Akses Jalan Masih Terbatas, BPH Migas Jamin Pasokan BBM di Wilayah Bencana Aceh

BPH Migas memastikan pasokan BBM di Aceh tetap aman meski akses jalan terbatas akibat bencana. Distribusi BBM ke Bener Meriah dan Aceh Tengah terus dipercepat melalui skema darurat.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga berupaya keras menormalisasi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Aceh (Foto-Pertamina Sumbagut)
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga berupaya keras menormalisasi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Aceh (Foto-Pertamina Sumbagut)

PRESMEDIA.ID– Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), bersama PT Pertamina Patra Niaga mengatakan, akan terus berupaya menormalisasi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah terdampak bencana alam seperti Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Secara umum, PT.Pertamina Patra Niaga mengatakan, pasokan BBM di Aceh berada dalam kondisi aman dan saat ini, 97 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah terdampak bencana telah kembali beroperasi untuk melayani kebutuhan masyarakat.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, saat kunjungan kerja ke Aceh menegaskan bahwa, meskipun banyak infrastruktur jalan yang terputus akibat longsor, distribusi BBM tetap menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil.

“Distribusi BBM tetap kami pastikan sampai ke desa-desa yang akses jalannya terbatas, termasuk Desa Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah,” ujar Wahyudi, Senin (19/1/2025).

Distribusi BBM Gunakan Skema Khusus

Ia juga mengatakan, salah satu tantangan utama terdapat di Kabupaten Bener Meriah, di mana sejumlah akses jalan dan jembatan putus akibat longsor.

Kondisi ini lanjutnya, membatasi kapasitas mobil tangki yang bisa melintas, sehingga hanya armada berkapasitas sekitar 8 kiloliter (KL) yang dapat digunakan.

Untuk mengatasi kendala tersebut, BPH Migas dan Pertamina menerapkan skema distribusi darurat, yakni menggunakan jerigen dan drum yang diangkut dengan kendaraan double cabin 4×4 guna menjangkau desa-desa terisolasi.

Pembelian BBM Subsidi Diberi Keringanan

Wahyudi juga mengatakan, selama masa tanggap darurat, Provinsi Aceh mendapatkan keringanan pembelian BBM subsidi secara manual tanpa barcode.

Kebijakan ini bertujuan mencegah kepanikan masyarakat serta mempermudah aktivitas harian, termasuk pengoperasian genset bantuan pemerintah.

“Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan kebijakan ini dengan bijak sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Sebagai informasi, status tanggap darurat bencana di Aceh telah berlangsung dalam beberapa tahap yaitu, Tahap pertama dari 28 November hingga 11 Desember 2025.

Kemudian, Tahap kedua dari 12 hingga 25 Desember 2025 dan Tahap ketiga dari 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026, Tahap keempatd dari 9 – 22 Januari 2026 (sesuai Keputusan Gubernur Aceh).

Hasil monitoring BPH Migas menunjukkan kebijakan keringanan pembelian BBM jenis JBT dan JBKP berjalan efektif serta sesuai kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

Selama masa darurat, suplai BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe disiapkan melalui hub suplai (fuel terminal bayangan) di Blang Rakal, Bener Meriah.

BBM dari truk tangki berkapasitas 16 KL langsung dipindahkan ke truk berkapasitas 8 KL, lalu disalurkan secara estafet menggunakan jerigen dan drum.

“Ini merupakan bukti kehadiran negara dalam menjamin kebutuhan energi masyarakat di daerah bencana,” tegas Wahyudi.

Kebutuhan dan Realisasi BBM di Aceh

Pada tahun 2025, kebutuhan BBM jenis Biosolar di Aceh mencapai 428.324 KL, sedangkan penyaluran Pertalite mencapai 576.147 KL, termasuk untuk penanganan kebencanaan.

Selama bencana akhir 2025, kebutuhan BBM meningkat sekitar 8 persen, namun realisasi nasional masih berada di bawah kuota, yakni sekitar 95–98 persen.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Sumatera Bagian Utara, Sunardi, memastikan kondisi stok BBM di Aceh dalam keadaan aman.

Saat ini, stok Biosolar cukup untuk 5 hari, sementara Pertalite mencapai 5,6 hari, dan akan bertambah dengan kedatangan kapal BBM dalam waktu dekat.

Distribusi estafet juga terus dilakukan dengan mengoperasikan 8 unit truk tangki 16 KL sebagai feeder dan 10 unit truk 8 KL untuk menyuplai 8 SPBU di Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Saat ini lanjutnya, suplai BBM telah mampu memenuhi sekitar 85 persen kebutuhan normal di Bener Meriah dan 75 persen di Aceh Tengah.

Pertamina berharap, setelah akses jalan pulih dan truk 16 KL dapat melintas, distribusi BBM kembali normal langsung dari Depot Lhokseumawe.

“Mudah-mudahan cuaca membaik dan jalur segera terbuka agar penyaluran BBM bisa sepenuhnya normal,” pungkas Sunardi.

Penulis:Roland
Editor :Redaktur