
PRESMED.ID,Bintan-Rumah Sakit Daerah Bintan di Kijang mengatakan dalam 2 bulan terakhir, terdapat 8 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani rumah sakit tersebut.
Dari jumlah kasus DBD yang ditangani rumah sakit itu, warga dari kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur menjadi wilayah penyumbang tertinggi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) selama 2 bulan terkahir di Kabupaten Bintan.
“Dari September-Oktober 2019 ini pasien DBD yang ditangani RSUD Bintan sebanyak 8 kasus. September sebanyak 5 kasus dan Oktober sampai sekarang ini ada 3 kasus,� ujar Humas RSUD Bintan dr Toni,Jumat (18/10/2019).
Selain dari Kelurahan Gunung Kijang, lanjut dr.Toni ada warga dari Kelurahan Gunung Lengkuas sebanyak 3 orang yang. Begitu juga dengan Kelurahan Kijang Kota sebanyak 3 kasus.
Kemudian Desa Gunung Kijang, Kecamatan Gunung Kijang ada 1 kasus dan Desa Dendun, Kecamatan Mantang ada 1 kasus. Sedangkan desa-desa di Kecamatan Bintan Pesisir nihil.
�Gunung Lengkuas dan Kijang kota merupakan daerah endermis. Yaitu rawan dengan perkembangannya Nyamuk Aedes Aegypti ini,�katanya.
Sebanyak, 70 persen pasien DBD yang ditangani RSUD Bintan berasal dari kalangan balita sampai anak-anak. Sedangkan 30 persen lagi dari kalangan remaja sampai dewasa.
Rinciannya, kata Toni, anak-anak dari usai 5-9 tahun sebanyak 1 orang, usia 10-14 tahun sebanyak 4 orang, usia 15-19 tahun sebanyak 1 orang dan usia 20-44 sebanyak 3 orang. �Dari seluruh kasus ini pasien perempuan yang banyak kita tangani yaitu 5 orang sedangkan laki-laki 3 orang,� jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Bintan, dr Gama AF Isnaeni mengatakan 3 kecamatan yang rawan menjadi wilayah endemis atau diserang wabah DBD dikala musim penghujan. Yaitu Kecamatan Bintan Utara, Seri Kuala Lobam, dan Bintan Timur.
�Sekarang hujan sering melanda jadi cegahlah dengan budayakan hidup bersih dan sehat sebelum diserang DBD,� sebutnya.
Ada beberapa cara menangani nyamuk yaitu melakukan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gertak PSN). Diantaranya menerapkan 3 M Plus yaitu menguras penampungan air, membuang barang-barang yang mudah tergenang air dan menutup penyimpanan air serta rumah bebas jentik pada masyarakat dan memberikan bubuk abate secara gratis.
Sedangkan foging pada wilayah endemis, kata Gama, tidak terlalu efisien. Sebab hanya membunuh nyamuk dewasa saja sedangkan sumbernya atau jentik-jentik masih hidup. Meskipun demikian pihaknya tetap melakukan foging jika ada permintaan dari masyarakat.
�Ayo galakkan lagi Gertak PSN di lingkungannya masing-masing. Lebih baik cegah DBD dari pada mengobatinya,� ungkapnya.
Penulis: Harsura Bintan
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com












