
Catatan Penting:
Semua “Syair Nasihat Lama” dalam cerita ini adalah karya fiksi yang terinspirasi dari gaya sastra lama Nusantara. Ini bukan karya asli, bukan parodi karya sakral, melainkan sekadar gaya bercerita buat memperkuat nuansa.
Cerita ini adalah satire fiksi tentang perilaku politisi universal, bukan tentang individu, lembaga, atau budaya spesifik. Semua nama, tempat, dan peristiwa adalah fiksi. Jika ada kemiripan dengan kenyataan, itu kebetulan yang tidak disengaja.
Di Kota yang Lupa Cara Menolak
Syair Nasihat Lama berkata: Barang siapa memegang kekuasaan, lalu lupa pada janji, maka rakyat akan menelannya.
Bukan aneh dalam artian dia pakai baju terbalik atau makan nasi pakai garpu. Anehnya lebih halus dari itu. Dia ini pemimpin yang pakai kacamata bifokal. Lensa kiri buat ngelihat ke belakang, ke masa lalu waktu dia masih “murni”. Lensa kanan buat ngelihat ke depan, ke masa kini waktu dia berdiri di panggung kekuasaan.
Lucunya, dua lensa itu nggak pernah fokus ke benda yang sama.
Kota itu namanya Kota Bayangan. Kota yang katanya dijaga ketat dari serbuan warung-warung modern raksasa. Kota yang pernah bersumpah keras: “Nggak ada Warung Modern Biru, nggak ada Warung Modern Merah, yang bakal buka di sini!”
Sumpah itu indah. Sumpah itu lantang.
Sumpah itu, kayak kebanyakan sumpah di negeri ini, akhirnya cuma jadi tinta yang mengering di atas kertas. Nunggu hari buat dilanggar dengan cara yang elegan.
Si Pemimpin Bifokal ini sebenernya bukan penjahat. Dia bukan koruptor yang nggelapin uang rakyat. Dia bukan preman yang malakin pedagang kecil.
Dia cuma seorang politisi. Spesies yang paling berbahaya di muka bumi, kalau dipikir-pikir. Soalnya dia bisa hancurin prinsip tanpa pernah ngerasa bersalah.
Dia mulai kariernya sebagai penjaga gerbang.
Dia akhiri kariernya, ya setidaknya buat saat ini, sebagai tuan rumah yang nyambut tamu yang dulu dia kutuk habis-habisan.
Dan di antara keduanya, ada dua belas tahun yang penuh keajaiban. Keajaiban gimana caranya seorang pria bisa nolak sesuatu selama sepuluh tahun, terus ngeresmikan sesuatu yang sama persis dalam satu acara yang disaksikan kamera.
Kisah ini sebenernya bukan tentang Si Pemimpin Bifokal.
Kisah ini tentang kita semua. Tentang gimana kita bisa ketipu sama kata-kata, sama angka, sama pita merah yang dipotong pake gunting emas.
Kisah ini tentang gimana sebuah kota yang pernah bangga nolak, akhirnya belajar cara nerima sambil senyum.
Dan Si Pemimpin Bifokal? Dia cuma alat. Alat yang sempurna. Alat yang nunjukin bahwa di negeri ini, prinsip itu bukan sesuatu yang dipegang teguh.
Prinsip itu cuma sesuatu yang ditunda sampai waktunya tepat buat dijual.
Yaudah, mari kita mulai.
Bersambung ke Sesi 2: Era Pertama, Ketika Stempel “Tolak” Masih Berat di Tangan












