Kepri Alami Inflasi 0,84 Persen Juni 2022, Kota Batam dan Tanjungpinang Juga Alami Inflasi

Data Statistik BPS Kepri menyatakan Kepri Aalami Inflasi
BPS Kepri menyatakan Kepri alami Inflasi  0,84 persen pada Juni 2022. (Sumber:Data BPS Kepri)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Provinsi Kepulauan Riau mengalami Inflasi 0,84 persen pada Juni 2022. Inflasi terjadi karena kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,14 pada Mei 2022 menjadi 111,06 pada Juni 2022.

Dibandingkan Inflasi Provinsi Kepri tahun kalender (Januari–Juni) 2021 ke Inflasi (Januari-Juni) 2022, Inflasi Kepri mengalami penurunan, dengan persentase Inflasi tahun ke tahun (Juni 2022 terhadap Juni 2021) sebesar 5,89 persen, dan pada Juni 2022 sebesar 3,75 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, mengatakan Indek Harga Konsumen (IHK) penyumbang inflasi Provinsi Kepulauan Riau Juni 2022, disebabkan inflasi Kota Batam sebesar 0,84 persen dan Kota Tanjungpinang yang mengalami inflasi sebesar 0,80 persen.

“Inflasi provinsi Kepri ini disumbang oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau, seperti, Cabai merah, Cabai Rawit, angkutan udara, telur ayam tomat, ikan tongkol, bawang merah dan air kemasan, Angkutan udara, Minyak goreng, rokok kretek, daging Ayam, di Batam dan Tanjungpinang,” kata BPS Kepri sebagaimana dikutip dari rilis BPS Kepri Jumat (1/7/2022).

Kenaikan kelompok makanan, minuman dan tembakau untuk inflasi Kepri, lanjutnya menyumbang inflasi Kepri sebesar 2,18 persen. Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,05 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,48 persen. Kelompok transportasi naik sebesar 0,93 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik sebesar 0,10 persen.

Selanjutnya, Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik sebesar 0,08 persen,  kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik sebesar 0,23 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,10 persen.

Sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki mengalami penurunan sebesar 0,01 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan.

Dibandingkan dengan sejumlah kota di Sumatera, Inflasi kota Batam menduduki peringkat ke 17 dari 22 kota yang mengalami Inflasi di Sumatera. Sedangkan Tanjungpinang, menduduki peringkat ke 18 dari 22 kota yang mengalami Inflasi di Sumatera.

Inflasi tertinggi dari 22 kota di Sumatera terjadi di Gunung Sitoli yang mencapai 2,72 persen dan inflasi terendah di kota Lhokseumawe sebesar 0,45 persen.

Sedangkan dua kota dengan Deflasi tertinggi dari 22 kota di Sumatera berada di kota Pangkal Pinang sebesar -0,22 persen dan Deflasi terendah di kota Tanjung Pandan -0,03 persen.

Penulis:Presmedia
Editor  :Redaksi 

Leave A Reply

Your email address will not be published.