
PRESMEDIA.ID, Bintan – Sejumlah nelayan di Kecamatan Tambelan mengeluhkan maraknya aktivitas pencarian ikan ilegal yang menggunakan berbagai jenis pukat dan bahan peledak atau bom.
Praktik ini merugikan nelayan lokal dan menyebabkan penurunan hasil tangkapan ikan.
Dulhadi, seorang nelayan dari Desa Kukup Tambelan, mengungkapkan sekitar 75 persen warga di Tambelan bergantung pada hasil laut. Namun, kondisi perairan yang tidak aman membuat mereka kesulitan.
“Kami pergi pagi pulang pagi untuk mencari ikan. Kalau laut kami tidak aman, bagaimana lagi kami cari ikan. Inilah nasib kami sekarang,” ujar Dulhadi dalam acara Temu Wicara di Tambelan, beberapa waktu lalu.
Ia juga mengatakan, banyak nelayan luar daerah yang beroperasi di Laut Tambelan, membuat lingkungan dan ekosistem bawah laut rusak karena menggunakan alat tangkap Mayang Malam, pukat merami, pukat sotong, pukat juana, dan bom ikan.
“Dari dulu sampai sekarang kasus ini tidak pernah ada penyelesaian. Kami tidak menyalahkan aparat dan bupati, tapi mari duduk bersama untuk mencari solusi agar laut aman dan nelayan nyaman,” tambahnya.
Menurut Dulhadi, bom ikan biasanya dilakukan oleh nelayan dari Kalimantan, sementara Mayang Malam dan pukat juana digunakan oleh nelayan dari Pulau Jawa.
“Nelayan Tambelan tidak melarang nelayan luar daerah mencari makan di sini, Namun kami meminta mereka menghargai nelayan lokal yang masih menggunakan alat tradisional,” jelas Dulhadi.
Masalah ini lanjutnya, sudah berlangsung lama dan memicu kemarahan nelayan lokal. Akibatnya, beberapa waktu lalu, nelayan lokal menangkap kapal pelaku ilegal hingga terjadi kericuhan dan nelayan lokal diamankan aparat penegak hukum (APH).
“Kami minta APH bertindak dengan melakukan patroli keliling sehingga tidak ada nelayan luar yang menangkap ikan dengan alat terlarang,” tegasnya.
Pada 1 Juni 2024, aktivitas ilegal kembali terjadi dengan nelayan menggunakan motor merami di perairan Tambelan. Ikan-ikan kabur, membuat nelayan lokal kesulitan mendapatkan hasil tangkapan.
Kasus ini lanjutnya, telah dilaporkan ke APH dan diekspos ke Tambelan Berjaya, namun belum ada tindak lanjut atau solusi yang diberikan.
“Kami minta APH amankan laut kami dan atur ruang penangkapan ikan bagi nelayan lokal dan luar agar tidak terjadi tindakan anarkis lagi,” pinta Dulhadi.
Penulis: Hasura
Editor : Redaksi