
PRESMEDIA.ID– Ditengah derasnya arus informasi digital dan semakin mudahnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI), kemampuan masyarakat dalam memilah informasi dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik menjadi semakin penting. Hal tersebut menjadi perhatian Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kepulauan Riau (Kepri).
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-5, AMSI Kepri menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Darurat Literasi Digital, Menyelamatkan Mutu Bahasa Indonesia Generasi Muda di Bumi Melayu”.
Kegiatan ini berlangsung di Hotel Pelangi, Tanjungpinang, Jumat (25/9/2026), dengan menghadirkan sejumlah tokoh dan pakar dari berbagai bidang.
FGD AMSI Kepri menghadirkan Kepala Kantor Bahasa Kepri Dr. Titik Wijanarti, Guru Besar Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof. Dr. H. Abdul Malik, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Dato’ Sri Setia Utama H. Raja Al Hafiz, serta Ketua Dewan Pendidikan Kepri Dr. Encik Abdul Hajar.
Diskusi dipandu moderator Agoes Soemarwah dan diikuti peserta dari kalangan guru bahasa Indonesia, pegiat taman bacaan masyarakat, hingga mahasiswa.
Ketua AMSI Kepri Jailani mengatakan, FGD tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan lima tahun berdirinya AMSI Kepri.
Menurutnya, meskipun secara kuantitas jumlah anggota AMSI Kepri masih belasan, organisasi tersebut terus berupaya memberikan kontribusi bagi masyarakat Kepulauan Riau.
“Persoalan bahasa sangat penting. Untuk itu, diperlukan keilmuan khusus dalam memahami dan menggunakan bahasa, termasuk di media siber,” kata Jailani.
Media Punya Tanggung Jawab Menjaga Kualitas Bahasa
Jailani menilai media memiliki tanggung jawab besar dalam penggunaan bahasa. Kesalahan dalam pemberitaan tidak hanya berkaitan dengan persoalan tata bahasa, tetapi juga dapat memengaruhi pesan yang diterima masyarakat.
“Kami di media harus menggunakan bahasa yang baik. Ketika media salah menggunakan bahasa, pesan yang disampaikan juga bisa salah,” ujarnya.
Karena itu, AMSI Kepri menghadirkan para pakar dan tokoh dalam FGD tersebut untuk memperkuat pemahaman mengenai literasi bahasa, khususnya di kalangan generasi muda.
Jailani berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan agen-agen literasi yang mampu mendorong penggunaan bahasa Indonesia yang lebih baik di tengah masyarakat.
Misni: Jangan Sampai Digitalisasi Tanpa Filter
FGD AMSI Kepri dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri Misni. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai turut mendukung penguatan sumber daya manusia di daerah.
Menurut Misni, media memiliki posisi strategis sebagai salah satu tulang punggung komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Karena itu, media juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas bahasa sekaligus menyajikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Diskusi ini sangat menarik. Darurat literasi digital menjadi perhatian kita bersama,” kata Misni.
Ia mengatakan, forum tersebut dapat menjadi fondasi untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga bahasa Indonesia sekaligus bahasa Melayu sebagai bagian dari identitas budaya Kepulauan Riau.
“Kita satukan komitmen untuk menjaga bahasa Indonesia, sehingga kita juga menjaga bahasa Melayu,” ujarnya.
Misni juga mengingatkan mahasiswa dan generasi muda agar dapat menjadi agen dalam menjaga penggunaan bahasa Indonesia.
Di tengah perkembangan teknologi digital, masyarakat dituntut semakin melek digital. Namun, kemampuan tersebut harus diiringi dengan kecakapan dalam menyaring informasi.
“Jangan sampai digitalisasi tanpa filter. Ada media atau informasi yang tidak sesuai, termasuk penggunaan judul yang tidak tepat,” katanya.
Menurut Misni, penggunaan bahasa juga harus disesuaikan dengan konteks. Dalam ruang formal, masyarakat diharapkan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Literasi Digital dan Bahasa Melayu Perlu Berjalan Bersama

Misni berharap FGD AMSI Kepri dapat menjadi ruang kolaborasi antara media, pemerintah, akademisi, dan tokoh masyarakat.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat literasi digital sekaligus menjaga kualitas bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di tengah perkembangan teknologi.
Sehari sebelumnya, Kamis (24/9/2026), Pemerintah Provinsi Kepri juga melakukan groundbreaking pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.
“Mari kita dukung pembangunan monumen bahasa untuk warisan ke generasi muda,” kata Misni.
Dalam kesempatan tersebut, Misni juga mengapresiasi perjalanan AMSI Kepri yang telah memasuki usia lima tahun.
“Selamat lima tahun AMSI Kepri. Isi medianya sangat kaliber. (Anggota AMSI Kepri) ini media bukan kaleng-kaleng di Kepri,” ujarnya.
Kantor Bahasa Kepri: Masyarakat Menghadapi Banjir Informasi
Kepala Kantor Bahasa Kepri Titik Wijanarti mengatakan, persoalan literasi digital semakin penting di tengah derasnya arus informasi.
Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi kondisi yang dapat disebut sebagai banjir informasi. Tantangannya bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memilih, memahami, dan mengolah informasi secara tepat.
“Di zaman digitalisasi ini banyak banjir informasi. Bagaimana memilih informasi dan mengolah informasi itu dengan baik,” katanya.
Titik juga mengingatkan pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar tanpa meninggalkan bahasa ibu atau bahasa daerah.
Pesan tersebut dinilai relevan bagi Kepulauan Riau yang memiliki akar budaya Melayu yang kuat. Karena itu, penguatan literasi bahasa diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian bahasa daerah.
Guru Besar UMRAH: Bahasa adalah Fondasi Literasi
Guru Besar UMRAH Prof. Abdul Malik turut menyoroti posisi bahasa dalam literasi digital.
Menurutnya, kemampuan literasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca dan menulis.
“Bahasa itu membaca dan menulis,” ujarnya.
Ia menekankan, kemampuan berbahasa merupakan salah satu fondasi penting dalam memahami sekaligus memproduksi informasi di ruang digital.
Dewan Pendidikan Kepri Soroti Penggunaan AI di Sekolah
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kepri Encik Abdul Hajar menyoroti perubahan pola belajar pelajar di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, semakin mudahnya akses terhadap AI perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir dan literasi yang kuat.
Ia mendorong pemanfaatan AI untuk mendukung proses literasi, bukan menggantikan proses berpikir peserta didik.
Encik juga menyarankan agar guru di sekolah memberikan batasan dalam penggunaan AI sehingga teknologi tersebut tetap berfungsi sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.
AMSI Kepri Tutup HUT ke-5 dengan Malam Apresiasi
Selain menggelar FGD mengenai literasi digital dan bahasa Indonesia, AMSI Kepri juga menggelar malam apresiasi sebagai puncak perayaan HUT ke-5.
Malam apresiasi tersebut dijadwalkan berlangsung di Nite & Day Laguna pada Sabtu malam (26/9/2026).
Rangkaian kegiatan HUT ke-5 AMSI Kepri ini diharapkan tidak hanya menjadi momentum perayaan organisasi, tetapi juga memperkuat kolaborasi media, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan literasi di era digital.
Perlu diketahui anggota AMSI Kepri terdiri dari Angkaberita.id, Batampos.co.id, Ulasan.co, TribunBatam.id, Batamnews.co.id, Presmedia.id, Kepripedia.com, HarianKepri.com, Beritaibukota.com, Inikepri.com, Gurindam.id, dan Mejaredaksi.co.id.
Penulis:Presmedia
Editor :Redaksi
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com











