
Syair Nasihat Lama berkata: Barang siapa memegang stempel, lalu lupa pada sumpah, maka tinta akan mengering di tangannya.
Dua belas tahun lalu, Si Pemimpin Bifokal ini masih muda. Masih tegak. Masih percaya kalau kata “tidak” itu kata yang sakral.
Dia berdiri di kantor lama, natap kota dengan tatapan seorang penjaga yang nggak bakal tidur. Di tangannya, stempel besar bertuliskan “TOLAK”.
Stempel itu berat. Bukan karena kayu atau logamnya. Tapi karena makna di baliknya.
Suatu hari, datenglah utusan dari Warung Modern Biru. Jaringan warung modern raksasa yang gerainya udah ada di hampir setiap sudut negeri ini. Mereka bawa proposal tebal, isi janji-janji manis: lapangan kerja, kemudahan akses, harga murah.
Si Pemimpin muda natap mereka. Natap proposal mereka. Natap senyum mereka.
Terus dia natap ke belakang, ke arah jalan tempat ratusan warung kecil, toko kelontong, dan pedagang berjajar.
Dia angkat stempel.
“TOLAK!”
Suaranya menggema. Bukan cuma di ruang rapat. Tapi di seluruh kota.
Rakyat bersorak. Pedagang nangis haru. Anak-anak sekolah diajarin buat nggambar Si Pemimpin sebagai pahlawan.
Minggu berikutnya, datenglah utusan dari Warung Modern Merah. Saudara kembar Warung Modern Biru, seragamnya beda tapi niatnya sama. Mereka bawa proposal yang lebih tebal, janji yang lebih manis, senyum yang lebih lebar.
Si Pemimpin angkat stempel lagi.
“TOLAK!”
Kali ini suaranya lebih keras. Kali ini rakyat lebih histeris.
Ada yang bikin pantun buat muji dia. Pantun itu indah. Pantun itu tulus.
Pantun itu, kayak kebanyakan pantun pujian di negeri ini, akhirnya cuma jadi kenangan yang pahit waktu sang pujian berubah jadi pengkhianatan.
Tapi buat saat itu, Si Pemimpin Bifokal adalah pahlawan. Dia penjaga gerbang. Dia pemimpin yang nggak bakal pernah jual prinsipnya.
Dia bahkan bersumpah di hadapan rakyat:
“Selama aku pegang stempel ini, nggak ada warung modern yang bakal buka. Selama aku hidup, kota ini bakal tetap milik warga kecil.”
Sumpah itu indah. Sumpah itu tulus.
Sumpah itu sekarang kerasa kayak batu yang neken paru-paru siapa aja yang masih inget.
Tapi buat saat itu, nggak ada yang inget. Atau lebih tepatnya, nggak ada yang mau inget.
Soalnya lebih gampang jadi pahlawan daripada jadi saksi.
Bersambung ke Sesi 3: Era Legislatif – Ketika Berteriak Lebih Gampang daripada Bertindak












