Naikan Sewa Lapak Pasar Biar Ricuh, PT.BIS Sebut Itu Trik Ungkap Mafia dan Genjot PAD

Komisaris PT BIS, Hafizar
Komisaris PT BIS, Hafizar mengaku, sengaja menaikan Sewa Lapak pasar ikan dan Sayur di Bintan sebagai Trik agar mafia lapak dan pengguna ribut. (Foto:Hasura).

PRESMEDIA.ID, Bintan – PT Bintan Inti Sukses (BIS) selaku perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menaikan harga sewa lapak pasar ikan dan Sayur di Kijang Kota Kecamatan Bintan Timur dan Kawal Kecamatan Gunung Kijang.

Kenaikan harga itu dari Rp 150-Rp 200 per bulannya menjadi Rp 600 ribu perbulan.

Kenaikan harga sewa lapak itu diberlakukan sejak Juli 2022 ini, akibatnya sejumlah pedagang di Pasar Inpres Berdikari dan Pasar Barek Motor di Kijang Kota protes karena mereka tidak setuju dengan kenaikan harga lapak tersebut. Sementara di pasar di Kawal tidak mengalami gejolak.

Komisaris PT BIS, Hafizar, mengaku kenaikan harga sewa lapak tersebut merupakan trik perusahaan plat merah ini untuk mengungkap mafia lapak di pasar-pasar Kecamatan Bintan Timur.

“Ya sekaligus juga untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bintan,” ujar Hafizar, Jumat (15/7/2022).

Bedasarkan intruksi dari Dirut PT BIS, dia diminta untuk menangani permasalahan praktik jual beli lapak dari pihak ketiga ke pedagang alias mafia lapak di Kecamatan Bintan Timur.

“Maka salah satu trik yang dilakukannya adalah dengan menaikan harga sewa lapak,” katanya.

Hafiza juga mengakui, apa yang dilakukannya itu akan menimbulkan gejolak dan kericuhan.

Namun sebelum memberlakukannya pihak perusahaan sudah membahasnya dengan Komisi II DPRD Bintan. Bahkan mereka (DPRD-red) dikatakan juga menyepakatinya.

“Disitu sudah mulai terungkap adanya mafia lapak. Karena dengan adanya kenaikan sewa lapak maka pedagang yang memiliki kepentingan dengan mafia lapak akan menjerit,” katanya.

Dia tidak ingin ada sewa diatas sewa. Maka praktik atau mata rantainya harus segera diputus dan dihentikan. Karena merugikan semua pihak.

Disisi lain, kenaikan sewa lapak ini juga untuk memperbaiki beberapa fasilitas di pasar. Seperti atap pasar yang bocor, kamar mandi yang kurang memadai dan lantai yang kotor. Maka itu semua akan dibenahi untuk kenyamanan para pedagang dan pembeli.

“Sulit juga untuk dilakukan perawatan jika tarif tidak dinaikan. Awalnya Rp 6 ribuan sampai Rp12 ribuan per hari. Namun sekarang kita tetapkan Rp600 ribuan per bulan atau Rp 7,2 juta per tahun.

Besaran tarif ini sebenarnya masih rendah dibandingkan lapak Bintan Center Tanjungpinang yang dipatok Rp18 juta per tahun,” jelasnya.

Dengan naiknya sewa lapak Rp 600 ribu per bulan itu, dikatakan Hafiza, mengatakan PT BIS akan mendapatkan laba sebesar Rp 250-300 juta pertahunnya.

Tentunya kenaikan sewa lapak ini juga untuk mendongkrak PAD Bintan. Karena perusahaan milik Pemkab Bintan ini akan menyumbangkan 70-80 persen ke kas daerah.

“Untuk laba kotor dari sewa lapak di pasar Kijang Kota dan Kawal kita bisa dapatkan kenaikan sewa lapak sekitar Rp 250- Rp 300 juta. Tentunya ini menjadi sumber PAD Bintan yang baru karena sebelum dikelola PT BIS tidak ada PAD yang bersumber dari sewa lapak,” ucapnya.

Penulis:Hasura
Editor  :Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.