Cegah Stunting BKKBN Wajibkan Calon Pengantin Periksa Kesehatan Sebelum Menikah di Kepri

Kepla BKKBN Kepri Rohani wacanakan kewajiban Calon Pengantin Periksa Kesehatan Sebelum Menikah di Kepri
Kepla BKKBN Kepri Rohina wacanakan kewajiban Calon Pengantin periksa Kesehatan sebelum menikah di Kepri untuk mencegah anak Stunting (Foto:ismail) 

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Dalam upaya mencegah penyakit stunting, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kepri mewacanakan mewajibkan pasangan calon pengantin, melakukan pemeriksaan kesehatan tiga bulan sebelum menikah.

Kepala BKKBN Kepri Rohina, mengatakan, program wajib periksa kesehatan bagi calon pengantin ini, merupakan upaya pemerintah dalam mengentaskan stunting di seluruh daerah.

“Dengan memeriksakan kesehatannya akan terdeteksi permasalahan kesehatan yang diderita calon ibu sebelum menikah. Karena jika kondisi kesehatan calon pengantin perempuan belum optimal, maka akan berpotensi menyebabkan kelahiran anak stunting,” jelasnya.

Terhadap kasus Ibu yang mengalami gangguan kesehatan ini, Rohina juga mengatakan, akan dilakukan pendampingan sejak dini sampai yang bersangkutan siap memulai program kehamilan dan memiliki anak.

“Tujuan kita, agar kelahiran anak dengan kondisi stunting bisa kita dicegah,” jelasnya usai dilantik dan dikukuhkan sebagai Kepala BKKBN Kepri yang baru di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Rabu (1/6/2022).

Rohani juga mengatakan, kondisi calon ibu yang kurang sehat akan berdampak pada pertumbuhan kandungan yang kurang subur dan berpotensi melahirkan bayi dalam keadaan stunting.

Melalui Program pemeriksaan Calon pengantin ini, diharapkan para calon ibu akan mendapatkan pendampingan untuk melakukan skrining kesehatan melalui pemeriksaan cek darah, mengukur lingkar lengan atas serta mengukur tinggi dan juga berat badan.

“Saat ini BKKBN Pusat juga sudah bekerjasama dengan Kemenag RI dalam pelaksanaan program ini. Sementara di daerah akan segera kami koordinasikaan dengan Kanwil Kemenag setempat,” ujarnya Rohina.

Kendati demikian, lanjut Rohina, para calon pengantin juga tidak perlu khawatir karena hasil dari pemeriksaan kesehatan, tidak menjadi syarat boleh tidaknya menikah, apalagi jika dalam waktu dekat sudah berencana untuk menikah.

“Kita periksa, kalau hasilnya bagus ya nikah, kalau hasilnya tidak bagus ya nikah juga. Hanya saja yang hasilnya tidak bagus kita kasih pendampingan supaya anaknya sehat,” sebutnya.

Ia menambahkan, ketika anak lahir dalam kondisi stunting maka akan menjadi beban seumur hidup. Sebab, pertumbuhannya tidak akan normal dan rentan terkena penyakit, seperti diabetes, jantung, dan lain sebagainya.

Rohina juga menjelaskan, Anak Stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak, disebabkan dua faktor utama, Yakni, kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi saat hamil dan menyusui pada saat seribu hari pertama kehidupan kehidupan. Kemudian, faktor lingkungan yang kurang sehat

“Oleh karena itu, kita berharap para ibu di Kepri bisa memperhatikan kesehatan dan gizi bayi dan balita. Sebab, ketika ada bayi dibawah 2 tahun yang stunting, masih bisa disembuhkan, tapi ketika sudah 2 tahun keatas sudah tidak bisa lagi,” tutur Rohina.

Sementara itu, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menyebut tantangan utama yang dihadapi Kepri dalam pencegahan stunting adalah wilayah yang didominasi Kepulauan. Karena menurutnya, faktor utama stunting berkaitan dengan pendidikan dan ekonomi.

“Itu juga yang akan kita identifikasi terlebih dahulu, sehingga perlu sosialisasi dengan memberdayakan Posyandu. Kemudian kita tindaklanjuti melalui kerjasama dengan Kemenag untuk persyaratan sehat sebelum menikah,” kata Ansar.

Penulis :Ismail
Editor   :Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.