Ultimate magazine theme for WordPress.
Bhayangkara 74

Gelapkan Uang Pembuatan Sumur, Mantan Supervisor PT.Widiyacipta Ini Dituntut di Pengadilan

Terdakwa Rizki Patrioka disidang di PN Tanjungpinang atas dugaan penggelapan dana Pembuatan Sumur.
Terdakwa Rizki Patrioka disidang di PN Tanjungpinang atas dugaan penggelapan dana Pembuatan Sumur.

PRESMEDIA.ID,Tanjungpinang- Terdakwa Rizki Patrioka, mantan supervisor PT.Widyacipta Fortuna, perusahaan Developer yang bergerak dalam pembangunan perumahan di Jalan Raya Blok A Nomor 1 Tanjungpinang dituntut karena penggelapan dana pembautan sumur.

Dalam dakwaan JPU terdakwa Rizki dijerat dengan pasal penggelapan dalam jabatan, melanggar pasal 374 KUHP.

Sidang terdakwa yang dipimpin ketua Majelis Hakim, Eduard P Sihaloho didampingi Hakim anggota Romauli Purba dan Corpioner di PN Tanjungpinang, Senin,(12/2/2020) juga menghadirkan seorang saksi
General Manager (GM) Widyacipta Fortuna Albert (53).

Dalam kesaksiannya, Albert mengatakan, Terdakwa Rizki dilaporkan perusahannya karena melakukan penggelapan dana pembuatan sumur Bor, yang pekerjaannya tidak sesuai dengan spesifikasi pengerjaan, dan menghabiskan dana Rp.160 juta.

Kepada majelis Hakim Albert juga mengatakan, terdakwa yang berkerja di PT.Widyacipta Fortuna sebagai Supervisor dan sempat menjadi Kepala Kantor cabang perwakilan Tanjungpinang.

Awalnya kata Albert, Terdakwa mengajukan permohonan permintaan dana untuk pembuatan sumur bor pada tanggal 20 Maret 2017. Dalam permohonan terdakwa, Ada sebanyak 11 sumur bor yang akan dikengerjakan, dengan biaya p embuatan perunit Rp 12.500.000 yang ditransfer ke rekening terdakwa.

Lebih lanjut Albert, mengungkapkan ada sebanyak 6 kali pengajuan permohonan peminjaam uang sumur bor, yang pertama di tanggal 3 Agustus 2017, sebesar Rp 42,5 juta untuk pembuatan 3 unit sumur.

Tanggal 17 Januari 2018, sebesar Rp 45 juta untuk 3 unit sumur juga, pada tanggal 1 November 2018 sebesar Rp 15 juta, tanggal 18 Desember 2018 sebesar Rp 12 juta. Selain itu di tanggal 1 dan 4 Juli 2019, seluruhnya sebesar Rp 30 juta.

“Sehingga jumlah seluruhnya sebanyak Rp 160 juta,” kata Albert.

Namun, Ia mengungkapkan setelah berselang dua tahun, proyek perumahan penjualan KPR nya sedikit menurun. Sehingga menanyakan kembali kepada Terdakwa apakah pembangunan perumahan itu dilanjutkan atau tidak.

Setelah dilakukan pengecekan dari 11 sumur yang direncanakan dibangun, yang terbangun hanya 8 sumur yang dikerjakan. Dari jumlah itu, kuga tidak sesuai spesifikasi, 30 meter kedalam.

Setelah dilakukan pengecekan ternyata sumur bor itu hanya memiliki kedalam 2 meter, sedangkan 3 sumur lainnya tidak dikerjakan.

“Pengukurannya dilakuka dengan secara manual menggunakan kayu,”jelas Albert.

Atas temuan itu, lanjut Albert, Pihaknya juga sudah membuat pernyataan kepada terdakwa untuk mengembalikan biaya pembuatan sumur Rp 42,5 juta untuk 3 unit sumur bor selambat-lambatnya 14 September 2019. Namun terdakwa juga tidak dapat mengembalikan uang tersebut.

“Setelah waktu jatuh tempo terdakwa tidak masuk kerja. Saya telpon tapi tidak diangkat, hingga kami Laporkan ke Polisi,” jelasnya.

Selain menggelapkan Uang perusahan, Albert juga mengatakan, terdakwa juga mempengaruhi karyawan lain di bagian keuangan bernama Sastra untuk keluar karena yang bersangkutan sering tidak masuk kerja. Tapi atas keterangan Albert itu, terdakwa Rizki membantahnya, dan menyatakan keterangan saksi tersebut tidak benar.

Atas keterangan itu, Ketua Majelis Hakim, Eduard P Sihaloho serta didampingi oleh Majelis Hakim anggota Romauli Purba dan Corpioner menunda persidangan selama satu pekan mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi lainnya.

Penulis:Roland

Comments
Loading...