Satu Bulan Berlalu Komplotan Perampokan di STAIN SAR Bintan Belum Tertangkap

Wakil Ketua III STAIN Sultan Abdurrahman, Abdul Rahman Mawazi saat menunjukkan lokasi Dapur tempat sekuriti, Dosen dan Mahasiswi disekap Perampok bersenjata di STAIN Sultan Abdurrahman (Foto:Hasura/presmedia)
Wakil Ketua III STAIN Sultan Abdurrahman, Abdul Rahman Mawazi saat menunjukkan lokasi Dapur tempat sekuriti, Dosen dan Mahasiswi disekap Perampok bersenjata di STAIN Sultan Abdurrahman (Foto:Dok/presmedia)

PRESMEDIA.ID, Bintan – Pelaku Kasus perampokan dan penyekapan di Kampus STAIN Sultan Abdurrahman Kabupaten Bintan hingga saat ini belum terungkap.

Aksi perampokan yang dilakukan komplotan bersenjata tajam (sejam) itu terjadi Jumat (10/6/2022) dini hari itu, diduga dilakukan 5 orang laki-laki.

Mereka mengenakan sebo dan masker melakukan penyekapan terhadap 6 orang yang berada di gedung utama kampus tersebut.

Adapun korban yang disekap yaitu dua orang satpam Bambang dan Deva serta rekan satpam Hafis, dosen Teddy, Staf Eko dan Mahasiswa Zulfan. Mereka ada yang dianiaya dan uangnya dirampas.

Kapolres Bintan AKBP Tidar Wulung Dahono mengakui ada beberapa kendala yang dialami kepolisian dalam mengungkap kasus tersebut. Diantaranya untuk mensuport masalah Ilmu teknologi (IT).

“Kami belum dapat menemukannya dan kita tidak bisa sampaikan masalah itu secara rinci,” ujar Tidar di Aula Sarja Arya Racana, Polres Bintan, kemarin.

Sampai sejauh ini pihak kepolisian hanya dapat mengetahui aksi-aksi yang dilakukan komplotan perampok tersebut berdasarkan keterangan saksi. Mulai dari penyekapan kemudian dibuangnya barang bukti.

Ternyata dalam aksi itu tidak ada barang-barang atau dokumen yang hilang. Hanya uang sebesar Rp 700 ribu yang dirampas dari dompet satpam kampus.

“Jadi tidak ada dokumen yang diambil mereka dan barang yang mengarah ke sesuatu hal. Hanya uang itupun dari dompet korban,” jelasnya.

Ditanya apakah ini murni perampokan atau sabotase. Jika dilihat dari olah TKP dan hal-hal lainnya hanya didapati unsur perbuatan pidananya saja. Namun untuk polanya belum diketahui. Karena memang pola yang dilakukan oleh komplotan perampokan itu tidak terdeteksi oleh IT.

“Masih berlanjut penyelidikannya tapi kita lakukan secara konvensional dan bertahap,” katanya.

Tidar memohon untuk diberikan waktu dalam mengungkap kasus ini. Karena dari setiap aksi-aksi mereka tidak meninggalkan jejak. Memang untuk sidik jari ada ditemukan namun setelah dicek ternyata itu sidik jari karyawan. Jadi belum ada yang mengarah ke pelaku.

“Kita mohon waktu dan doanya agar kasus ini dapat terungkap,” ucapnya.

Penulis : Hasura
Editor : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.