Modusnya Memancing 7 Tersangka Empat Kali Berhasil Masukan PMI Ilegal Dari Bintan ke Malaysia

Kapolres Bintan AKBP Tidar Wulung Dahono dan jajaran saat menunjukan Barang Bukti Mobil dan Kspal Pancung yang diguinakan 7 tersngka menyeludupkan PMI illegal dari Bintan ke Malaysia (Foto:Hasura)
Kapolres Bintan AKBP Tidar Wulung Dahono dan jajaran saat menunjukan Barang Bukti Mobil dan Kspal Pancung yang diguinakan 7 tersngka menyeludupkan PMI illegal dari Bintan ke Malaysia (Foto:Hasura)

PRESMEDIA.ID, Bintan – Meski terbilang baru menggeluti Bisnis penyelundupan PMI secara illegal, Ternyata 7 tersangka pengiriman PMI illegal dari Bintan ke Malaysia sudah empat kali berhasil memasok PMI itu secara ilegal ke Malaysia.

Kapolres Bintan AKBP Tidar Wulung Dahono, mengatakan dari pengembangan yang dilakukan, masing-masing tersangka mengaku baru menjalankan bisnis perdagangan orang ini sejak Juni 2022.

Kegiatan itu lanjutnya, dimulai dari perekrutan PMI. Kemudian penjemputan di Kota Batam, penampungan di Tanjung uban, kemudian mengirimkan dari Pelabuhan Desa Teluk Sasah Lobam Bintan ke Malaysia.

Modus yang dilakukan untuk memasukan PMI itu di laut, dengan berpura-pura memancing di laut antara Bintan Indonesia dan Malaysia.

“Modus mereka membawa dan memasukan PMI secara ilegal itu dengan pura-pura memancing di laut Bintan-Malaysia. Hal itu dilakukan untuk mengecoh Patroli aparat di laut,” ujarnya Kamis (7/7/2022).

Dalam satu bulan ini, ke 7 pelaku mengaku sudah 4 kali berhasil menyelundupkan puluhan PMI ke Malaysia. Dalam sekali pengiriman para Tersangka bisa mengantarkan 8 orang sekaligus dengan boat pancung bermesin tempel 40 PK dari Bintan ke Malaysia.

“Mereka mengaku sudah 4 kali trip memasukan PMI ini secara ilegal, Sekali mengantar 8 orang, dan jika dijumlah maka ada 32 Orang PMI. Mereka semua berasal dari Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namun identitas PMI yang diberangkatkan tidak diingat oleh para tersangka,” kata Kapolres.

Selama menjalankan bisnis ini, tersangka mendapatkan keuntungan yang besar. Sebab mereka mematok harga Rp 10-15 juta per orang dari Lombok hingga sampai ke Malaysia. Maka keuntungan yang diraup oleh para tersangka diperkirakan mencapai Rp 400 jutaan.

“Jadi dengan berangkatkan 32 PMI itu para tersangka mendapatkan cuan sekitar Rp 300-Rp 400 juta,” ucapnya.

Dari pengakuan para tersangka tersebut maka langkah selanjutnya yang dilakukan kepolisian adalah berkoordinasi dengan Kedutaan Indonesia di Malaysia terkait keberadaan 32 PMI yang diberangkatkan oleh 7 pelaku ke Malaysia.

“Kita koordinasi ke sana untuk melakukan pencarian terhadap PMI yang sudah diberangkatkan,” sebutnya.

Akibat kasus tersebut para tersangka dikenakan Pasal 81 Jo Pasal 69 UU RI Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan PMI Jo Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP. Dengan ancamannya hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15 miliar.

“Kami tidak mentolerir dengan adanya tindak pidana yang berkaitan dengan kemanusiaan ataupun keamanan jiwa masyarakat,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, 7 tersangka Penyelundup PMI ilegal ke Malaysia berhasil diungkap Polres Bintan. Ke 7 tersangka yang ditetapkan tersangka itu adalah Sn (44), Jn (44), dan St (44) yang ditangkap di Kota Batam. Kemudian 4 tersangka lainnya yang ditangkap di Bintan yaitu, Ye(38), Sh (41), Rm (18) dan FM (20).

Para tersangka memiliki peran yang berbeda-beda. Untuk otak pelaku dalam perdagangan orang ini adalah SN. Selain itu SN juga penyedia boat pancung yang digunakan untuk memberangkatkan para PMI melalui pelabuhan ilegal di Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam ke Malaysia.

Sementara itu JN dan ST berperan sebagai penjemput dan pengantar di daratan atau tekong darat di Kota Batam. Dimulai dari menjemput PMI di Bandara Hang Nadim, mengantarkan ke Pelabuhan Telaga Punggur dan menyeberangkan dengan speedboat reguler ke Pelabuhan Bulang Linggi Tanjunguban, Kabupaten Bintan.

Kemudian tersangka YS berperan sebagai penjemput dari Pelabuhan Bulang Linggi hingga mengantarkannya ke penampungan sementara di kos-kosan yang berada di Tanjung Uban, Bintan.

Lalu dua tersangka yaitu SH dan RM berperan sebagai tekong darat juga. Mereka berdua yang menyediakan mobil serta menjemput dan mengantarkan para PMI dari kos-kosan penampungan Tanjung Uban ke pelabuhan ilegal di Desa Teluk Sasah. Sedangkan yang berperan sebagai tekong laut adalah FM, dia yang mengemudikan boat pancung dan memberangkatkan PMI dari Desa Teluk Sasah ke Malaysia.

“Dari 7 pelaku itu 3 diantaranya mempunyai hubungan keluarga yaitu ayah dan anak. Yaitu SH itu ayahnya dan kedua anaknya FM dan RM. Mereka bertiga berperan sebagai tekong darat dan tekong laut di Bintan,” katanya.

Penulis : Hasura
Editor : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.