
PRESMEDIA.ID, Jakarta – Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menyatakan, sebanyak 7.931 orang Guru dinyatakan lulus program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan V.
Program pendidikan guru penggerak ini dilaksanakan selama 6 bulan dan selesai dilaksanakan pada Desember 2022 lalu,
Program Pendidikan Guru Penggerak, bertujuan agar para guru dapat menggerakan komunitas belajar di sekitarnya dalam mewujudkan Merdeka Belajar bagi peserta didik.
Koordinator Pokja Program Guru Penggerak (PGP), Kasiman, mewakili Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan (KSTPK), melaporkan, program PGP adalah program pengembangan keprofesian Guru berkelanjutan melalui pelatihan dan pendampingan yang berfokus pada kepemimpinan pembelajaran.
“Program ini memberikan bekal kemampuan, kepemimpinan, pembelajaran dan pedagogi kepada guru, sehingga mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar sekolah serta berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan sekolahnya masing-masing,†kata Kasiman, dikutip dari laman kemendikbudristek.go.id, Sabtu (4/2/2023).
Ia melanjutkan, jumlah Calon Guru Penggerak yang melakukan registrasi pada angkatan 5 program itu, mulanya sebanyak 8.105 orang. Para guru tersebut berasal dari 189 Kabupaten Kota di 33 Provinsi di Indonesia.
“Kemudian selama masa pendidikan, terdapat 121 orang yang tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai alasan. Peserta aktif yang mengikuti Pendidikan Guru Penggerak sampai selesai, hanya sebanyak 7.943 orang, Namun berdasarkan hasil pleno, Kelulusan PGP Angkatan 5 ini ditetapkan sebanyak 7.931 orang,” ujarnya.
PGP angkatan 5 didesain menggunakan pendekatan andragogi dan blended learning selama 6 (enam) bulan. Tujuannya, untuk mendukung hasil belajar yang implementatif berbasis lapangan.
“Untuk itu, 70 persen kegiatan dilakukan dalam bentuk on-the-job training di mana guru sebagai peserta PGP tetap bertugas mengajar dan menggerakkan komunitas di sekolah,” sebutnya.
Selanjutnya, 20 persen kegiatan, dirancang dalam bentuk kegiatan belajar bersama rekan sejawat, dan 10 persen lainnyan dilakukan dalam bentuk pembelajaran bersama narasumber, fasilitator, dan pendamping.
Pada program pendidikan guru penggerak angkatan ke V dibagi dalam tiga kategori, yaitu PGP Reguler sebanyak 7.690 orang, PGP Daerah Khusus sebanyak 143 orang dan PGP Rekognisi sebanyak 98 orang.
Adapun PGP Daerah Khusus, dilaksanakan untuk menjangkau guru-guru terbaik di daerah, khususnya yang memiliki keterbatasan akses komunikasi, transportasi, dan infrastruktur.
Sedangkan PGP Rekognisi adalah kategori khusus bagi para peserta yang sebelumnya berperan sebagai Pengajar Praktik dan kemudian lolos menjadi Guru Penggerak.
(Plt.) Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud Ristek Nunuk Suryani, berharap agar Guru Penggerak yang sudah melalui pendidikan itu, dapat menjadi pemimpin pendidikan yang menjadikan kebutuhan murid sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakannya baik sebagai Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, atau bentuk kepemimpinan pendidikan lainnya.
Dengan bekal kepemimpinan selama proses pendidikan kata Nunuk, diharapakan Guru Penggerak dapat menggerakkan ekosistem pendidikan di dalam sekolah dan juga di wilayah kabupaten/kota masing-masing. Selain itu, bersama rekan-rekan seperjuangan, bersama-sama membangun pendidikan Indonesia.
“Para Guru Penggerak bisa saling bersinergi dan berkolaborasi satu sama lain. Saya menunggu cerita-cerita inspiratif tentang praktik baik Guru Penggerak dari daerah masing-masing,†tutupnya.
Penulis:Presmedia
Editor  :Redaktur













