PN Tanjungpinang Terima Banding Jaksa Atas Kasus TPPO Terdakwa Susanto Alia Acing Cs

Sidang Lanjutan kaasus TPPO pengiriman PMI secara illgeaal ke Malaysia oleh Terdakwa Susanto alias Acing di PN Tanjungpinang 10 PMI semat dihadirkan secara online
Sidang kasus TPPO pengiriman PMI secara illgeaal ke Malaysia dengan Terdakwa Susanto alias Acing di PN Tanjungpinang .(Foto:Roland) 

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang menerima upaya hukum Banding Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas Putusan Hakim PN terhadap enam terdakwa Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Upaya banding 6 Terdakwa TPPO ini, dilakukan Jaksa dan terdakwa, terhadap putusan ringan Hakim Boy Syailendra.

Humas PN Tanjungpinang Isdaryanto, mengatakan pendaftaran upaya banding penuntut umum atas Putusan hakim PN itu, diajukan Jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintan terhadap terdakwa Susanto Alias Acing, Mulyadi Alias Ong, Juna Iskandar alias Juna, Nasrudin alias Nas, Gus Salim alias Agus dan Erna Susanti alias Erna.

“Ada 6 berkas upaya banding yang diajukan Jaksa ke PT yang kami terima di PN,” kata Isdaryanto saat dikonfirmasi PREMEDIA.ID Rabu (24/8/2022).

Selain JPU, lanjut Isdaryanto, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Susanto alias Acing, juga mengajukan kontra memori banding.

“Pengajuan kontra atas Banding Jaksa, diajukan oleh Pengacara terdakwa Acing, Filemon Halawa,” ucapnya.

Namun saat dikonfirmasi, Kuasa Hukum terdakwa Susanto alias Acing, Filemon Halawa, enggan memberikan tanggapan atas kontra banding yang diajukan.

“Maaf saya no comments untuk saat ini,” ujarnya saat dikonfirmasi media ini melalui whatsapp.

Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bintan, I Wayan Riana juga mengatakan, pihaknya akan mengajukan upaya hukum banding atas putusan Hakim PN terhadap Susanto alias Acing, yang menghukum terdakwa 10 tahun penjara dari 20 tahun tuntutan.

Alasan Kejari mengajukan Banding, karena menurutnya, Putusan yang dijatuhkan Hakim terhadap terdakwa tidak mencerminkan rasa keadilan pada masyarakat dan Korban. Selain itu, Pasal yang dibuktikan Majelis Hakim terhadap terdakwa Susanto alias Acing dan Mulyadi alias Ong, juga berbeda dengan tuntutan Jaksa P Penuntut Umum (JPU).

Sebelumnya dari 20 tahun tuntutan Jaksa, Hakim Boy Syailendra dan dua Hakim anggota PN Tanjungpinang hanya menghukum terdakwa Susanto Alias Acing dan terdakwa Mulyadi alias Ong hanya 10 tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 2 bulan kurungan.

Sementara 4 terdakwa lain seperti terdakwa Juna Iskandar Alias Juna, Nasrudin alias Nas, Gus Salim alias Agus Botak, masing-masing dihukum 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 2 bulan kurungan.

Sedangkan terdakwa lainya dihukum pidana penjara selama 3 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 2 kurungan. Sementara tuntutan ganti rugi restitusi terhadap 28 PMI korban penyelundupan yang meninggal dan hilang akibat tenggelam di laut Malaysia, tidak dikabulkan Hakim.

Hakim menyatakan, keenam terdakwa terbukti melakukan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sebagaimana dakwaan alternatif kedua Jaksa, melanggar pasal 81 Jo Pasal 69 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP.

Putusan hakim ini, berbeda dengan tuntutan Jaksa yang menyatakan ke 6 terdakwa terbukti melakukan TPPO, sebagaimana dakwaan Primer melanggar Pasal 7 ayat 2 jo pasal 4 jo pasal 16 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang TPPO.

Sebelumnya, terdakwa Susanto alias Acing bersama-sama dengan lima terdakwa lainnya, ditetapkan sebagai tersangka atas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), yang dilakukan dengan cara menyelundupkan WNI dengan maksud untuk dieksploitasi keluar wilayah Indonesia.

Perbuatan TPPO Penyelundupan Manusia ini, dilakukan ke 6 terdakwa secara berkelompok dan terorganisir dengan peran masing-masing.

Terdakwa Terdakwa Acing dan Mulyadi alias Ong adalah dua Bos yang merekrut dan menyediakan fasilitas pengiriman. Sementara terdakwa Juna Iskandar Alias Juna, Agus Salim alias Agus Botak, dan Erna Susanti alias Erna merupakan jaringan keduanya yang merekrut sejumlah WNI di wilayah Jawa dan NTB untuk dikirim dan diselundupkan menjadi PMI ilegal ke Malaysia.

Tragisnya, ketika 60 PMI yang direkrut para terdakwa diselundupkan menggunakan kapal boat pancung dari Bintan ke Malaysia, Kapal yang ditumpangi PMI Illegal itu tenggelam di perairan Tanjung Balau kota Tinggi Johor Bahru Malaysia. Sebanyak 28 PMI dalam peristiwa ini dinyatakan meninggal dunia.

Penulis:Roland
Editor  :Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.