Indonesia dan AS Sepakat Selesaikan Perundingan Tarif Perdagangan

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers usai menghadiri rapat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (27/02/2024). (Foto: Humas Setkab/Agung)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers usai menghadiri rapat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (27/02/2024). (Foto: Humas Setkab/Agung)

PRESMEDIA.ID– Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat menyelesaikan perundingan tarif perdagangan bilateral dalam jangka waktu 60 hari ke depan.

Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan delegasi Indonesia dengan United States Trade Representative (USTR) dan Departemen Perdagangan AS di Washington, DC, Kamis (17/4/2025).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan, Indonesia dan AS, telah menetapkan kerangka kerja dan format perundingan untuk mempercepat penyelesaian isu tarif yang selama ini menimbulkan ketegangan dalam hubungan dagang bilateral.

“Format dan acuannya sudah disepakati. Akan ada pertemuan lanjutan dalam satu hingga tiga putaran, dengan target finalisasi kesepakatan dalam 60 hari,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Washington, seperti dikutip dari infopublik.id.

Perundingan ini, merupakan respons langsung dari Indonesia terhadap kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh pemerintah AS dalam pengenaan tambahan bea masuk sebesar 10% terhadap sejumlah produk ekspor utama Indonesia.

Sejumlah produk Indonesia yang terkena tarif ini adalah,   Garmen, Alas kaki, Tekstil, Furnitur dan Udang.

Airlangga juga mengatakan, kenaikan tarif tersebut menyebabkan total bea masuk terhadap produk Indonesia melonjak hingga 47%, jauh lebih tinggi dibanding tarif yang dikenakan pada produk dari negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand.

“Kondisi ini sangat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia. Bahkan beberapa pembeli meminta negosiasi ulang atas beban tambahan ini,” jelas Airlangga.

Indonesia Tawarkan Proposal Komprehensif kepada AS

Untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak, pemerintah Indonesia telah mengajukan proposal komprehensif yang mencakup, peningkatan pembelian energi dari AS, seperti LNG dan minyak mentah Komitmen impor produk agrikultur dari AS, termasuk gandum, Peningkatan impor barang modal dan produk hortikultura.

Kesepakatan lainya juga diatur mengenai dukungan terhadap investasi perusahaan AS di Indonesia, Kerja sama dalam sektor mineral kritis, serta pengembangan SDM di bidang STEM, ekonomi digital, dan layanan keuangan.

“Kami berharap proposal ini menjadi solusi win-win bagi kedua negara, sehingga hubungan dagang Indonesia-AS kembali stabil dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” tutup Airlangga.

Penulis:Presmedia
Editor :Redaksi