Terdakwa Pencuri Langsung Ditahan, Tapi Terdakwa Tunggal Korupsi Ini Masih Bebas Berkeliaran

Terdakwa tunggal Korupsi BUMD Tanjungpinang Dhiya Widjiasih hingga saat ini tidak pernah ditahan dan masih bebas sai sidang, sementara sejumlah terdakwa Kasus pencurian langsung dijebloskan dijebloskan ke Penjara sejak Penyidikan (Foto:Roland)
Terdakwa tunggal Korupsi BUMD Tanjungpinang Dhiya Widjiasih hingga saat ini tidak pernah ditahan dan masih bebas sai sidang, sementara sejumlah terdakwa Kasus pencurian langsung dijebloskan dijebloskan ke Penjara sejak Penyidikan (Foto:Roland)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Status sosial terdakwa pencuri dengan Korupsi di PN Tanjungpinang kontras tampak perbedaan. Jika terdakwa pelaku pencurian langsung dijebloskan ke penjara sejak mulai penyidikan.

Namun, hukum itu tidak berlaku terhadap terdakwa korupsi, pengrusakan lingkungan dan Hutan di PN Tanjungpinang.

Terbukti, hingga saat ini, Hakim Pengadilan Negeri (PN) belum menentukan sikap, terkait penahanan terdakwa Korupsi Dhiya Widjiasih, dalam kasus korupsi penyalahgunaan keuangan piutang non-usaha BUMD kota Tanjungpinang 2017-2019.

Ketua Majelis Hakim, Anggalanton Boangmanalu didampingi oleh Majelis Hakim Adhoc Tipikor Syaiful Arif dan Albiferi mengatakan, pihaknya belum menentukan sikap terhadap penahanan terdakwa.

“Untuk permohonanan penangguhan penahanan terdakwa, kami masih mempertimbangkan dulu,” kata Anggalanton pada sidang keempat kalau terdakwa dengan agenda pemeriksaan saksi di PN Tanjungpinang Kamis (18/8/2022).

Dalam persidangan ini, JPU dari Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, menghadirkan 4 orang saksi. Ke empat saksi itu adalah Kabag ekonomi Pemerintah kota Tanjungpinang Yuswandi, Asisten III Administrasi Umum di Setdako Tanjungpinang dan Syaifullah Andre, Mantan Kadiv Keuangan BUMD Tanjungpinang serta dua Karyawan lainnya.

Terpisah Humas PN Tanjungpinang, Isdaryanto juga mengatakan, belum adanya sikap Majelis Hakim terhadap penahanan terdakwa karena belum menentukan sikap.

Isdaryanto menambahkan, Hakim masih mempertimbangkan dan menilai perjalanan persidangan, yang untuk mempertimbangkan apakah perlu ditahan atau tidak.

“Majelis Hakim masih mempertimbangkan, sambil proses persidangan berjalan,” ujarnya.

Terdakwa Tunggal Korupsi BUMD Tanjungpinang Tidak Pernah Ditahan

Sebagaimana diketahui, dalam kasus Korupsi penyalahgunaan keuangan piutang non-usaha BUMD kota Tanjungpinang 2017-2019 yang mengakibatkan kerugian negara Rp 517 Juta ini, Kejaksaan Negeri Tanjungpinang hanya menetapkan Dhiya Widjiasih sebagai terdakwa tunggal.

Namun dalam dakwaan JPU, terhadap Terdakwa Dhiya Widjiasih, Jaksa menyatakan, Mantan Kepala bagian bendahara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT.Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB) terdakwa Dhiya Widjiasih, didakwa melakukan korupsi bersama-sama dengan mantan direktur Perseroan PT.TMB saksi Asep Nana Suryana dan saksi Zondervan.

Sementara dua saksi Asep Nana Suryana dan saksi Zondervan yang disebut jaksa melakukan korupsi bersama-sama dengan terdakwa, hingga saat ini belum ditetapkan Jaksa sebagai tersangka.

Keterlibatan Asep Nana Suryana dan saksi Zondervan melakukan korupsi menyalahgunakan keuangan Piutang non-usaha BUMD kota Tanjungpinang di PT. TMB Tanjungpinang 2017-2019, tertuang dan dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sari Ramadhani Lubis dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kamis (28/7/2022).

Dalam dakwaan Jaksa menyatakan, perbuatan korupsi terdakwa Dhiya Widjiasih dan saksi Asep Nana Suryana dan Zondervan, dilakukan dengan cara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara, sebagai yang melakukan perbuatan atau turut serta melakukan perbuatan.

Hal itu lanjutnya, dilakukan terdakwa pada pengelolaan piutang non usaha BUMD kota Tanjungpinang bersama-sama dengan saksi Asep Nana Suryana dan saksi Zondervan dengan cara meminjamkan dana BUMD PT. TMB tidak sesuai prosedur yang mengakibatkan kerugian pada PT. TMB dan BUMD serta Pemerintah kota Tanjungpinang sebesar Rp 517 Juta.

Atas perbuatannya, terdakwa Dhiya Widjiasih didakwa dengan pasal berlapis, Pasal 2 juncto Pasal 18 nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto pasal 55 KUHP.

Dakwaan Subsidair melanggar pasal 3 juncto Pasal 18 nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto pasal 55 KUHP.

Sementara dua mantan Direktur Utama dan Dirut BUMD PT.TMB, Asep Nana Suryana dan Zondervan didalam berkas terdakwa disebut hanya sebagai saksi.

Penulis : Roland
Editor : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.