DKPP Bintan Pastikan, Kasus Virus Ngorok Ternak Kerbau Belum Ditemukan di Bintan

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bintan dan Pejabat Otoritas Veteriner Bintan, drh Iwan Berri Prima. (Foto: Hasura/Presmedia.id)
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bintan dan Pejabat Otoritas Veteriner Bintan, drh Iwan Berri Prima. (Foto: Hasura/Presmedia.id)

PRESMEDIA.ID, Bintan – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bintan memastikan, Virus Ngorok atau Penyakit Septicaemia Epizootica (SE) yang mewabah dan menyerang ternak Kerbau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) belum ditemukan di kabupaten Bintan.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bintan, drh.Iwan Berri Prima, mengatakan berdasarkan hasil pengawasan dokter hewan dan paramedik veteriner di Bintan, hingga saat ini belum ditemukan kasus Penyakit Ngorok yang menyerang hewan itu di Kabupaten Bintan.

“Alhamdulillah, hingga saat ini Penyakit Septicaemia Epizootica (SE) atau dikenal dengan Virus Ngorok yang menyerang hewan ternak Kerbau di OKI ini, belum ada ditemukan di Kabupaten Bintan,” ujar drh.Iwan, Kamis (18/4/2024).

Iwan Berri Prima juga mengatakan, berdasarkan literasi penelitian yang dilakukan, Penyakit SE pada ternak kerbau, bukan disebabkan oleh virus, tetapi karena bakteri.

Bakteri yang menyerang ternak dalam penyakit ini adalah bakteri Pasteurella Multocida dan bagi kerbau yang terjangkit, dapat memati dalam waktu singkat.

Adapun gejala klinisnya pada hewan yang terjangkit lanjutnya, akan diawali dengan peningkatan suhu tubuh, oedema submandibular dan biasanya dapat menyebar ke daerah dada. Dari gejala ini mengakibatkan pernafasan ternak yang terinfeksi menjadi seperti “Ngorok” dibarengi dengan ingus yang keluar dari hidung.

“Terhadap hewan yang terjangkit, akan mengalami tiga fase. Pertama, akan mengalami kenaikan suhu tubuh, fase kedua, mengalami gangguan pernafasan dan fase terakhir yaitu fase kondisi hewan menjadi lemah dan berbaring hingga mati,” jelasnya.

Hewan kerbau sebutnya, lebih peka terhadap Penyakit SE dibandingkan dengan sapi.
Dan untuk gejala penyakit, timbul setelah masa inkubasi dua sampai dengan lima hari. Lama atau jalannya penyakit sampai pada kematian pada kerbau lebih pendek dibandingkan dengan sapi.

“Kisaran waktunya mulai kurang dari 24 jam dalam kejadian perakut sampai 2 sampai dengan 5 hari,” katanya.

Pria yang juga menjabat sebagai Pejabat Otoritas Veteriner Kabupaten Bintan ini juga menambahkan, Septicaemia dalam banyak kasus, merupakan tahap kejadian paling akhir.

“Tapi, untuk fase penyakit yang kami sampaikan diatas tidak selamanya terjadi secara berurutan dan sangat tergantung pada setiap imunitas individu hewan. Namun jika tidak segera ditangani akan menyebabkan kematian pada hewan,” pungkasnya.

Penulis: Hasura
Editor  : Redaksi

Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com