
PRESMEDIA.ID – Alun vokal itu akhirnya kembali terdengar di sebuah ruang latihan gereja di Tanjungpinang. Nadanya memang belum sekeras dulu, namun kini terdengar jauh lebih tegas dan penuh keyakinan.
Ini adalah suara 27 perempuan anggota PSW yang menolak bungkam oleh skandal tiket fiktif. Mereka yang sempat menangis di Terminal 3 Soekarno-Hatta, kini berdiri tegak menuntut pertanggungjawaban hukum.
Mengubah Air Mata Menjadi Perlawanan
Cerita di bandara memang dimulai dengan keputusasaan, tetapi para korban menolak ceritanya berakhir di sana. Alih-alih meratapi nasib, keteguhan mereka bersama Lembaga Aras Gereja Kepri sukses menyeret kasus ini ke ranah hukum.
Kini, laporan resmi telah bergulir di Ditreskrimum Polda Kepri guna mengusut tuntas aliran dana ke pihak travel dan oknum terkait. “Kami ingin sistem ini belajar bahwa rakyat kecil tidak bisa dipermainkan,” ujar salah satu peserta bangga.
Solidaritas yang Membakar Semangat
Hal paling berharga dari tragedi ini adalah lahirnya gelombang solidaritas publik yang luar biasa masif. Video nyanyian spontan mereka di Terminal 3 viral dan memicu simpati komunitas paduan suara se-Indonesia.
Dukungan tersebut menjadi bahan bakar utama bagi para korban untuk memulihkan harga diri yang sempat diinjak. Kegagalan terbang ke Manokwari tidak sedikit pun mengurangi kehormatan mereka di mata publik.
Kostum Cerah dan Mimpi yang Enggan Mati
Kostum megah yang disiapkan selama dua tahun kini tidak lagi disimpan sebagai simbol kegagalan. Bagi mereka, kain-kain cerah itu adalah bukti dedikasi yang tidak bisa dirampas oleh oknum mana pun.
“Panggung Manokwari mungkin ditutup oleh keserakahan, tetapi Tuhan pasti membuka panggung lain yang jauh lebih besar,” tegas mereka.
Epilog: Kemenangan Sejati di Luar Panggung
Skandal ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bagi tata kelola birokrasi anggaran hibah di Kepri. Di balik setiap seremoni pelepasan pejabat, ada keringat dan martabat manusia yang wajib dijaga.
Tiket penerbangan yang diberikan kepada mereka memang terbukti bodong dan fiktif. Namun, suara perlawanan yang mereka gaungkan dari bandara hingga ke meja penyidik sangat nyata dan tak bisa dibeli.
Kalian memang pulang ke Tanjungpinang tanpa membawa pulang piala dari Papua Barat. Namun, kalian pulang dengan kepala tegak dan harga diri yang utuh, dan itulah kemenangan sejati yang sesungguhnya.
Bagian 6
Penulis:Tim Presmedia
Editor :Redaksi











