Inflasi Kepri September 2022 Naik 1,06 Persen, Program Pengendalian Pangan Ansar Belum Berdampak

*Inflasi Kepri Disambung Kenaikan Harga Makanan dan Minuman di Batam dan Tanjungpinang

Data Statistik BPS Kepri menyatakan Kepri Aalami Inflasi
Data Statistik BPS Kepri menyatakan Kepri alami Inflasi (Dok: Presmedia)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Penanganan inflasi di kota Tanjungpinang dan Batam belum maksimal. Akibatnya dua kota sentral penduduk di Kepri ini, menyumbang inflasi provinsi Kepri sebesar 1,06 persen pada September 2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menyatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kepulauan Riau dari kota Batam dan Tanjungpinang menunjukan inflasi sebesar 1,06 persen pada September 2022.

Inflasi terjadi karena, kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,18 pada Agustus 2022 menjadi 112,36 pada September 2022. Inflasi tahun kalender (Januari–September) 2022 sebesar 4,96 persen. Sementara dibandingkan inflasi tahun ke tahun (September 2022 terhadap September 2021) sebesar 6,79 persen.

“Dari 2 kota di Provinsi Kepulauan Riau, IHK Kota Batam mengalami inflasi sebesar 1,08 persen dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 0,92 persen,” sebut BPS dalam rilisnya.

Inflasi di Kepulauan Riau, terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh indeks kelompok pengeluaran yaitu makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,28 persen.

Kemudian disusul kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang naik sebesar 0,10 persen.

Inflasi Kepri juga disebabkan naiknya kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,32 persen, Kemudian kelompok kesehatan naik sebesar 0,02 persen, kelompok transportasi naik sebesar 6,98 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,13 persen.

Selain itu, inflasi Kepri juga disumbang kelompok pendidikan yang naik sebesar 1,46 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,10 persen.

Sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki mengalami penurunan sebesar 0,26 persen, demikian juga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turun sebesar 0,34 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya.

Inflasi September Kepri Berbanding Terbalik dengan Bulan Agustus

Inflasi Kepri September 2022 ini berbanding terbalik pada bulan Agustus 2022. Hasil survei BPS Agustus untuk Juli 2022, IHK Provinsi Kepulauan Riau (Kota Batam dan Kota Tanjungpinang) menunjukan deflasi sebesar 0,50 persen.

Dari 2 kota di Provinsi Kepulauan Riau, tercatat IHK Kota Batam mengalami deflasi sebesar 0,50 persen dan Kota Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar 0,54 persen.

Deflasi di Kepulauan Riau pada Juli yang dicatat BPS pada Agustus 2022 ini, terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh indeks kelompok pengeluaran pada makanan, minuman dan tembakau turun sebesar 2,04 persen.

Kemudian dibarengi dengn kelompok pakaian dan alas kaki yang turun sebesar 0,40 persen, kelompok transportasi turun sebesar 0,40 persen.

Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan yaitu kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang naik 0,28 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,16 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 0,05 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik sebesar 0,12 persen.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik sebesar 0,23 persen, kelompok pendidikan naik sebesar 1,29 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik sebesar 0,17 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,47 persen.

Program Pengendalian Pangan Ansar Belum Berdampak

Sebelumnya, Gubernur provinsi Kepri Ansar Ahmad telah menginstruksikan jajarannya untuk menanggulangi kenaikan inflasi di Kepri dengan pengendalian pangan.

Untuk jangka pendek,Gubernur Ansar menginstruksikan, agar pengendalian dilaksanakan melalui operasi pasar di daerah yang terpantau inflasinya cukup tinggi seperti Batam dan Tanjungpinang.

“Jadi operasi pasar ini lebih fokus kita lakukan di sumber perhitungan BPS dan sumber yang memang selama ini produksi kecil tetapi konsumennya banyak,” ujar Gubernur Ansar.

Batam dan Tanjungpinang lanjutnya, menjadi daerah prioritas untuk dilakukan operasi pasar karena populasi di dua kota tersebut cukup besar namun suplai bahan pangannya masih bergantung dari daerah lain.

Atas hal itu, Gubernur Ansar menginstruksikan operasi pasar yang akan digelar nantinya harus benar-benar menyediakan komoditas-komoditas yang memang mempengaruhi inflasi pangan.

“Kita harus benar-benar melakukan perhitungan agar operasi pasar yang digelar berjalan efektif untuk menurunkan harga pangan,” ujar Ansar.

Namun sampai September 2022 program pengendalian pangan Gubernur Ansar ini belum berdampak menekan kenaikan harga, hingga mengakibatkan Kepri mengalami inflasi.

Penulis: Presmedia
Editor: Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.