
PRESMEDIA.ID– Guru di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Surat ini ditulis secara terbuka sebagai mana diperoleh redaksi Media ini dari salah sorang pembaca.
Dalam suratnya, guru yang namanya tidak disebut dalam tulisan ini , mengungkap realitas yang dihadapi para tenaga pendidik di wilayah Kepulauan, mulai dari pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) hingga biaya transportasi yang harus ditanggung sendiri demi bisa mengajar.
Patungan Bayar Pompong Agar Bisa Mengajar
Salah satu keluhan utamanya adalah biaya transportasi, Para guru di Pulau Penyengat, dikatakan harus patungan sekitar Rp200 ribu per bulan untuk menyewa pompong (perahu) agar bisa sampai ke sekolah.
Kondisi ini dinilai sebagai ironi. karena Disatu sisi mereka digaji negara untuk mengajar, Namun di sisi lain harus mengeluarkan biaya pribadi agar bisa mengajar ke sekolah.
Dalam surat itu juga disinggung kebijakan efisiensi yang berdampak pada pemotongan TPP. Hal ini membuat beban para guru semakin terasa.
Guru tersebut juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digaungkan pemerintah. Namun hingga saat ini belum dirasakan siswanya di Pulau Penyengat.
Soroti Proyek Tugu Bahasa Bernilai Besar
Selain itu, melalui suratnya, Guru ini juga menyinggung rencana pembangunan Tugu Bahasa oleh Pemerintah Provinsi Kepri dengan anggaran APBD Ratusan Miliar.
Para guru mengaku menghargai pembangunan simbol budaya dan sejarah. Namun di saat yang sama, kebutuhan dasar seperti transportasi guru justru belum terpenuhi.
Melalui suratnya itu, para guru berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kebutuhan mendasar di dunia pendidikan, khususnya di daerah terpencil seperti di Pulau Penyengat.
Dalam penutup suratnya, para guru ini juga meminta gar Presiden Prabowo dapat melihat langsung kondisi di lapangan, tanpa seremoni atau laporan yang telah “dirapikan” sehingga setiap kebijakan dan program benar-benar dirasakan hingga ke pelosok negeri.
Berikut isi Lengkap Surat Terbuka Guru di Paulau Penyengat Ke Presiden Prabowo Subiyanto
Kepada Yth,
Bapak Prabowo Subianto
Dari sebuah pulau kecil bernama Penyengat, kami menulis bukan dari ruang rapat, bukan dari forum resmi, tetapi dari perjalanan laut yang setiap hari kami biayai sendiri.
Bapak Presiden,
Izinkan kami bercerita tentang hal yang mungkin terlalu kecil untuk masuk ke dalam laporan besar yang Bapak terima.
Untuk bisa mengajar, kami guru-guru di Pulau Penyengat patungan sekitar Rp200.000 setiap bulan. Uang itu kami sisihkan dari TPP yang kami terima, hanya untuk menyewa pompong agar kami bisa sampai ke sekolah.
Sebuah ironi yang sederhana, Kami dibayar oleh negara untuk mengajar, Namun harus membayar kembali untuk bisa bekerja.
Kini, ketika kebijakan efisiensi diberlakukan dan TPP ikut berkurang, beban itu terasa semakin nyata. Negara sedang berhemat, Pak tetapi penghematannya, entah mengapa, terasa paling dekat dengan kami yang paling jauh.
Bapak Presiden,
Kami juga mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digaungkan sebagai langkah besar untuk masa depan anak-anak Indonesia.
Namun izinkan kami menyampaikan satu kenyataan yang mungkin luput dari perhatian:
Di Pulau Penyengat, hingga hari ini, program itu belum kami rasakan.
Tidak ada makanan bergizi yang datang ke sekolah kami.
Tidak ada distribusi yang menyentuh anak-anak kami.
Yang ada hanyalah cerita tentang program besar yang berjalan di tempat lain, tentang anggaran yang begitu besar dan tentang harapan yang belum sempat menyeberang ke pulau kami.
Kami jadi bertanya dalam diam, Apakah program ini benar-benar untuk semua anak Indonesia Atau baru untuk mereka yang lebih mudah dijangkau?
Bapak Presiden,
Di tempat kami, ada ironi lain yang mungkin lebih sunyi, tapi terasa nyata.
Kami melihat rancangan pembangunan yang megah tugu, simbol, penanda sejarah dan bahasa yang berdiri dengan anggaran yang tentu tidak kecil.
Kami menghargai itu, karena sejarah memang penting, identitas memang harus dijaga.
Namun di saat yang sama, kebutuhan paling sederhana kami justru belum terpenuhi.
Kami tidak meminta bangunan besar.
Kami hanya berharap ada satu hal kecil yang nyata, pompong gratis agar guru bisa sampai ke sekolah tanpa harus membayar dari kantong sendiri.
Entah mengapa, membangun simbol terasa lebih mudah daripada menyelesaikan kebutuhan dasar.
Bapak Presiden yang kami hormati,
Perlu kami sampaikan, kami adalah bagian dari rakyat yang percaya kepada Bapak sejak 2014.
Kepercayaan itu tidak hilang, hanya saja kini ia mulai dipenuhi pertanyaan.
Dan kami tetap ingin percaya bahwa Bapak tidak salah.
Namun mungkin, ada yang perlu Bapak lihat lebih dekat, bahwa di sekitar Bapak, terlalu banyak hal yang terdengar baik-baik saja.
Laporan terlihat rapi, Program tampak berhasil, Angka-angka meyakinkan. Tetapi, realitas di lapangan tidak selalu sejalan.
Di dunia pendidikan hari ini, kami menghadapi banyak hal sekaligus, kebijakan yang berubah cepat, beban administrasi yang tak kunjung ringan, ketimpangan fasilitas antar daerah, serta kesejahteraan guru yang masih jauh dari layak. Dan kini, untuk sekadar hadir mengajar, kami masih harus membayar.
Bapak Presiden,
Kami tidak meminta lebih, Kami hanya meminta yang seharusnya menjadi dasar.
Jika pendidikan adalah prioritas, maka jangan biarkan guru membiayai pengabdiannya sendiri.
Jika program nasional dibuat, pastikan ia benar-benar nasional menjangkau hingga ke pulau-pulau kecil seperti kami.
Dan jika pembangunan dilakukan, semoga yang didahulukan bukan hanya yang terlihat, tetapi yang benar-benar dibutuhkan.
Mungkin suatu hari, Bapak bisa datang ke sini tanpa seremoni, tanpa laporan yang sudah dirapikan. Agar Bapak bisa melihat sendiri, bahwa di tempat yang jauh dari pusat, kami masih setia mengajar meski sering merasa tidak terlihat.
Hormat kami, Guru-guru Pulau Penyengat
Penulis:Guru-guru Pulau Penyengat
Editor :Redaksi Presmedia
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com












