
PRESMEDIA.ID– Kabut asap kiriman dari wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan kembali dirasakan masyarakat di Tanjungpinang, Bintan, hingga Batam.
Kondisi ini turut memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang, khususnya di wilayah Pulau Bintan yang mencakup Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.
Berdasarkan keterangan tertulis prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca di wilayah Pulau Bintan dalam tiga hari terakhir pada Oktober 2026 didominasi cuaca cerah berawan hingga berawan.
Cuaca yang relatif kering tersebut, ditambah kondisi angin dan adanya kabut asap kiriman, membuat kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah wilayah mengalami penurunan.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari, wilayah Pulau Bintan terindikasi terdampak kabut asap kiriman dari wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Kondisi angin yang dominan bertiup dari arah tenggara hingga selatan di sekitar Pulau Bintan turut memengaruhi potensi terbawanya massa udara dan partikel asap karhutla dari wilayah sumber menuju Pulau Bintan dan sekitarnya.
BMKG juga tidak memantau adanya pola angin signifikan di sekitar Pulau Bintan. Kondisi ini turut memengaruhi berkurangnya potensi pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, dan sekitarnya.
Meski kabut asap terpantau berdampak ke Pulau Bintan, hasil pemantauan hotspot menunjukkan tidak teridentifikasi adanya titik panas di sekitar wilayah Pulau Bintan.
Hal ini mengindikasikan kabut asap yang dirasakan masyarakat bukan berasal dari titik panas yang terpantau di wilayah Pulau Bintan, melainkan diduga merupakan dampak kiriman dari wilayah lain.
Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat
Sementara itu, kondisi kualitas udara di Batam juga perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara PM2.5, konsentrasi partikel di wilayah Batam berada pada kategori tidak sehat sejak sekitar pukul 10.00 WIB.
Konsentrasi tertinggi terpantau pada pukul 10.00 WIB, yakni mencapai 103,3 µg/m³.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara di Kepulauan Riau masih berpotensi terdampak sebaran kabut asap, terutama apabila aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera maupun Kalimantan kembali meningkat.
Jarak Pandang di Bandara Tanjungpinang Menurun
Dampak kabut asap juga terlihat dari penurunan jarak pandang di wilayah Tanjungpinang.
Berdasarkan hasil pengamatan alat observasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah, Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, jarak pandang mendatar saat ini berada pada kisaran 1 hingga 3 kilometer.
Penurunan jarak pandang tersebut berkaitan dengan keberadaan kabut asap di wilayah Pulau Bintan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.
Jarak pandang yang semakin rendah, khususnya ketika berada di bawah 5 kilometer, dapat memengaruhi operasional penerbangan di bandar udara.
Di tengah kondisi kabut asap, terdapat peluang perubahan cuaca dalam beberapa hari ke depan. BMKG memprakirakan, kondisi cuaca di Pulau Bintan masih didominasi cerah berawan hingga berawan.
Namun, potensi curah hujan diperkirakan mulai meningkat pada 9–11 Oktober 2026.
Hujan yang terjadi diperkirakan bersifat lokal dan tidak merata akibat pengaruh aktivitas Gelombang Ekuator di sekitar wilayah Pulau Bintan.
Memasuki awal dasarian II Oktober 2026, potensi hujan lokal juga masih diprakirakan terjadi, terutama pada siang hingga sore hari.
Hujan yang turun di wilayah terdampak berpotensi membantu mengurangi konsentrasi partikel asap di udara. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai perubahan cuaca yang dapat terjadi dengan cepat.
BMKG Imbau Masyarakat Waspada
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta dampak kabut asap kiriman dari wilayah Sumatera, Kalimantan, dan daerah sekitarnya.
Masyarakat juga diminta memperhatikan perkembangan cuaca, terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan.
Selain itu, masyarakat disarankan memantau perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker yang sesuai juga dianjurkan sebagai langkah perlindungan dari dampak penurunan kualitas udara akibat kabut asap.
Dengan kondisi kualitas udara yang masih dapat berubah, masyarakat di Tanjungpinang, Bintan, Batam, dan wilayah Kepri lainnya diharapkan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi udara di wilayah masing-masing.
Penulis :Roland
Editor :Redaktur
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com









