Ini Alasan Kejati Kepri Tidak Nyatakan Dirut PT.BFG dan Konsultan CV. Vitech Tersangka di Korupsi Jembatan Tanah Merah Bintan

*Kasipenkum Kejati Kepri: Jafarudin Tersangka dan Masuk Dalam Daftar DPO

0 111
Kejati Kepri Limpahkan Dua Tersangka Korupsi Proyek Jembatan Tanah Merah ke Kejari Bintan
Kejati Kepri Limpahkan Dua Tersangka Korupsi Proyek Jembatan Tanah Merah ke Kejari Bintan. (Foto: Doc-Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau (Kepri) mengatakan, perseroan PT.Bintang Fajar Gemilang (BFG) dan konsultan perencana dan pengawas CV.Vitech belum dinyatakan tersangka dalam dugaan korupsi proyek Jembatan Tanah Merah Bintan karena, orangnya kabur dan meninggal dunia.

Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri Rudi Margono melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Kepri, Denny Anteng Prakoso mengatakan, dalam kasus dugaan korupsi proyek jembatan Tanah Merah Bintan yang menelan dana APBN 2018-2019 melalui BP.Batam Rp16,9 miliar, PT.Bintang Fajar Gemilang (BFG) adalah kontraktor pemenang tender pertama pengerjaan proyek tahun 2018.

Sedangkan CV. Vitech Pratama Consultant adalah konsultan perencana (Rancang bangun jembatan) sekaligus Konsultan pengawas proyek pada tahun 2019.

“Dalam penyelidikan dan penyidikan PT.Bintang Fajar Gemilang (BFG) ini, sudah memang ditetapkan tersangka dan lagi tahap proses pencariaan setelah sebelumnya kabur dan masuk dalam daftar DPO,” jelas Denny menjawab konfirmasi PRESMEDIA.ID, Rabu (25/10/2023).

Saat ini lanjutnya, Tim Intel Kejaksaan Tinggi Kepri berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung, juga sedang melakukan pencarian.

Adapun nama Dirut PT.Bintang Fajar Gemilang (BFG) yang ditetapkan tersangka dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) ini kata Kasipenkum Kejati Kepri ini adalah Jafarudin.

Dirut CV.Vitech Meninggal Dunia

Sementara terhadap konsultan perencana dan pengawas CV. Vitech Pratama Consultant lanjut Denny, dalam kasus ini, tidak ditetapkan tersangka karena direkturnya dinyatakan meninggal dunia.

Namun demikian, CV. Vitech Pratama Consultant dikatakan Kejaksaan, memiliki itikad baik melakukan pengembalian dana kerugian keuangan negara sebesar Rp257 juta dari perencanaan yang dilakukan terhadap proyek jembatan itu pada tahun 2018.

“Kemudian untuk kegiatan pengawasan yang dilakukan pada 2019, CV. Vitech ini juga mengembalikan kerugian negara Rp213 juta,” sebutnya.

Kemudian CV.Dika SAE, sebaga konsultan pengawas kegitan proyek Jembatan pada 2018, juga mengembalikan keruguan Negara Rp50 juta.

Dengan pengembalian itu, Kejati Kepri menyebut, total dana pengembalian kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi proyek Jembatan Tanah Merah Bintan ada sebanyak Rp500 juta lebih, dan seluruh dana tersebut dititipkan di Kejaksaan dan terlampir di dalam berkas perkara dua tersangka.

Sebelumnya, sesuai fakta penyidikan Kejati Kepri pada dugaan Korupsi proyek Jembatan Tanah Merah 2018 di Kabupaten Bintan, dialokasikan dari anggaran BP.Kawasan Batam dengan besaran pagu Rp10 miliar. Nilai kontrak proyek pertama pembangunan jembatan ini adalah Rp9,9 miliar.

Kegiatan pembangunan jembatan pada 2018, dilaksanakan oleh PT.Bintang Fajar Gemilang (Belum ditetapkan tersangka-red) dan Konsultan perencana (Rancang bangun) DED (Detail Engineering Design) Jembatan adalah CV. Vitech Pratama Consultant.

Dari penyidikan yang dilakukan Jaksa, menemukan fakta bahwa, konsultan perencana, pemenang tender proyek serta konsultan pengawas kegiatan, diduga telah dikondisikan tersangka Bw selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pada 2018.

Akibatnya, pekerjaan perencanaan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan keahlian yang dipersyaratkan. Selain itu, pengarahan dan pengawasan proyek juga tidak sesuai dengan kontrak yang ditandatangani.

“Atas perintah tersangka Bw, Pokja Pemilihan dalam proses lelang diduga diminta memenangkan PT.Bintang Fajar Gemilang pada tender pekerjaan,” kata Jaksa sebagaimana rilis Kejati Kepri, Selasa (24/10/2023).

Selanjutnya sebut penyidik, saat mulai melakukan pekerjaan PT.Bintang Fajar Gemilang juga tidak melakukan review desain secara menyeluruh dan pelaksanaan pekerjaan dilakukan berdasarkan desain yang dibuat oleh konsultan perencana yang ditetapkan PPK.

Terhadap tenaga ahli PT.Bintang Fajar Gemilang sebagaimana tercantum di dalam kontrak, juga tidak datang dan ikut melaksanakan pekerjaan. Namun pelaksanaan pekerjaan, hanya dihadiri dan diawasi 1 orang mandor dan 2 orang karyawan PT Bintang Fajar Gemilang.

“Selain itu, PT.Bintang Fajar Gemilang juga tidak memiliki surat dukungan ketersediaan beberapa bahan material sebagaimana dipersyaratkan dalam KAK,” jelas Jaksa.

Kemudian, beberapa bahan material yang dipasang juga ditemukan tidak sesuai dengan standar SNI.

Selanjutnya pada 17 Desember 2019, kontrak pekerjaan proyek pembangunan Jembatan tanah merah Bintan ini diputus PPK dengan progres pekerjaan 35,35 persen.

Sementara dari hasil pemeriksaan secara visual kondisi elemen struktur jembatan, banyak terjadi keretakan pada abutment. Kemudian, posisi abutment miring pada sisi kiri dan kanan yang mengakibatkan balok girder hampir lepas dari posisi semula.

“Hal ini mengakibatkan kerusakan struktur cukup parah dan mengakibatkan jembatan tidak berfungsi sama sekali,” ujar Jaksa.

Berita Terkait :

Penulis: Presmedia
Editor  : Redaksi

Leave A Reply

Your email address will not be published.