Dua Terdakwa Kasus Mafia Tanah di Bintan Tidak Ditahan Hakim PN Tanjungpinang

*Terdakwa Kaharuddin dan Kamarudin Mengaku Sakit Jantung dan Stroke

Kaharudin dan Kamarudin saat hadir secara langsung pada sidang lanjutan kasus Mafia tanah dengan modus pemalsuan Surat di PN Tanjungpinang. (Foto:Roland)
Kaharudin dan Kamarudin saat hadir secara langsung pada sidang lanjutan kasus Mafia tanah dengan modus pemalsuan Surat di PN Tanjungpinang. (Foto:Roland)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Dua terdakwa kasus mafia tanah dengan modus pemalsuan surat di Bintan, tidak ditahan Hakim PN Tanjungpinang. Ke dua terdakwa itu adalah Kaharuddin dan Kamarudin.

Sedangkan 8 terdakwa lainnya, dalam dua berkas perkara ini, masing-masing M.Azan, M.Noi, Muhammad Amin, Ibrahim, Sapiah, Rusly, Raja Rusli, Iwan Kurniawan ditahan oleh Hakim Pengadilan.

Ke 10 terdakwa ini, merupakan pelaku mafia tanah dengan modus pemalsuan surat, di Kampung Bintan Bekapur RT 12 RW 6 Desa Bintan Buyu Kecamatan Teluk Bintan Buyu.

Humas PN Tanjungpinang Isdaryanto, membenarkan tidak ditahannya dua terdakwa kasus mafia tanah di Bintan itu.

Pertimbangan Majelis Hakim tidak melakukan penahanan kata Isdaryanto, hanya dari sisi kemanusian, karena kedua terdakwa memiliki riwayat penyakit stroke dan jantung.

“Rekam Medik riwayat kesehatan kedua terdakwa juga ada dari Dokter Rumah Sakit,” kata Isdaryanto saat dikonfirmasi PRESMEDIA.ID di PN Tanjungpinang Rabu (29/6/2022).

Di Tempat terpisah Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Bintan Gustian, juga membenarkan, kedua terdakwa tidak dilakukan penahan karena memiliki penyakit stroke dan jantung.

“Sejak dari penyidik kepolisian, JPU dan saat ini pemeriksaan di pengadilan, kedua terdakwa itu juga memang tidak ditahan karena sakit jantung,”ucap Gustian.

Pada persidangan lanjutan kasus mafia Tanah dengan modus Pemalsuan surat di PN Tanjungpinang, terdakwa Kaharuddin dan Kamarudin juga terlihat hadir secara fisik. Sementara terdakwa lainnya hadir secara online dari Rutan.

Sidang dengan agenda mendengar keterangan saksi ini, juga menghadirkan saksi Maen dan Mismanto sebagai sempadan lahan milik korban almarhum Yakob di Kampung Bintan Bekapur RT 12 RW 6 Desa Bintan Buyu Kecamatan Teluk Bintan Buyu.

Dalam persidangan, Saksi Maen kepada majelis Hakim mengatakan, mengetahui almarhum Yakob dan ahli warisnya yang menjadi korban dalam kasus itu bersempadan dengan lahannya sejak 1993 lalu.

Lahan Almarhum Yakob sempadanya itu lanjut Maen, ditanami dengan pohon kelapa. Namun karena lama tidak diurus dan dirawat, kebun kelapa itu tidak jadi.

“Saya juga melihat Suratnya setelah ditebas, dibuat Alas hak,” ucapnya.

Di tempat yang sama, saksi Mismanto, mantan Kaur Desa Bintan Buyu mengaku, sebelumnya pernah melakukan pengukuran lahan milik keluarga Almarhum Yakob 2007 lalu saat memohon pengurusan surat Alas Hak.

Dari hasil pengukuran yang dilakukan, tercatat lahan milik almarhum Yakob di kelurahan Bintan Bekapur itu seluas 90 hektar.

“Pemiliknya saat itu ingin membuat surat alas hak atas nama M.Rizal keluarganya Almarhum Yakob. Dasarnya saat itu surat tebas, dan dikelompokkan di dalam arsip kantor desa. Tapi sekarang saya tidak tahu masih ada atau tidak, karena saya juga sudah lama mengundurkan diri,” paparnya.

Sebelumnya, 10 terdakwa sindikat mafia tanah dengan modus pemalsuan surat ini ditetapkan Polda Kepri dan Polres Bintan sebagai Tersangka saat ini terdakwa.

Perbuatan para terdakwa berawal ketika terdakwa Abdul Kumar dan terdakwa Suryadharma, bersepakat untuk membuat surat Sporadik dengan dasar surat Gran, di lahan satu hamparan milik korban Tan A Tie, Dju Mui luas Bin M.Rizal, Samsul Erhan dan A Pheng di jalan Lintas Barat KM 32, Kampung Bintan Bekapur RT. 012 RW. 006 Desa Bintan Buyu Kecamatan Teluk Bintan Buyu.

Untuk kelancaran pembuatan surat Sporadik itu, kedua otak pelaku mafia tanah ini, juga mengikutsertakan warga kampung Bintan Bekapur dengan kesepakatan dan perjanjiannya akan diberi bagian dari penjualan lahan.

Sejumlah warga yang diikutkan itu adalah terdakwa Noi, terdakwa Kaharuddin, terdakwa Kamarudin, M.Azan, M.Noi, Muhammad Amin, Ibrahim, Sapiah, Rusly, Raja Rusli dan Iwan Kurniawan.

Namun dalam perjalanannya, ternyata terdakwa Abdul Kumar dan terdakwa Suryadharma bekerjasama dengan aparatur desa Bintan bekapur memalsukan surat diatas lahan milik korban.

Atas perbuatannya, ke 10 terdakwa didakwa dengan dakwaan berlapis. Pertama melanggar pasal 263 Ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 KUHP dan dakwaan kedua melanggar pasal 263 Ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) KE-1 KUHP.

Sidang akan kembali digelar Hakim Isdaryanto PN Tanjungpinang pada minggu mendatang dengan agenda mendengar keterangan saksi lainya.

Penulis : Roland
Editor : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.