Seremoni Emas, Realita Kelabu, Jejak Janji yang Tak Pernah Ditepati

Nyanyian Pilu di Terminal 3, Ketika Mimpi Manokwari Rontok di Soetta

Penampilan kontingen Pesparawi Kepri di bandara Soekarno-Hatta usai gagal berangkat ke Manokwari
Penampilan kontingen Pesparawi Kepri di bandara Soekarno-Hatta usai gagal berangkat ke Manokwari

PRESMEDIA.IDSembilan hari sebelum tragedi penelantaran di Bandara Soekarno-Hatta, suasana justru dipenuhi gegap gempita dan harapan tinggi. Pada Selasa, 16 Juni 2026, Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Dr. Nyanyang Haris Pratamura, secara resmi melepas Kontingen Pesparawi Kepri menuju Manokwari dalam sebuah prosesi megah di Golden Prawn, Batam.

Seremoni Megah yang Berujung Ironi
Acara pelepasan itu berlangsung khidmat dan dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, tokoh agama, pembina, pelatih, official, serta para kontingen yang akan berlaga. Dalam sambutannya, Wagub Nyanyang menyatakan optimistis bahwa kontingen Kepri akan meraih prestasi di tingkat nasional.

“Target kita harumkan nama daerah di tingkat nasional,” ujar Wagub dalam sambutannya yang penuh semangat.

Para peserta PSW Tanjungpinang yang hadir dalam acara itu masih ingat betul bagaimana mereka difoto bersama, mengenakan seragam kebanggaan, dengan senyum lebar di wajah. Mereka merasa dihargai. Mereka merasa didukung penuh oleh pemerintah provinsi. Mereka yakin bahwa semua persiapan sudah matang.

Ketua LPPD Kepri, Jumaga Nadeak, turut mendampingi Wagub dalam acara pelepasan tersebut. Keduanya tampak optimis dan percaya diri menghadapi ajang nasional yang dijadwalkan berlangsung 20-28 Juni 2026.

Kontras yang Menyakitkan
Bayangkan kontras antara seremoni megah di Golden Prawn dengan realita yang terjadi sembilan hari kemudian di Terminal 3 Soekarno-Hatta. Di satu sisi, ada janji-janji manis untuk “mengharumkan nama daerah”. Di sisi lain, ada 27 ibu-ibu lansia yang terlantar tanpa tiket yang valid, dipindah-pindahkan terminal tanpa pendampingan, dan akhirnya harus pulang dengan tangan hampa.

“Kami datang ke acara pelepasan dengan penuh harapan. Kami percaya pemerintah provinsi sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Ternyata itu semua hanya seremoni belaka,” ujar salah satu peserta dengan nada getir.

Foto-foto saat pelepasan di Golden Prawn kini menjadi pengingat pahit. Di foto itu, mereka tersenyum lebar, tidak tahu bahwa sembilan hari kemudian mereka akan menangis di terminal bandara, menyeret koper berat mereka sendiri, dan bernyanyi spontan sebagai bentuk protes terakhir.

Janji yang Tak Tepati
Yang membuat semakin sakit adalah fakta bahwa acara pelepasan itu menandakan bahwa anggaran seharusnya sudah siap. Seremoni tingkat provinsi ini seharusnya menjadi jaminan bahwa semua kebutuhan kontingen sudah terpenuhi, termasuk tiket pesawat.

Namun, realita di lapangan berkata lain. Meski anggaran sudah dialokasikan dan seremoni pelepasan sudah dilakukan, tiket Jakarta-Manokwari yang diterima peserta ternyata belum lunas dibayar ke maskapai. Status booking yang tidak diterbitkan menjadi tiket resmi menyebabkan ratusan juta rupiah dana hibah seolah menguap tanpa kejelasan.

“Kalau memang tiket belum siap, kenapa acara pelepasan tetap dilakukan? Kenapa kami diberi harapan palsu?” tanya Ria Ukur Tondang, Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, dengan nada pilu.

Dukungan yang Ternyata Semu
Dalam acara pelepasan itu, Wagub Nyanyang juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung persiapan kontingen. Ia meminta para peserta untuk menunjukkan sikap yang baik dan menjadi duta daerah yang membanggakan.

Tapi bagaimana bisa menjadi duta daerah yang membanggakan jika bahkan tiket pesawat saja tidak bisa diurus dengan benar? Bagaimana bisa mengharumkan nama daerah jika yang terjadi justru memalukan nama daerah di tingkat nasional?

“Kami ingin menjadi duta daerah yang membanggakan. Tapi kami bahkan tidak sampai ke panggung kompetisi. Kami hanya sampai ke Terminal 3 Soekarno-Hatta, lalu pulang dengan tangan hampa,” tulis salah satu peserta di media sosial.

Refleksi: Antara Seremoni dan Realita
Kasus ini menjadi refleksi penting tentang makna sebuah seremoni. Apakah pelepasan kontingen hanya sekadar formalitas? Apakah foto bersama pejabat dan pidato penuh semangat sudah cukup untuk menjamin kesuksesan sebuah kontingen?

Ternyata tidak. Yang dibutuhkan bukan seremoni megah, tapi komitmen nyata untuk memastikan setiap kebutuhan kontingen terpenuhi. Yang dibutuhkan bukan janji-janji manis, tapi tindakan konkret untuk membeli tiket yang valid.

“Kami tidak butuh seremoni megah. Kami butuh tiket yang valid. Kami butuh pendampingan yang memadai. Kami butuh dihargai sebagai manusia, bukan sekadar objek foto untuk pencitraan pejabat,” tegas Ria.

Kini, seremoni di Golden Prawn itu hanya tinggal kenangan pahit. Foto-foto yang seharusnya menjadi dokumentasi kebanggaan, kini menjadi bukti ironi antara janji dan realita.

Bagian 2

Penulis:Tim Presmedia
Editor :Redaksi

Jika ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan oleh pemberitaan di atas, Anda dapat mengirimkan sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com