  11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Dalam kasus Pelayaran, Terdakwa Susanto alias Acing juga didakwa melanggar pasal 287 Jo Pasal 27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran sebagaimana telah diubah oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.