
PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang- Pedagang dan pembuat tahu dan tempe (Tatem) di Tanjungpinang menjerit akibat kenaikan harga kedelai yang saat ini meroket.
Dari pantuan dipasaran, Harga Kedelai saat ini mencapai Rp565 ribu per karung 50 Kg itu artinya sama dengan Rp11.300 per kilo gram. Harga ini, naik Rp1.300 per kilo, jika dibandingkan dengan harga 2021 yang hanya Rp10,00 per kilo gram.
Ganis Tamam Rizaldi, salah seorang pembuat Tempe di Batu Hitam Tanjungpinang mengatakan, kenaikan harga kedelai yang terjadi beberapa bulan ini membat usahanya kesulitan mencai bahan baku.
Kendati saat ini Kedelai masih ditemukan dipasaran, namun haraganya mengalami klenaikan.
“Hargan Kedelai saat ini sudah naikan hingga ada yang hingga Rp5 ribu per kilo. Memang kenaikanya tidak sekaligus. Dan hal ini membuat kami bingung menjaual hasil produk Tempe dan tahu yang kami buat,” ujarnya Senin(21/2/2022).
Dengan keniakan harga Kedelai Rp5.00 per kilo saat ini lanjut Ganis, menjadi harga tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Dengan kondisi itu, Ganis bersama komunitas pengerajin tahu dan Tempe di Tanjungpinang khwatir susah untuk melanjutkan usahanya.
“Kalau bahan baku Kedelai ini naik terus, tentu kami akan merugi kalau menjual tempe dan tahu dengan harga biasa,” ujarnya.
Saat ini, sebut Ganis, beberapa pembuat tahu juga sudah ada yang memilih menaikan harga jual tahu dan Tempe, Sementara pengusaha lain ada yang masih bertahan dengan mengurangi ukuran produksi olhan tempenya dari yang biasa.
“Kalau Saya tidak berani menaikkan harga, hanya mengurangi ukuran saja, kira-kira 5 persen dari ukuran semula,” paparnya
Terpisah, Kepala Pusat Pengkajian Perdagangan Dalam Negeri di Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan, Dharmayugo Hermansyah, juga membenarkan terjadinya kenaikan harga Kedelai itu.
Hal itu katanya, disebebkan terjadinya kenaikan harga Kedelai Internasional yang terjadi saat ini. Hal ini lanjutnya, juga menjadi penyebab distributor Kedelai tidak dapat menyeimbangkan harga jualnya, sehingga berdampak pada para pengrajin tahu-tempe.
“Ya karena memang harga internasional kedelai sudah cenderung naik. Distributor mungkin tidak bisa mengantisipasi,” ucapnya saat melakukan pengecekan stok Minyak Goreng di Tanjungpinang beberapa waktu lalu.
Atas kenaikan ini lanjut Dharmayugo, pemerintah akan segera melakukan sosialisasi, hingga distributor dan pengrajin tau tempe di Tanah air dapat mengantisipasi.
“Memang dampaknya akan dirsakan kepengerajin tahu tempe. Oleh karena itu, mereka harus tau kota impor harga internasional. Hingga mereka juga bisa mengantisipasi,” pungkaanya.
Penulis:Redaksi
Editor :Redaksi











