
PRESEMDIA.ID– Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Ansar Ahmad meminta aparat penegak hukum (APH) bertindak tegas dam menangkap kapal-kapal pembuang limbah minyak hitam (sludge oil) yang mencemari perairan laut Kepulauan Riau (Kepri).
Hal itu disampaikan Ansa,r menyusul maraknya kasus pencemaran laut akibat sludge oil yang berulang kali ditemukan mencemari ekosistem laut dan pesisir, terutama di wilayah Bintan dan kawasan pesisir lainnya di Kepri.
“Tangkap saja satu atau dua kapal pelaku. Berikan hukuman setimpal, pasti ada efek jera bagi yang lain,” tegas Ansar, Senin (9/2/2026).
Pencemaran Laut Terjadi Hampir Setiap Tahun
Ansar mengungkapkan, persoalan limbah minyak hitam di perairan Kepri hampir terjadi setiap tahun, Namun hingga kini penindakan dan penegakan hukum dinilai belum maksimal.
“Kejadian ini selalu menjadi perhatian kita dan sudah berulang kali dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Namun, karena hampir setiap tahun terjadi, hasilnya belum memuaskan,” ujarnya.
Ia pun mendorong TNI Angkatan Laut, Polairud, serta seluruh aparat keamanan yang bertugas di laut untuk meningkatkan pengawasan dan mengusut tuntas pelaku pencemaran laut.
Keluhan Wisatawan hingga Ancaman Ekosistem Laut
Menurut Ansar, pencemaran sludge oil tidak hanya merugikan masyarakat pesisir, tetapi juga berdampak pada sektor pariwisata. Keluhan bahkan datang dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kepulauan Riau.
“Bukan hanya kita yang terdampak, wisatawan asing yang datang berlibur ke daerah kita juga mengeluhkan hal ini,” katanya.
Selain itu, limbah minyak hitam juga merusak ekosistem laut di kawasan konservasi, salah satunya padang lamun di pesisir Bintan, yang memiliki peran penting bagi keberlanjutan biota laut.
Ansar menekankan pentingnya peningkatan intensitas pengawasan, khususnya di jalur-jalur laut strategis seperti selat, dengan memanfaatkan teknologi pemantauan.
“Saya yakin kalau diawasi dengan sungguh-sungguh dan menggunakan alat-alat teknologi, persoalan ini bisa diatasi,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa hingga kini sumber limbah sludge oil tersebut belum dapat dipastikan, apakah berasal dari perairan Batam, Johor, atau Singapura, karena belum ditemukan bukti kuat.
“Biasanya mereka membuang limbah di tengah malam. Karena itu, pengawasan harus benar-benar diperketat,” pungkas Ansar.
Penulis: Roland.
Editor : Redaktur