
PRESMEDIA.ID, Tanjungpinang – Sejarawan dan Budayawan provinsi Kepri, Raja Malik Bin Raja Hamzah, mengungkap sejumlah fakta sejarah Kerajaan Melayu Kepri, mengenai pengakuan sejumlah pihak sebagai keturunan Hang Tuah dari Bintan.
Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat, Kepulauan Riau ini, melalui sebuah video dan sekaligus dari data yang diketahuinya, melalui khazanah intelektual dalam bentuk kitab-kitab lama, jurnal dan lain yang disimpan dan koleksinya.
Raja Malik mengatakan, berbagai peninggalan sejarah berupa khazanah intelektual dalam bentuk kitab-kitab lama itu, hingga saat ini masih tersimpan rapi dan banyak dijadikan oleh berbagai kalangan sebagai sumber dan rujukan ketika orang ingin mengkaji tentang sejarah dan budaya Melayu Kepri.
Di awal ceritanya, Raja malik menyebut, beberapa hari lalu dia pernah membaca tajuk pemberitaan di beberapa media sosial tentang beberapa pihak orang yang mengaku sebagai pewaris waris Hang Tuah yang berasal dari Bintan, demikian juga tentang keberadaan makam Hang Tuang di Bintan.
Bahkan kata Raja Malik, Ia mendapatkan maklumat tentang barang-barang dan senjata yang dikatakan adalah peninggalan Hang Tuah yang ada di Bintan.
“Oleh karena itu, saya perlu memberikan sedikit penjelasan yang mungkin boleh dipakai untuk pertimbangan dan kajian riset selanjutnya,” kata waris ke tujuh Raja Haji Fisabilillah ini.
Ketua Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat ini juga menyebut, Dua tahun lalu dia pernah diajak oleh rekan akrabnya bernama Muhammad Amin yang tinggal di Bintan, membuat video tentang keberadaan makam Hang Tuah di Bintan, dan sekarang mengaku sebagai waris ke-11 Hang Tuah Bintan.
“Saya diajak berziarah ke makam yang dikatakan sebagai makam Hang Tuah. Pengetahuan saya saat itu sangat minim tentang itu, boleh dikatakan tidak ada, karena semasa kecil sekitar 7 sampai 8 tahun, saya juga sering dibawa almarhum ayah saya Almarhum Raja Hamzah Yunus melakukan ziarah ke Bintan atau kadang-kadang pergi ke orang-orang untuk bertanya tentang sejarah,” ujar Raja Malik.
Ketika itu Raja Malik mengaku, tidak pernah mendapatkan maklumat atau informasi tentang keberadaan makam Hang Tuah tersebut.
“Kemudian saya membuat video, ketika itu adalah untuk mengulas kebenaran fakta sejarah yang dikatakan M.Amin dan masyarakat sekitarnya dan itulah video yang sekarang beredar dimana-mana,” ujarnya.
Raja Malik juga mengatakan, setelah pulang berziarah dari makam Hang Tuah waktu itu, Ia tidak berpuas hati, hingga akhirnya dia melakukan penyelidikan sendiri tentang keberadaan makam Hang Tuah yang katanya di Bintan.
Setelah melakukan kajian dan penelitian, kemudian berdasarkan beberapa sumber, ia lantas mengambil kesimpulan, bahwa makam Hang Tuah yang sekarang katanya berada di Bintan sumbernya hanya dari beberapa orang saja.
“Kita menguji kebenaran informasi tersebut dengan masyarakat sekeliling, mereka bahkan tidak mengetahuinya, Artinya, maklumat itu bukanlah memori kolektif masyarakat Bintan, tetapi hanya diceritakan beberapa orang saja,” ungkapnya.
Kemudian Raja Malik menyebutkan membaca laporan penelitian ilmiah yang pernah dilakukan di pulau Bintan, Misalnya, buku Tufat Al Nafis Raja Ali Haji, Buku Belanda di Johor dan Siak, kemudian ada penelitian ilmiah yang dilakukan Muhammad Affan sekitar tahun 1943 yang memberikan maklumat cukup lengkap tentang Bintan, baik tentang masyarakatnya, suku-suku maupun sejarahnya.
Selanjutnya, ada juga penelitian Arkeologis yang dilakukan oleh Badan Arkeologi Nasional pada tahun 1980, sedangkan yang dilakukan mister Muhammad Affan judulnya Distrik Van Bintan, kemudian ada lagi penelitian yang dilakukan Dr.Vivien Lee, dari Singapura tahun 1983 dan kajian-kajian ilmiah lain yang berhasil dikumpulkan.
“Dari sekian banyak riset dan penelitian itu, tidak ada satupun yang melaporkan bahwa ada wujud makam Hang Tuah di Bintan,” sebutnya lagi.

Namun lanjut Raja Hamzah, di antara narasumber, informan utama penelitian tadi adalah seorang yang bernama Bidin atau Penghulu Bidin.
Penghulu Bidin ini adalah kerabat dekat Muhammad Amin yang sekarang mengaku sebagai pewaris Hang Tuah ke-11 dari Bintan.
“Pak Bidin ini pernah mengatakan dalam wawancara, yang mana transkripnya saya pegang, ketika itu ditanyakan tentang Hang Tuah, beliau menjawab “Menurut orang-orang tua, Hang Tuah berasal dari Bintan, tapi dia tidak mengetahui dimana makamnya dan anak cucunya, ini jawaban Pak Bidin sekitar tahun 1981 silam,” kata Raja Malik.
Berdasarkan kajian tersebut Raja hamzah berkesimpulan, makam Hang Tuah itu hanyalah cerita yang baru timbul sampai 10 tahun terakhir. Kemudian, dipublikasi oleh saudara Amin dan kawan-kawan.
“Hal itu menurut hemat saya, perlu melalui kajian lebih mendalam, kajian yang lebih menyeluruh sehingga kita tidak boleh memutuskan satu pendapat yang salah,” ujarnya.
Raja Malik menyampaikan, Ia khawatir, seandainya makam Hang Tuah yang diklaim di Bintan ternyata salah dan tidak benar, maka akan membuat malu Bintan, membuat malu Kepulauan Riau dan bahkan Indonesia.
Kemudian lanjutnya, ada lagi yang berkaitan dengan kawannya bernama Muhammad Aminyang dan saat ini namanya berubah menjadi Tun Muhammad Amin. Juga mengaku sebagai waris Hang Tuah ke-11 dari pada Bintan.
Namun menurutnya, hal ini pun muskil juga dan atas hal itu, Ia meminta, agar hendaknya berhati-hati, dan hendaklah melakukan kajian lebih mendalam dan menyeluruh, baru mempercayai tentang siapa mengaku siapa.
Raja Malik juga menyampaikan, seandainya ada orang Bintan mengaku waris Hang Tuah, maka harus bisa menunjukkan bukti dalam bentuk silsilah yang sahi, sebagai perbandingan.
“Saya sebagai Raja Malik Bin Raja Hamzah adalah waris ketujuh daripada Raja Haji Fisabilillah yang makamnya ada di pulau Penyengat. Saudara saya, kakak saya yang juga adalah waris ketujuh sudah mempunyai cucu. Artinya, sudah wujud keturunan Raja Haji Fisabilillah waris ke sembilan, bahkan ke sepuluh,” jelasnya.
Raja Malik selanjutnya menyatakan, jarak tahun kehidupan Raja Haji dengan masa saat ini tidak sampai 300 tahun. Kalau dihitung dari tahun kematian Raja Haji 1784, maka hanyalah berkisar 246 tahun, sudah ada generasi ke 10.
“Bayangkan Hang Tuah yang masa hidupnya diperkirakan hampir 600 tahun lalu, orang mengklaim bahwa mereka adalah waris ke 11, hal ini mesti dilakukan kajian lebih menyeluruh,”saranya.
Raja Malik kemudian mengatakan, ada lagi satu hal tentang barang-barang pusaka yang didatangkan dari pada Bintan sebagai barang-barang milik Hang Tuah. Kemudian, sejumlah barang itu viral dimana-mana.
Namun mengenai kebenaran dan keaslian sejumlah barang sejarah tersebut-pun, menurutnya, perlu dukajian juga secara menyeluruh dan mendalam.
“Karena dua barang keris yang kuning itu, saya tahu siapa pemiliknya, dan saya pun sering memegangnya di Tanjungpinang, Saya pun sering melihatnya. Ketika saya bertanya dulu bukan Hang Tuah yang punya, tapi sekarang informasinya barang itu pun sudah berubah menjadi milik Hang Tuah,” kata Raja Malik.
Sundang Bugis Berubah Juga Milik Hang Tuah
Kemudian ada satu Sundang Bugis yang dikatakan juga milik Hang Tuah. Sebenarnya Sundang itu ada dua, satu Sundang Jantan dan satu lagi Betina. Terhadap dua Sudang itu, Raja Malik mengaku, juga pernah melihatnya.
“Bahkan ada kawan yang pernah membuat videonya, satu dibawa ke Malaka dan satu lagi masih tersimpan di Bintan,” ujarnya.
Raja Malik menyebut, maklumat yang diberikan kepada keluarganya dulu, Sundang itu adalah turun temurun dari datuk moyangnya yang dirampas dari lanon, bahkan itupun sudah berubah menjadi Sundang milik Hang Tuah.
Terakhir Raja Malik bin Raja Hamzah mengatakan, tanggapan dan penjelasanya di dalam video yang dibuat tidak ada kepentingan untuk menggagalkan atau tidak suka dengan pihak lain maupun seseorang. Tetapi, tujuannya membuat video kasian sejarah itu adalah semata-mata untuk menegakkan fakta sejarah yang lebih penting daripada hal-hal lain.
“Misalnya mencari popularitas atau untuk mencari uang. Fakta sejarah jauh lebih penting diatas itu semua dan itu merupakan tanggung jawab kita semua. Semoga kita tidak mengidap amnesia sejarah, yaitu orang yang lupa dengan masa lalu, hanya akan menjadi sejarawan dan budayawan yang gagap,” sebutnya.
Penulis: Abdul Hamid
Editor : Redaksi








